UNI EROPA (UE) kembali ketar-ketir menantikan hasil pilpres putaran pertama Perancis, Minggu 23 April jika sampai dimenangi oleh tokoh ektrim kanan dari Front Nasional (FN) Marine le Pen yang anti terhadap perhimpunan negara-negara Eropa itu memenanginya.
Menurut sejumlah jajak pendapat, le Pen dan calon independen Immanuel Macron bertengger di peringkat atas dengan perolehan suara antara 23 sampai 24 persen, atau terpaut selisih suara hanya empat atau lima persen saja dari calon lain, Francois Fillon dari Partai Republik dan Jean-Luc Melenchon dari kubu ekstrim kiri.
Dua calon dengan perolehan suara tertinggi, selanjutnya akan melaju ke babak putaran kedua pemilu presiden yang digelar pada 7 Mei.
Le Pen mengajak warga calon pemilih untuk mengembalikan identitas Perancis dengan mengikuti jejak Inggeris keluar dari UE (Brexit) , menolak kedatangan imigran dan mengawasi perbatasan (dengan negara-negara UE-red) secara ketat.
Sebaliknya, Macron, pendukung UE, menuduh le Pen berniat mengucilkan Perancis seperti yang dilakukan oleh Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin.
“Kita merasakan bangkitnya barbarisme dalam wujud lain sehingga tidak akan membiarkannya. , “ kata Macron.
Kemenangan Donald Trump dalam Pilpres AS dan hengkangnya Inggeris dari UE memang dikhawatirkan akan mengawali tren gelombang kebangkitan paham populis bercirikan nasionalisme sempit dan intoleransi pada pihak lain.
Namun persepsi semacam itu paling tidak terpatahkan oleh kemenangan besar PM Mark Rutte atas tokoh partai ekstrim kanan Geert Wilder pada Pemilu Belanda baru-baru ini serta kemenangan Alexander van der Bellen dari Partai Hijau melawan kubu ekstrim kanan pimpinan Nobert Hofer di Pemilu Austria, Desember lalu.
Macron diprediksi mampu mengungguli Le Pen pada putaran kedua pemilu ( 7 Mei), sementara Fillon yang diduga terlibat skandal keuangan yakni merekayasa penggajian bagi isterinya dalam pekerjaan fiktif akan tersisihkan pada putaran pertama.
Dukungan bagi Macron mulai bermunculan, termasuk dari menteri-menteri kabinet Presiden petahana dari Partai Sosialis (PS) Francois Hollande yang menyatakan tidak bersedia maju dalam pilpres untuk masa jabatan berikutnya. PS sebenarnya memiliki capres sendiri, Benoit Hamon, namun dalam jajak penapat ia selalu berada di urutan buncit.
Menhan Jean-Yvest Le Drian yang cukup berpengaruh, Menpora Thierry Braillard dan Menmud Keanekaragaman Hayati dan LH Barbara Pompili juga disebutkan ikut mendukung Macron, bahkan juga tokoh FN seperti mantan Menteri Perhubungan Dominique Perben dan mantan Menkes Philippe Douste-Blazi.
Fenomena munculnya tokoh populis yang lebih berorientasi ke dalam ketimbang menggalang kemitraan dengan negara lain akan diuji lagi dari hasil pilpres Perancis nanti.
Jika sampai Frexit (France Exit),tentu saja UE akan kehilangan besar setelah keluarnya Inggeris dari keanggotannya. (AP/Reuters/NS)





