BANDUNG – Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Badan Geologi Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menjelaskan soal longsor yang terjadi di Kampung Hegarmanah RT 02 RW 04, Desa Sukatani, Kecamatan Ngamprah, Kabupaten Bandung Barat, atau di lereng tol Cipularang KM 118+600B .
Kepala PVMBG Kasbani menjelaskan titik longsor berada pada ketinggian 755 meter di bawah permukaan laut. Gerakan tanah bertipe longsoran yang berkembang menjadi aliran bahan rombakan dan aliran tanah.
Dia mengatakan, longsor disebabkan beberapa faktor. Mulai dari tanah pelapukan yang tebal dan memiliki porositas dan permeabilitas tinggi, kemiringan lereng yang curam atau lebih dari 20 derajat, sistem drainase yang tidak berfungsi dan tata guna lahan yang berupa lahan basah atau adanya persawahan.
“Genangan air yang berada di utara seluas 4.079 meter persegi, yang mengakibatkan munculnya mata air atau rembesan baru di badan jalan tol sebelah selatan menjadi pemicu terjadinya gerakan tanah,” katanya.
Sebelum longsor pada 11 Februari, kata dia, sempat ada kejadian longsor 2019 di bagian utara jalan tol yang menyebabkan saluran tersumbat sehingga menimbulkan terjadinya genangan air.
Rembesan dari genangan air inilah yang mengakibatkan meningkatnya muka air tanah dan tekanan pori sehingga tahanan lereng menjadi lemah.
“Hal ini membuat kondisi tanah dan batuan menjadi jenuh air yang menyebabkan bobot masanya bertambah dan kuat gesernya menurun, tanah tidak stabil dan mudah bergerak,” tuturnya.
Dia menambahkan, seperti dilansir CNNIndonesia, kondisi tanah yang jenuh air memperlihatkan mekanisme pergerakan tanah mulai bergerak pada bagian bawah yang kemudian menarik lereng bagian atasnya atau lereng selatan badan jalan tol.
Kasbani menyimpulkan bahwa gerakan tanah yang terjadi bertipe longsoran aliran tanah. “Daerah ini masih berpotensi untuk bergerak baik longsoran tipe cepat maupun longsoran tipe lambat berupa rayapan jika tidak ada mitigasi baik non struktural maupun struktural,” katanya.





