spot_img

Peran Sahabat Lama

BELAKANGAN ini kembali jadi sorotan, betapa Presiden Jokowi mengajak sahabat lamanya dalam pemerintahan. Misalnya, Panglima TNI Marsekal Hadi Cahyanto, dulu adalah Danlanud Adi Sumarmo Solo, saat Jokowi menjadi Walikota Surakata. Kapolri Listyo Sigit Prabowo, bekas Kapolresta Surakarta. Kemudian Panglima TNI Jendral Agus Subianto, dulu juga mantan Dandim Surakarta.

Hal ini juga banyak dilakukan Presiden Soeharto di masa Orde Baru dulu. Mendagri Supardjo Rustam, Gubenur DKI Tjokropranolo, adalah teman seperjuangan di masa gerilya melawan Belanda dulu. Hayono Isman diangkat jadi Menpora karena dia anak Brigjen Isman sobat lama Pak Harto. Termasuk juga Mensos Inten Suweno, dia adalah istri daripada Letjen Suweno teman lama Pak Harto juga.

Mungkin Pak Harto paling banyak mengangkat sobat lamanya. Supardjo Rustam diajak nempil kamukten (menikmati kebahagiaan) sejak menjadi Gubernur Jateng menggantikan Munadi. Karena si kurus hitam (Rustam, konon istilah dari Pak Harto) di masa revolusi itu mampu mengemban tugas, Supardjo Rustam dipercaya sampai menjadi Menko Kesra. Sebaliknya Tjokropranolo, karena DKI yang melesat pembangunannya di bawah Ali Sadikin jadi menurun prestasinya di masa Tjokropranolo, ya sudah sekali saja jadi gubernur.

Satu-satunya  kenangan di benak warga DKI ketika Bang Noly (panggilan untuk Tjokropranolo di DKI) menjabat adalah: program kerang hijau. Sebab di mana-mana beliaunya selalu bicara kerang hijau. Ada juga humor satir tentang Bang Ali dan Bang Noly ketika keduanya mengalami kecelakaan di jalan tol Jagorawi. Bagaimana kejelasan humor satir itu, tak enak dibeberkan di sini, karena keduanya juga telah almarhum.

Bahwa petinggi negara selalu mengajak teman lama, itu merupakan hal lumrah. Sebab teman lama biasanya bisa lebih dipercaya karena sudah tahu karakter sebelumnya. Dengan demikian diyakini bisa semakin memperkuat pemerintahan sekaligus kekuasaannya. Tetapi jika kekuasaan itu semakin mengkristal bahkan menjadi absolut, maka berlakulah teori Lord Acton: kekuasaan itu cenderung koruptif.

Kekuasaan itu memang enak, meski sebetulnya seperti tidur di tikar panas. Pak Harto yang mustinya menjabat 2 periode, bisa molor menjadi 7 periode (32 tahun). Ketika UU sudah diperketat pun, Presiden Jokowi pengin nambah satu periode. Pemerintahan pun mulai bergejolak, karena rakyat tak bisa menerima. Gara-gara pemegang kekuasaan telah ngemut legining gula (baca: keenakan), sehingga terjebak pada pepatah melik nggendong lali (lupa diri).

Di sinilah sebetulnya teman lama bisa berperan. Bila dia sahabat sejati, pastilah akan mengingatkan bahwa tindakan sang penguasa sudah salah, sehingga harus dikembalikan pada relnya. Tetapi jika sahabat lama itu sudah asyik pula menikmati segempil kekuasaannya, justru malah mendukung sang penguasa, karena dia takut pula kehilangan kekuasaannya. Akibatnya kemudian, dia membabi buta karena pegang prinsip: benar atau salah adalah sahabat saya.

Sekarang ini, gara-gara kekuasaan yang pinter bisa keblinger, yang jendral jadi rasa kopral, yang tumenggung mendadak jadi kacung. Merah kata pengusa,  merah pula kata sang kacung dan kopral. Padahal jika dia sahabat sejati, karena sudah susah diajak dalam kebaikan dan kebenaran, ya sudah tinggalkan saja. Ilang-ilangan endhog siji, kata pepatah Jawa. Sahabat sejati tak hanya datang di kala suka, tetapi juga hadir di kala duka. Dia akan mengingatkan sebelum terlambat.

Orang bijak juga mengatakan, mencari satu teman sejati itu lebih susah ketimbang mencari seribu musuh. Dalam kisah perwayangan bisa diambil perbandingan antara Patih Udawa yang menghamba pada raja Dwarawati Sri Bethara Kresna, dengan Patih Sengkuni patihnya Prabu Duryudana dari negeri Ngastina. Kata kidalang H. Anom Suroto, ibarat gerobak, Udawa siap jadi pengganjal roda ketika gerobak Prabu Kresna hendak melorot. Tetapi ketika gerobak sudah jalan normal, pengganjal roda itu dinaikkan kembali ke dalam gerobak.

Beda dengan Patih Sengkuni. Meski Prabu Duryudana di jalan yang salah, tidak mau mengingatkan, justru tetap didorong. Bahkan sering pula terjadi, demi mengamankan kekuasaannya, Patih Sengkunilah malah menjadi inisiator kejahatan tersebut. (Cantrik Metaram)

spot_img

Related Articles

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here


spot_img

Latest Articles