Ini Pidato Tegas PM Najib tentang Rohingya dalam Sidang OKI

PM Najib saat memberikan sambutan di Sidang Luar Biasa Menlu OKI/ najibrazak.com

KUALA LUMPUR—Perdana Menteri Malaysia, Tun Najib Razak secara resmi membuka Sidang Luar Biasa Menteri-Menteri Luar Negeri OKI tentang Krisis Rohingya di Kuala Lumpur, Kamis (19/1/2017). Dalam sambutannya, Najib berharap pertemuan ini bisa memberikan solusi atas krisis yang menimpa warga Muslim Rohingya di Rakhine Myanmar.

“Harapan saya, pertemuan ini dapat menemukan cara untuk meringankan penderitaan saudara-saudara kita, warga minoritas Muslim Rohingya, di Myanmar,” ujar Najib mengawali sambutan.

Najib menambahkan, krisis kemanusiaan di Myanmar adalah mengundang keprihatinan besar bagi semua negara, khususnya negara-negara muslim. “Hilangnya nyawa tidak dapat dibantah. Dan dalam Islam hak hidup adalah hak dasar pertama dan terutama, sebagaimana dinyatakan dalam ayat 32 dari Surah Al Maidah,” tambahnya sambil mengutip ayat Alquran.

Najib menegaskan, sudah terlalu banyak orang yang kehilangan nyawa dalam krisis di Rakhine. Banyak pula yang menderita dan menyaksikan kekejaman demi kekejaman. “Itulah alasan mengapa kita tidak bisa diam,” tegasnya.

Ia tidak ingin krisis kemanusiaan tahun 2015 di mana ribuan orang “manusia perahu” terombang-ambing di lautan  kembali terulang. Karena situasi itu menyebabkan penderitaan yang tiada akhir bagi orang-orang yang terpaksa meninggalkan rumah mereka. Lebih dari itu, keberadaan mereka juga memiliki potensi untuk mempengaruhi keamanan dan stabilitas wilayah yang lebih luas.

Najib menjelaskan, dalam beberapa tahun terakhir, Malaysia berada di garis depan untuk membantu para pelarian Rohingya. Malaysia telah menampung 56.000 pengungsi Rohingya, baik pria, wanita dan anak-anak yang telah melarikan diri dari negara bagian Rakhine.

“Pemerintah, dan memang orang-orang Malaysia bersedia untuk memikul tanggung jawab keuangan dan sosial, menyediakan tempat tinggal dan kebutuhan dasar untuk saudara-saudara Rohingya dan saudari. Ini adalah hal yang benar secara moral dan harus dilakukan,” tukasnya.

Dikatakan Najib, keadaan menjadi lebih buruk ketika warga Rohingya menjadi sasaran empuk bagi jaringan perdagangan manusia. Dalam banyak kasus, mereka ditahan selama berminggu-minggu, sementara penyelundup memeras uang dari keluarga jika ingin mereka kembali. Selama perjalanan berbahaya mereka, risiko besar harus dihadapi. “Lebih buruk lagi mereka bisa matian karena tenggelam.”

Najib mewanti-wanti, jika situasi yang menimpa Rohingya tidak ditangani dengan benar, bibit radikalisme akan menyusup. Negara-negara OKI menyadari, organisasi teroris seperti ISIS selalu berusaha mengambil keuntungan dari situasi ini. Ini harus menjadi perhatian masyarakat internasional secara keseluruhan,” kata putra mantan Perdana Menteri Tun Abdul Razak ini.

Advertisement