Prabowo Nagih Janji (2)

Patih Sengkuni menemui Wisatha dengan sedikit menyamar, pakai baju koko dan peci bertengger di kepalanya.

PRABU Baladewa sudah berusia nyaris kepala 8, jalannya saja kadang-kadang pakai teken (tongkat). Jika tanpa tongkat, jalannya sudah kelihatan gejig (setengah pincang) mirip Minakjingga raja Belambangan. Daya pikirnya juga mulai menumpul, sementara mulutnya tak lagi simetris. Karena kurang olahraga, tubuhnya cenderung tambah gemuk. Istrinya, Dewi Erawati, meski masih nampak cantik sudah jarang disentuh. Tak mengherankan jika sang permaisuri diam-diam punya berondong. Tapi Prabu Baladewa pura-pura tak tahu, karena yang penting skandal itu tidak nyolok mata (terlihat jelas).

Belakangan ini Prabu Baladewa memang sudah memikirkan suksesi pemerintahan, tapi sayangnya si Wisatha sebagai penerus dinasti Mandura tak bisa diandalkan. Bagaimana mungkin, Pangeran Mangkubumi kok hobinya mangku wanita alias main perempuan. Dalam usia 35 tahun belum juga menikah, gara-gara dia punya prinsip, bila masih ada sate buat apa beli kambing. Pernah dia ngepruki orang  sampai nyaris tewas gara-gara urusan cewek. Wisatha bebas hukuman karena siap bayar restitusi pada korban sebanyak Rp 120 miliar. Tentu saja yang mbayari Prabu Baladewa juga.

“Sudahlah sinuwun, kawinkan saja Wisatha, agar punya tanggungjawab pada keluarga.” Saran Dewi Erawati pada sang suami.

“Wisatha nggak mau. Dan putri manapun tak ada yang sudi jadi istrinya, karena jejak mesumnya ada di mana-mana.” Jawab Prabu Baladewa prihatin sekali.

Sebetulnya Prabu Baladewa sudah lama mempersiapkan Wisatha untuk suksesi pemerintahan. Ketika berusia 30 tahun sudah dimasukkan ke Lemhanas, sekolah calon pemimpin. Tapi dianya mlincur (bolos) melulu, sehingga di-DO. Jadilah Wisatha generasi mogol (setengah matang), yang tak peduli masa depannya karena hanya mengandalkan warisan orangtuanya kelak.

Karena itulah Prabu Baladewa berpikiran nakal seperti Said Abdullah PDIP yang mau duetkan Ganjar-Anies. Beliunya membuka kemungkinan penerus tahtanya pada kedua patihnya, bisa Prabowo bisa pula Pragota. Pokoknya mana yang cakap dan punya kapasitas. Biar menyalahi konstitusi sistem kerajaaan, tapi Prabu Baladewa siap dibully rakyat dan lingkaran istana. Pinjam istilah SBY, bisa saya jelaskan tetapi tidak perlu!

“Lalu anak kita mau dikemanakan, Sinuwun. Sudah tidak berumahtangga, tak jadi raja Mandura pula.” Dewi Erawati mencoba mempertanyakan kebijakan suaminya.

“Sudahlah, kalau nggak mau jadi PNS biarlah Wisatha nanti jadi komisaris BUMN saja, atau staf ahli saja.” Jawab Prabu Baladewa asal-asalan. Soalnya ahli apa dia, kecuali hanya ahli zina.

Jika kemudian Prabu Baladawa melawan konstitusi dan tradisi, itu semua demi kejayaan Mandura ke depan. Beliaunya tak rela negeri warisan Prabu Kontiboja itu ancur-ancuran di tangan Wisatha. Bayangkan, baru diminta mengatasi banjir di Mandura saja, sudah gagal total. Mestinya kali-kali dinormalisasi, eh malah bikin sumur resapan. Yang untung tentu saja para kontraktor dadakan. Wisatha juga dapat untung, karena dapat fee sekian persen. Lagi-lagi duitnya habis hanya untuk urusan open BO.

Harapan satu-satunya sebagai penerus dinasti tinggalah Prabowo apa Pragota, dua patih Mandura. Salah satu di antara mereka harus bisa melanjutkan program Mandura yang sedang dikerjakan. Salah satunya adalah membangun istana baru di lokasi lain yang diberi nama Kuntiboja Pura. Selain mewujudkan impian sang kakek, juga sekaligus mengenangnya, atas prestasi Prabu Kuntiboja mendirikan negara 78 tahun lalu.

“Apakah kalian sanggup melanjutkan proyek IKP (Istana Kuntiboja Pura) yang kini terus dikebut pembangunannya. Material selalu siap, tinggal kesiapan mental untuk melanjutkan.” Kata Prabu Baladewa seakan nanting (menantang keberanian) Pragota-Prabowo.

“Ya siaplah, apa susahnya wong semua anggaran cukup. Raja Mandura kan tinggal mengawasi saja. Ho ho ho…..” jawaban Pragota sambil terus cengengesan.

“Siap Sinuwun! Cuma lihat situasi, mungkin perlu ada penyesuaian konstruksi, jika anggaran tak lancar turunnya.” Kata Prabowo, jawabannya masih pakai catatan kaki.

Nah, di sini ini Prabu Baladewa kurang sregnya pada Prabowo, lha wong tinggal meneruskan saja kok masih pakai parikan (baca: alasan) segala. Jika kemarin proyek IKP agak tersendat, semata-mata karena terkendala pandemi Corona. Semua anggaran difokuskan demi keselamatan rakyat. Namun demikian Prabu Baladewa tak terlalu cemas. Sebab nantinya meskipun sudah lengser, sebagai raja senior di Mandura dia masih berhak cawe-cawe demi keberlangsungan proyek IKP.

Berita suksesi di Mandura yang di luar tradisi itu telah menjadi isyu nasional, termasuk jadi tranding topik di Ngastina. Sebab Mandura – Ngastina itu itu wilayahnya memang berdekatan, apa lagi Prabu Duryudana dan Prabu Baladewa sama-sama anak menantunya Prabu Salyo dari Mandaraka. Bahkan setiap sidang kerajaan di Istana Gajahoya, Prabu Baladewa selalu hadir, sehingga dapat pula uang transpor bulanan.

“Lho, bagaimana anak prabu Mandura ini. Masak calon penerus Prabu Baladewa kok malah patih Prabowo atau Pragota. Kan jadi putus dinasti Prabu Kuntiboja.” Komentar Begawan Durna.

“Kok aneh, menjadi raja Mandura itu kan haknya, tetapi kenapa malah diganjal ayah sendiri. Kasihan betul Wisatha.” Tambah Patih Sengkuni.

Patih Sengkuni juga cemas, jika nantinya yang menjadi pemimpin Mandura si Prabowo atau Pragota, jaringan bisnisnya yang melebar di negeri itu bisa diganggu oleh eks patih Mandura tersebut. Sebab selama ini Sengkuni dan Pragota tak pernah cocok dalam kelompok Aspada (Asosiasi Patih Ngercapada). Soalnya Pragota suka mengritik Sengkuni, jadi patih kok seperti JK saja, sudah Wapres masih ngrangkep bisnis.

Nah, demi menyelamatkan bisnisnya tersebut Patih Sengkuni diam-diam menemui Wisatha. Bukan di lingkungan istana Mandura, tapi malah di tempat karaokean. Sebab sudah bukan rahasia lagi, putra mahkota Mandura ini demennya blusukan di tempat hiburan malam. Dan Patih Sengkuni pun datang menyamar. Biasanya bertelanjang dada, kini pakai baju koko dan peci, seperti mau ke mesjid saja.

“Lho, tumben-tumbenan eyang Sengkuni mencari saya, di sini pula tempatnya. Sepertinya penting banget, Eyang.” Kata Wisatha menyambut orang nomer dua di Ngastina itu. (Ki Guna Watoncarita).

Advertisement