
PEMERINTAH Provinsi Pyongan Utara, Korea Utara dilaporkan mewajibkan warganya memproduksi permen guna dibagikan bertepatan dengan milad pemimpin tertingginya, Presiden Kim Jong Un pada 8 Januari.
Sementara, sejumlah pemda, seperti dilaporkan Radio Free Asia (RFA), juga telah mengambil kebijaksanaan masing-masing dengan mengenakan pajak bagi setiap keluarga untuk digunakan membeli bahan pembuatan permen seperti tepung dan gula.
Penduduk di sejumlah daerah konon juga telah diminta menyumbangkan telur untuk pembuatan permen sehingga berakibat kelangkaan passokan telur di pasar.
Sebenarnya, menurut FRA lagi, warga di tengah himpitan kesulitan ekonomi saat ini, tidak ikhlas untuk memberikan sumbangan apa pun bentuknya untuk HUT sang pemimpin, namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa.
Setiap provinsi bertanggung jawab untuk memproduksi dan mendistribusikan permen, suatu tradisi yang telah dilakukan sejak rezim Kim Il Sung (mangkat 1994), diktator pertama yang sekaligus juga kakek Kim Jong Un,
Pada awal Kim Jong Un berkuasa, permen dibagikan pada ibu hamil dan siswa di tempat penitipan anak dan SD pada 8 Januari, namun sejak 2019, pemerintah memperluasnya dengan membagikannya pada anak-anak di seluruh negeri pada 1 Januari.
Minimnya impor pangan untuk menjembatani kesenjangan antara produksi dalam negeri dan permintaan membuat kelangkaan semakin parah.
Perbatasan dengan China yang ditutup rapat selama pandemi Covid-19 ikut mempersulit Korut mengumpulkan cukup pasokan gula untuk membuat permen.
Alhasil, proyek pembuatan permen nasional mengalami penurunan signifikan akibat seretnya pasokan tepung dan gula, meroketnya harga-harga dan menguras uang dari penduduk yang sangat membutuhkannya untuk membeli makanan untuk diri mereka sendiri.
Harga satu Kg tepung melonjak dari 2,40 dollar AS (Rp 34.456) menjadi 6 dollar AS (Rp 86.130), sedangkan harga gula naik dari 13.000 won menjadi 25.000 won,” kata seorang penduduk Unsan, provinsi Pyongan Selatan, utara ibu kota Pyongyang pada RFA.
Korut menerapkan larangan unik bagi warganya seperti, pembatasan model rambut (18 untuk perempuan dan 15 laki), melipat koran agar foto pemimpin mereka (jika ada) tidak terlipat serta harus lebih dulu menyelamatkan foto pemimpin negara jika terjadi kebakaran.
Aturan lainnya seperti dilarang tersenyum atau menenggak miras pada hari berkabung (wafatnya Kim Il Sung, 8 Juli),mengenakan jins dan tindik, minum coca cola (produk AS) dan yang palin ektrim dilarang tertidur saat rapat. Menteri Pertahanan Hyon Yong Chol yang juga pamannya dieksekusi gegara tertidur saat rapat.
“Lain padang lain belalangnya, lain lubuk lain ikannya, “ ungkap pepatah lawas. (RFA/Kompas/ns)




