
PRESIDEN Prancis Emmanuel Macron khawatir, dunia kian tak stabil menyusul konflik geopolitik yang terus meruncing dan ambisi Amerika Serikat mencaplok Greenland.
“Dunia saat ini sedang memasuki era ketidakstabilan dan ketidakseimbangan dari berbagai sudut, “ ujar Macron yang dilaporkan CNN dalam orasinya pada World Economy Forum (WF) di Davos, Swiss (20/1).
Macron dalam forum economi global itu menilai, situasi global yang berlangsung sata ini adalah pergeseran menuju otokrasi, melawan demokrasi.
“Lebih banyak kekerasan, tercermin dari lebih 60 perang berlangsung sejak 2024 – sebuah rekor absolut – meskipun saya memahami beberapa di antaranya direkayasa, ”
tuturnya.
Situasi ini, kata Macron, kian menunjukkan konflik menjadi hal yang biasa, hibrida, dan meluas ke tuntutan baru, ruang, informasi digital, dunia maya, hingga perdagangan.
“Situasi ini pula, merupakan pergeseran menuju dunia tanpa aturan. Hukum internasional diinjak-injak, yang dikedepankan kekuatan dn ambisi imperialis kembali muncul,” ucap Macron.
Presiden Prancis itu lalu menyebut perang yang masih berlangsung seperti Rusia dan Ukraina, agresi Israel di Palestina, dan konflik di Timur Tengah hingga Afrika.
Namun, ia tak menyebut rencana aneksasi AS ke Greenland sebagai bagian gagasan imperialisme atau calon konflik baru.
Dunia tanpa Tata Kelola
Situasi saat ini, menurut dia, juga sedang bergeser ke dunia tanpa tata kelola efektif, multilateralisme yang dilemahkan, dan aturan yang dirusak.
Salah satu contohnya adalah badan-badan internasional yang dilemahkan atau ditinggalkan oleh negara-negara ekonomi utama.
Pekan lalu, Presiden AS Donald Trump meneken executive order untuk menarik keluar negaranya dari 66 organisasi termasuk badan PBB.
“Jika kita melihat situasinya, jelas ini adalah masa sangat mengkhawatirkan, karena kita menghancurkan struktur yang seharusnya bisa memperbaiki situasi dan berbagai tantangan ,” ujar Macron.
Dia menggarisbawahi tanpa tata kelola kolektif, kerja sama akan digantikan oleh persaingan tanpa henti.
Di kesempatan ini, Macron juga menyinggung ancaman tarif dan persoalan dagang dengan negara-negara besar termasuk Amerika Serikat.
Menurut dia, Eropa perlu mengaktifkan kembali aturan untuk memblokir barang Amerika Serikat atau trade bazooka jika Trump menjatuhkan tarif tinggi ke negara lain karena menolak aneksasi Greenland.
Pekan lalu, Trump mengancam negara-negara Eropa dengan tarif 10 persen yang dijadwalkan mulai berlaku bulan depan.
Trump juga mengancam bakal menaikkan tarif hingga 25 persen jika kesepakatan kepemilikan Greenland ke tangan AS tak tercapai pada Juli.
Sikap China dan Rusia
Kemlu China telah membantah tudingan Trump dan menyatakan aktivitas Beijing di sana sudah sesuai hukum dan bertujuan mempromosikan perdamaian, stabilitas, dan pembangunan berkelanjutan di kawasan itu.
“AS tidak boleh menggunakan negara lain sebagai dalih untuk mencari keuntungan pribadi,” kata juru bicara Kemlu China Mao Ning, Senin (12/1).
“Kawasan Arktik menyangkut kepentingan bersama komunitas internasional. Hak dan kebebasan negara untuk beraktivitas sesuai hukum di Arktik harus sepenuhnya dihormati,” ucapnya.
Rusia tak ikut campur
Sedangkan Menlu Rusia Sergei Lavrov juga menegaskan negaranya tidak berniat ikut campur dalam urusan Greenland dan tak punya agenda untuk mengendalikan wilayah tersebut.
Meski begitu, Lavrov menyuarakan komentar kontroversial dengan menyebut Greenland “secara prinsip, bukan bagian alami dari Denmark.”
“Secara prinsip, Greenland bukanlah bagian alami dari Denmark, bukan?” ungkap Lavrov, seperti dikutip Reuters.
“Itu juga bukan bagian alami dari Norwegia maupun Denmark. Greenland adalah hasil penaklukan kolonial. Fakta bahwa penduduknya kini telah terbiasa dan merasa nyaman adalah persoalan lain,” tambah dia.
Greenland merupakan wilayah otonomi Denmark. Pulau terbesar di dunia itu kaya akan mineral tanah jarang yang sangat penting bagi industri teknologi AS.
Mineral tanah jarang belakangan menjadi salah satu objek paling didamba Trump karena dirinya terobsesi menemukan sumber pasokan alternatif di kawasan seperti Ukraina dan Greenland.
Tatanan Global agaknya bakal berubah drastis dengan kemunculan pemimpin dunia begaya cowboy seperti Trump. (CNN/Reuters)




