
RUSIA dilaporkan memiliki rencana ambisius untuk membangun pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN) di bulan dalam kurun satu dekade ke depan.
Rencana pembangunan PLTN tersebut, seperti diberitakan Reuters, Kamis (25/12), bertujuan untuk mendukung program luar angkasa dan stasiun penelitian gabungan Rusia-China di tengah persaingan ketat terutama dengan Amerika Serikat (AS) menjelajahi Bulan.
Rusia pada tahun1960-an membanggakan diri sebagai kekuatan terkemuka dalam eksplorasi ruang angkasa, setelah kosmonaut Yuri Gagarin sukses menjadi manusia pertama mengorbit di luar angkasa pada 1961, mamun, dalam beberapa dekade terakhir, telah tertinggal dari AS dan China.
Sementara itu, perusahaan antariksa Rusia, Roscosmos menyatakan, berkolaborasi dengan perusahaan kedirgantaraan Lavochkin Association, mereka berencana untuk membangun pembangkit listrik di bulan pada 2036.
Namun Roscosmos tidak secara eksplisit menyebut pembangkit listrik bertenaga nuklir, hanya mengeklaim bahwa para pesertanya termasuk perusahaan nuklir Rusia, Rosatom dan Institut Kurchatov, lembaga penelitian nuklir terkemuka Rusia.
Roscosmos menjelaskan, pembangkit listrik itu bertujuan untuk memasok daya bagi program antariksa Rusia, termasuk robot penjelajah, observatorium, dan infrastruktur Stasiun Penelitian Internasional gabungan dengan China.
“Proyek ini merupakan langkah penting menuju terciptanya stasiun ilmiah di bulan yang berfungsi secara permanen dan transisi dari misi sekali waktu ke program eksplorasi bulan jangka panjang,” kata Roscosmos.
Pada Juni lalu, Kepala Roscosmos, Dmitry Bakanov menuturkan, salah satu tujuan perusahaan tersebut adalah membangun pembangkit listrik tenaga nuklir di bulan dan menjelajahi Venus.
Bulan yang berjarak 384.400 kilometer dari planet ini, mengurangi goyangan bumi pada porosnya, yang memastikan iklim lebih stabil. Bulan juga menyebabkan pasang surut di lautan.
AS juga sudah berancang-ancang
Rusia bukan satu-satunya negara yang berambisi memiliki pembangkit listrik di bulan, karena Badan Antariksa AS (NASA) pada Agustus 2025, juga sudah menyatakan niatnya untuk menempatkan reaktor nuklir dibBulan pada kuartal pertama tahun fiskal 2030.
“Kita sedang berlomba ke Bulan, berlomba dengan China. Untuk memiliki pangkalan di Bulan, kita membutuhkan energi,” kata Menteri Transportasi AS, Sean Duffy.
Ia menambahkan, AS saat ini tertinggal dalam perlombaan menuju bulan, padahal, energi sangat penting untuk memungkinkan kehidupan berkelanjutan di sana dan membuka peluang manusia bisa sampai ke Mars.
Perlombaan penguasaan teknologi antara AS, di satu pihak, dan China bersama Rusia di pihak lain terus berlangsung, perjalanan waktu nanti yang akan menetapkan siapa pemenangnya. (Reuters/kompas.com/ns)




