Penyakit Jantung, Pembunuh Senyap

Aktor sinetron Ashraf Sinclair (40) meninggal akibat serangan jantung, Selasa lalu (18/2). Serangan jantung dianggap pembunuh senyap, sehingga kita harus mengenali dan dan melakukan pencegahan dengan menerapkan pola hidup sehat.

KALANGAN selebriti di Indonesia baru saja kehilangan sosok aktor  cukup populer asal Malaysia, Ashraf Sinclair (40) akibat serangan jantung mendadak , Selasa lalu (18/2).

Almahrum sudah beristirahat dengan damai di pemakaman San Diego Hill, Karawang, Jawa Barat, sementara istrinya: Bunga Citra Lestari dan  anak semata wayangnya, Noah serta keluarga besar kedua pasangan tentu masih diselimuti duka.

Bagi umat beragama, ajal adalah hak prerogatif Allah, dan kematian tidak harus urut kacang, tetapi bisa juga yang muda dulu, walau umumnya mereka yang berusia gaek sering terlebih dulu berpulang.

Dari sisi medis, tentu setiap kematian juga bisa dijelaskan penyebabnya, dan dalam kasus Ashraf, diduga kuat ia mengalami serangan jantung karena kelelahan.

Senin malam sebelumnya (17/2) setelah pulang dari penerbangan jauh (dari AS), almarhum sempat melakukan Intensif High Interval Training (IHIT) atau dikenal sebagai crossfit, olahraga dengan tempo singkat namun berimpak tinggi.

Isteri almarhum  sempat membangunkannya, Selasa, sekitar pukul 05.00 pagi, namun almarhum sudah tidak bereaksi saat dilarikan ke rumah sakit , sehingga tidak bisa dipastikan apakah ia sudah meninggal di rumah atau di perjalanan.

Banyak Korbannya

Kematian tiba-tiba akibat serangan jantung a.l tidak hanya menimpa Ashraf, tercatat sejumlah seleb berusia relatif muda seperti Mike Mohede, Ricki Johanes, Aji Masaid, Ade Namnung  serta fotografer Cecep Reza.

Itu sebabnya, selain kematian mendadak yang ditimbulkannya, serangan jantung dijuluki “pembunuh senyap” (silent killer) yang membuat para anggota keluarga, isteri-suami, sanak keluarga yang ditinggalkan belum siap menerimanya, apalagi jika yang meninggal adalah tumpuan kehidupan mereka.

Untuk mengenalinya, sumbatan aorta yang mengalirkan darah ke jantung akibat plak atau tumpukan kolesterol jahat (Low Density Cholesterol -LDC) biasanya ditandai sesak nafas, berdebar, nyeri dada kiri yang menjalar ke seluruh tubuh, keringat dingin di tangan dan kaki, pusing serta mual-mual.

Jika korban sudah pernah berobat dan masih menyimpan  obat-obat pengencer darah, relaksasi otot atau pencegah penumpukan trombocit, (anti platelet) bisa diberikan dan jika ada gejala henti jantung, bisa dilakukan restitusi, (pemberian nafas buatan) sebelum dilarikan ke RS terdekat.

Selain dengan obat-obatan yang sering diberikan pada pasien sepanjang usianya, penanganan serangan jantung juga bisa dilakukan dengan intervensi yakni pemasangan ring guna melonggarkan sumbatan di pembuluh darah, operasi “by-pass” atau dipasangi alat pacu jantung (pacemaker).

Sebanyak 15 dari 1.000 penduduk atau sekitar 2,8 juta orang tercatat sebagai penderita penyakit jantung di Indonesia pada 2018, sementara Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan di seluruh dunia sekitar 17,9 juta orang, mayoritas di negara-negara berkembang.

Penyebabnya, selain ada riwayat keturunan, sebagian besar karena  pola makan yang mengakibatkan tekanan darah tinggi akibat tumpukan kolesterol atau penyakit gula (DM), kebiasaan merokok atau minum minuman keras dan stress hidup di kota-kota besar.

Penyakit jantung juga menyumbang defisit terbesar program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN-BPJS) yang tercatat sebesar Rp28,5 triliun pada 2019 selain operasi kelahiran (sessar).

Mari praktekkan pola hidup sehat dengan makanan berkualitas,olahraga rutin dan “pola tertib-tertib” lainnya, serta jangan lupa memeriksakan diri ke dokter atau RS sebelum penyakit menyambangi.

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement