
BERKAT keahlianya ngraga sukma (menjelma) dalam bentuk roh, Prabu Kresna berhasil mengikuti sidang pembahasan Kitab Jitapsara di kahyangan Jonggring Salaka. Dengan nama baru Sukmawicara, yakni roh yang pinter ngomong, raja Dwarawati itu dibenarkan oleh Ketum kahyangan Jonggring Salaka SBG (Sanghyang Bethara Guru), untuk ikut cawe-cawe siapa saja yang berhak sebagai senopati Baratayuda. Tapi Sukmawicara juga berhak mencoret siapa saja yang tidak boleh tampil di Perang Baratayuda.
Yang bikin pusing Sukmawicara adalah, tampilnya kakak kandung Prabu Baladewa dalam daftar senapati Perang Baratayuda. Dia itu tokoh abu-abu macam Budiman Sujatmiko. Darah dan sungsum tulang belakangnya pro Pendawa, tetapi secara pisik dia lebih dekat dengan Kurawa. Indikasinya, dia selalu hadir dalam sidang penting di kerajaan Ngastina, duduk sejajar dengan Prabu Duryudana.
“Kaki Sukmawicara harus bisa bereskan Baladewa, Antasena, Antareja, Wisanggeni, agar tidak tampil di Baratayuda. Jika 4 sosok ini tampil, Perang Baratayuda dalam satu putaran sudah selesai. Ini kan nggak seru.” Kata SBG serius.
“Siap pukulun, saya siap bereskan mereka. Memangnya dana Perang Baratayuda tak terhingga ya, karena banyak bohirnya?” tanya Begawan Sukmawicara.
“Jelas dong! Ini beda dengan Indonesia yang maunya Pilpres satu putaran biar ngirit. Di Perang Baratayuda bebas berapa kali putaran, muter-muter kayak gasing juga gak masalah.” Jawab SBG sambil tersenyum.
Begawan Sukmawicara telah kembali ke ngercapada dan berubah ke wujud aslinya sebagai Prabu Kresna raja Dwarawati. Sesanggeman (tugas) baru telah menunggu. Soal Wasanggeni – Antasena bakal dibereskan Sanghyang Wenang di Ngondar-andir Bawana, bagian Prabu Kresna tinggal membereskan Antarejo putra sulung Jodipati, dan Prabu Baladewa kakak kandungnya. Ini yang rada-rada gampang susah. Maklum, wayangnya bludrekan, sedikit-sedikit marah, sedikit-sedikit marah, kenapa marah hanya sedikit?
Seperti telah kangsenan (janjian) saja, Antarejo dari kesatrian Jangkarbumi itu malah datang menemui Prabu Kresna. Soalnya masalah telah kembalinya Prabu Kresna dari Jonggringsalaka menjadi viral di medsos. Sebagai putra Jodipati yang bagian dari Pendawa Lima, Antareja penasaran akan hasil kunjungan misi Prabu Kresna ke Jonggring Salaka. Siapa tahu dirinya ditunjuk sebagai senopati Baratayuda, itu kan menunjukkan bahwa dirinya bukan tokoh kaleng-kaleng.
“Maaf siwa Prabu Kresna, gue masuk daftar senopati Baratayuda nggak?” kata Anterejo tidak sabaran.
“Memangnya kamu punya kesaktian untuk jadi senopati?” pancing Prabu Kresna.
Antarejo pun pamer kesaktian. Katanya, selain bisa ambles ke bumi, juga bisa bikin mati orang hanya dengan dijilat telapak kakinya. Siapapun orangnya, tak peduli dia bakal Capres maupun Caleg DPR. Ketum partai yang sudah bulukan maupun baru 2-3 hari menjabat. Memang di dunia pakeliran, semua wayang jalan tanpa alas kaki kecuali dewa dan begawan. Dan rupanya Antarejo lupa bahwa tak ada politisi yang mau jalan nyokor tanpa sepatu.
Prabu Kresna pun menguji kemampuan Antarejo. Ketika melihat jejak telapak kaki begitu nyata di tanah yang becek,diperintahkannyalah Antarejo untuk menjilat. Karena terlalu jumawa dengan dia punya sesumbar, tanpa pikir panjang Antarejo menjilatnya slurrrrp……. Hanya dalam hitungan detik Antarejo pun tumbang dan tewas. Sebab jejak telapak kaki tersebut memang miliknya sendiri.
“Maafkan Pakdemu, ya. Kamu harus mati demi kejayaan keluarga Pendawa Lima. Tapi kau dijamin dewa masuk suwarga tundha sanga (surga di lapis ke-9).” Bisik Prabu Kresna sambil mengusap wajah Antarejo, selanjutnya telpon ambulan RS terdekat.
Kematian Antarejo putra Werkudara ramai jadi pembicaraan orang di medsos, tapi tak ada yang menariknya ke jalur politik. Dan pengamat politik sekelas Adi Prayitno dan Burhanudin Muhtadi pun tak diwawancarai TV swasta. Dianggapnya Antarejo sekedar mati biasa, diduga serangan jantung. Sebab dari riwayat keseharian, Antarejo ini perokok berat sekelas dalang Seno dan hobinya makan sate kambing 50 tusuk atau tongseng dan thengkleng Solo.
Prabu Baladewa yang HP-nya jadul Nokia 3310, tentu saja tak bisa mengikuti berita viral di medsos. Maka sore itu dia tenang saja medang kopi tanpa gula, oleh-oleh dari Prof. Rhenald Kasali di Rumah Perubahan. Beberapa waktu lalu Prabu Baladewa memang pernah diajak ngobrol dalam chanel Intrigue. Topiknya soal Baladewa sebagai tokoh abu-abu. Jelas-jelas dia bagian dari barisan kubu Pendawa-Ngamarta, tapi kenapa tiap ada sidang di barisan Kurawa selalu hadir di istana Gajahoya. Apa bedanya dengan Budiman Sujatmiko?
“Paring-paring den, nyuwun sedhekah saeklasipun…..” tiba-tiba ada pengemis tua nyelonong nemui Prabu Buladewa.
“Nih Rp 100.000,- buat beli beras ya.” Ujar Prabu Baladewa sambil mengangsurkan uang merah gambar Soekarno-Hatta.
“Maaf, saya nggak butuh uang. Dituker saja sama Dewi Erawati istri Prabu Baladewa yang cantik itu…..!” jawab sang pengemis tanpa ekspresi.
Tantu saja Prabu Baladewa kaget dan amarahnya bangkit meledak-ledak. Istri hanya satu-satunya mau diminta orang? Ini Baladewa, bukan Puntadewa, Bung! Segera saja ambil senjata Nenggala dan dilempar ke arah pengemis. Tapi si pengemis berkelit, sehingga Nenggala ngusruk menghujam ke lantai. Prabu Baladewa mencoba mencabutnya, tapi beliaunya malah terperosok masuk lobang bekas Nenggala. Makin bergerak malah tubuhnya terpendam setinggi dada.
“Iki piye, iki piye…..” ujar Prabu Baladewa panik dan terus berusaha meronta dari himpitan tanah.
“Makanya, kaka prabu jangan main-main dengan pusaka Nenggala…..” jawab seseorang, yang ternyata Prabu Kresna. Dialah penjelmaan pengemis tua yang baru saja ngeprank Prabu Baladewa.
Prabu Baladewa minta tolong dibebaskan dari jepitan bumi, tetap Prabu Kresna mengatakan bahwa ada syaratnya. Sebagai tebusan atas perilakunya yang gendak sikara (berbuat jahat) pada bumi, harus siap diasingkan di Grojogan Sewu sekian tahun lamanya. Lulus mungkur kadonyan (meninggalkan duniawi), pusaka Nenggala akan kembali padanya.
Ketimbang gerah dan susah bernapas, apa syarat Prabu Kresna diterima saja. Benar saja, Prabu Baladewa segera terbebas dari jepitan bumi. Tapi sore itu juga harus diektradisi ke Grojogan Sewu, sebagai teman sekaligus ajudan ditunjuk Setyaka putra Dwarawati. Keduanya naik Batik Air tujuan Solo, dilanjutkan naik mobil ke Grojogan Sewu daerah Tawangmangu. Di sana hanya boleh pegang HP jadul, tak boleh pula baca koran dan nonton TV.
“Di sini sepi sekali ya? Motor lewat saja nggak ada….” keluh Prabu Baladewa setelah seminggu di Grojogan Sewu.
“Tapi kalau pesen tongseng dan thengkleng, deket Pakde. Kalau gudeg ceker Margoyudan biar nanti titip orang.” Jawab Setyaka mengalihkan perhatian.
Tiba-tiba HP Nokia 3310 milik Prabu Baladewa berdering. Begitu diangkat di seberang sana ada suara Patih Pragota dan Patih Prabowo. Mereka mempertanyakan kelanjutan proses suksesi pemerintahan di Mandura. Prabu Baladewa menunjuk Prabowo atau Pragota, biar jelas. Intinya, kedua patih ini menagih semua janji Prabu Baladewa.
“Prabu Baladewa kan raja, bukan politisi. Itu artinya tak boleh bohong….” kata Patih Prabowo di seberang sana.
“Udah deh, saya nggak mikir suksesi tetek bengek. Saya fokus ngurus nasibku di Grojogan Sewu. Soal suksesi tanyakan pada Wisatha….” jawab Prabu Baladewa lalu menutup teleponnya.
Patih Pragota dan Prabowo hanya bisa saling pandang. Gagalah jadi raja Mandura. Apa sekarang gabung saja ke koalisi PDIP? Capres Ganjar Pranowo kan masih berharap Prabowo mau jadi Cawapresnya. Ditilik dari namanya, Prabowo yang satu ini juga merasa cocok mendampingi Ganjar Pranowo. Tapi Prabowo yang mana, bro? (Tamat – Ki Guna Watoncarita)


