Petinggi Negara yang Mundur Gegara Bencana

PM Jepang Naoko Kan mengunduran diri karena dianggap parlemen gagal menangani tsunami yang memicu bencana bocornya reaktor nuklir Fukushima pada 2011 (ofto: Youtube)

SETIAP kali terjadi bencana, peran dan sosok pemimpin akan disorot dan dianggap paling bertanggungjawab secara moral jika dianggap kurang sigap atau tidak mampu menanggulanginya dengan benar.

Berikut para pejabat yang mundur gara-gara bencana yang tak bisa ditanggulangi.

PM Jepang Naoto Kan
Seperti diaporkan BBC Rolan Buerek, PM Jepang Naoto Kan harus mengundurkan diri karena dianggap tak menunjukkan  kepemimpinannya saat terjadi tsunami yang menyebabkan krisis nuklir di Jepang pada 2011.

Kan sebelumya sudah berniat akan mundur terkait pengesahan tiga rancangan Undang-Undang tentag energi terbarukan, yang akhirnya disahkan pada Agustus 2011.

Namun popularitas Kan makin anjlok setelah bencana gempa dan tsunami pada 2 Juni 2011 bahkan dia menghadapi mosi tidak percaya di parlemen Jepang, Diet, sehingga dia tidak punya pilihan kecuali mundur.

Bencana ini memang luar biasa, tugas berat berupa upaya rekonstruksi yang terbesar di Jepang sejak Perang Dunia II dan memecahkan krisis di reaktor Fukushima, yang

sampai membocorkan radiasi.

Belum lagi, diperlukan upaya untuk meyakinkan pasar bahwa dia bisa mengatasi perbedaan di parlemen sehubungan dengan utang besar yang ditanggung Jepang. Kan akhirnya memilih mundur.

“Di bawah situasi yang keras, saya merasakan sudah melakukan semua hal yang harus saya lakukan,” katanya.

Tanggung jawab seorang pemimpin, baik bagi dirinya mau pun di mata publik Jepang bernilai sangat tinggi, sehingga tidak hanya dalam bentuk pengunduran diri jika merasa atau dianggap gagal, di era tempo doeloe, tidak sedikit yang melakukan “harakiri” atau bunuh diri gegara merasa atau dianggap gagal memimpin.

Gegara robohnya pasar swalayan

Sementara di negara bekas sempalan Uni Soviet, Latvia, PM Valdis Dombbo mengundurkan diri gegara robohnya atap supermarket Maxima, di ibu kota Riga.

Musibah yang terjadi  pada bulan November 2013 lalu itu. memakan korban nyawa 54 orang.

“Mempertimbangkan tragedi yang terjadi dan semua hal terkait, sebuah pemerintahan baru dibutuhkan, tentu dengan dukungan besar dari parlemen,” ucap Dombrovskis sembari menahan air mata.

“Oleh karena itu, saya telah mengajukan pengunduran diri saya dari jabatan Perdana Menteri,” imbuhnya.

Dua Menteri Yordania
Banjir bandang yang melanda wilayah sekitar Laut Mati di Yordania pada 2018 silam membuat 21 nyawa melayang,  yang terbanyak anak-anak sekolah.

Dua menteri Yordania, Menteri Pariwisata Lina Annab dan Menteri Pendidikan Azmi Mahafzah, dituding sebagai pejabat yang harus bertanggungjawab sebab gagal dalam mengatasi kondisi darurat. Tak kuasa menahan tekanan publik, keduanya pun mengundurkan diri.

Para pemimpin negeri, termasuk para kepala daerah, kepala-kepala dinas  dan politisi (DPRD) setempat, selayaknya mengundurkan diri, apalagi jika bencana alam terjadi akibat penyalahgunaan izin-izin yang dikeluarkan atau diketahui mereka.                                                (CNN Indonesia/BBC/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here