Perang, Cuma Lahirkan Bencana

Perang bukannya menyelesaikan persoalan, malah menyiksakan tragedi dan bencana bagi umat manusia.

ENTAH berapa ribu nyawa sudah melayang, belum yang mengalami cacat permanen serta penduduk yang kehilangan tempat berteduh,  terpaksa mengungsi akibat invasi Rusia ke Ukraina sejak 24 Feb. lalu dan sampai hari ke-121 (24 Juni) terus menelan korban jiwa dan kehancuran ,  sarana mau pun prasarana.

Tidak ada angka yang pasti, jumlah tentara Rusia dan Ukraina yang tewas sampai hari ke- 111 (24/6), juga korban sipil Ukraina yang dihujani rudal jelajah, roket multi laras, artileri berat, kanon tank dan bombardemen dari udara, darat dan laut ke pemukiman mereka.

Setelah gagal dengan cepat menguasai ibukota Kiev, pasukan Rusia sejak sekitar pertengahan April, didukung ratusan tank, pesawat tempur dan sekitar 100-ribu personil, mengalihkan serangan ke selatan dan timur Ukraina.

Hampir seluruh wilayah selatan dan timur Ukraina, sebut saja Mariupol, Kharkiv, Luhansk, Donnetsk, Dnipro, Zaporiszhia, Kherson, Lysychansk  dan Sivierodonetsk porak poranda dihajar amunisi berbagai alutsista jarak jauh dan canggih Rusia.

Tentara dan milisi Ukraina yang persenjataannya kalah jauh  kecanggihan maupun jumlah termasuk personilnya, juga sebagian penduduk yang emoh mengungsi, terpaksa bertahan di bunker-bunker.

Mereka yang tewas langsung akibat terkena serpihan rudal, peluru artileri atau akibat bombardemen, tentu sudah “selesai” penderitaannya, “mengungsi” menuju kedamaian, menghadap sang Khalik di alam sana.

Namun bisa dibayangkan, korban-korban yang masih bertahan hidup akibat luka berat yang dialami mereka, di tengah medan perang, jauh dari dokter atau RS, mengerang-erang menahan sakit di bawah reruntuhan bangunan hunian yang luluh-lantak.

Bagaimana pula rasa cemas dan panik terutama perempuan dan anak-anak yang tinggal di bunker-bunker darurat untuk berlindung dari bombardemen, setiap kali mendengar dentuman rudal, roket atau peluru artileri di atas mereka.

“Pasti muncul rasa takut luar biasa jika bunker yang mereka diami bakal runtuh akibat ledakan, sementara untuk berlari ke luar, lutut  gemetar, malah takut terkena sasaran langsung.

Sebaliknya, anggota tentara yang mengawaki peluncuran rudal, roket, artileri atau pilot pesawat tempur, tanpa beban, tinggal menekan tombol-tombol key board, tanpa menyaksikan langsung akibat perbuatannya.

Pilot pesawat tempur cukup mencari titik koordinat target, jika sudah ketemu, tekan fitur “fire” atau “luncurkan, rudal akan meluncur sendiri ke sasaran yang berjarak sampai ratsan KM atau “smart bom”  akan menghunjam ke target berjarak puluhan Km di atas tanah.

Menggunakan sistem “fire and forget” (tembak dan lupakan), pilot usai menekan fitur atau tombol “luncurkan” bisa santai atau fokus mencari sasaran berikutnya tanpa beban atau memikirkan nasib korban akibat perbuatannya.

Sebaliknya, sasaran yang berada ratusan Km, misalnya apartemen hunian gedung bertingkat yang terkena rudal, bisa dibayangkan korban meregang nyawa, kehilangan anggota tubuh, baik terkena serpihan rudal, terhimpit atau terjebak di reruntuhan bangunan.

Bagaimana pula paniknya warga yang kebetulan selamat, kesibukan tim penyelamat atau regu pemadam kebakaran, sampai ke kerabat di tempat atau lokasi lain yang mendengar musibah itu.

Euforia dan Trauma Pertempuran

Di medan pertempuran, kontradiksi suasana bathin terjadi, antara pihak yang menikmati kemenangan dan yang kalah atau menjadi korban.

Regu rudal panggul anti tank, bersorak-sorai bersama rekannya menyaksikan tank musuh yang dibidiknya hancur atau terbakar, begitu pula awak rudal  pertahanan udara, saat menyaksikan heli atau pesawat lawan yang berhasil dijatuhkannya.

Sebaliknya, bisa dibayangkan, situasi kebathinan yang dihadapi awak tank nahas itu, misalnya yang luput dari maut, secara refleks langsung meloncat keluar kendaraannya, namun musuh di sekitarya sudah mengincar untuk  membantai atau menangkapnya.

Begitu pula pilot pesawat tempur yang saat pesawatnya terkena rudal, luput dari maut, berhasil meloncat dengan kursi lontar di atas wilayah yang dikuasai musuh. Apa yang terfikir di benaknya? Sampai di bawah, musuh sudah menunggu untuk menangkap atau langsung mengeksekusinya.

Masih beruntung, penduduk yang mengungsi menghindari perang, diterima dengan baik oleh penduduk di negara sekitarnya, bahkan secara sukarela bersedia menampung di rumah-rumah mer eka.

Diperkirakan sekitar lima juta penduduk Ukraina mengungsi, sebagian besa ke negara tetangga seperti Polandia, Ceko, Rumania dan Moldova, bahkan ada juga ayang ditampung di negara lebih jauh seperti Jerman, Inggeris atau Itali.

Namun, tentu saja kecemasan masih menghantui mereka, tentang nasib suami-ayah mereka yang ikut bertempur, baik sebagai tentara, milisi atau keahlian lain dan juga sanak keluarga yang tetap bertahan di kampung halaman mereka dengan berbagai alasan.

Perang di era tempo doeloe adalah cara paling cepat untuk menyelesaikan persoalan, terutama bagi yang merasa kuat atau “PD” bakal mampu menaklukkan lawan.

Sebaliknya, di era now, di tengah kepemilikan senjata pemusnah massal, angka kematian dan kerusakan yang diakibatkannya berlipat ganda, lagian tidak menyelesaikan pesoalan.

Ujung-ujungnya nanti, setelah kedua belah pihak yang bertikai babak belur, bakal kembali ke meja perundingan, kecuali ada yang nekat, menggunakan senjata nuklir, menuju perang habis-habisan.

Semoga tidak terjadi dan perang yang sia-sia segera berakhir!

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement