Profil Ketua MPR China yang Berkunjung ke Indonesia, Kesayangan 3 Pemimpin

Profil Ketua MPR China Wang Huning menarik untuk diperbincangkan. (Foto: griffith.edu.au)

Jakarta, KBKNews.id – Profil Ketua MPR China Wang Huning menarik untuk diperbincangkan. Dia melakukan kunjungan kenegaraan ke Indonesia dan tiba di Bandara Soekarno–Hatta, Tangerang, Rabu (3/12/2025) sekitar pukul 13.25 WIB.

Kehadiran Wang langsung mendapat sambutan dari Wakil Ketua MPR RI Mohammad Eddy Dwiyanto Soeparno, Duta Besar RI untuk RRT Djauhari Oratmangun, serta Duta Besar RRC untuk Indonesia Wang Lutong.

Kunjungan ini diharapkan menandai komitmen kedua negara untuk memperdalam kerja sama, khususnya pada bidang diplomasi parlemen, pembangunan, hingga kolaborasi masa depan yang lebih strategis.

Agenda Wang Huning di Jakarta

Setibanya di Indonesia, Wang langsung menjalani serangkaian agenda penting. Salah satunya kunjungan ke Kompleks Parlemen Senayan untuk bertemu pimpinan MPR RI, DPR RI, dan DPD RI.

Dalam pertemuan itu, kedua pihak membahas berbagai peluang kerja sama. Mulai dari penguatan hubungan antarlembaga legislatif, peningkatan kemitraan ekonomi, pertukaran budaya, hingga isu-isu kawasan yang memerlukan sinergi bersama.

Pada keesokan harinya, Kamis (4/12/2025), Wang juga dijadwalkan bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan Jakarta. Pertemuan itu menjadi momen penting untuk memperkokoh fondasi diplomasi Indonesia–China yang selama ini berjalan stabil.

Nama Wang Huning sudah lama dikenal sebagai salah satu tokoh kunci dalam struktur kekuasaan China. Bagi banyak pengamat, ia adalah “otak strategi” yang memengaruhi arah kebijakan negara selama tiga dekade terakhir.

Latar Belakang dan Pendidikan

Mengutip Brookings, Wang lahir pada 6 Oktober 1955 di Shanghai, sementara keluarganya berasal dari Laizhou, Provinsi Shandong.

Perjalanan akademiknya sangat kuat. Pada 1972–1977, di belajar bahasa Prancis di Universitas Keguruan Shanghai. Selanjutnya, pada1978–1981, dia melanjutkan program S-2 politik internasional di Universitas Fudan.

Dia juga menjadi peneliti tamu di tiga universitas besar di AS. Ketiganya yakni Iowa, Michigan, dan UC Berkeley selama tahun 1988–1989.

Dari Akademisi ke Lingkar dalam Partai

Karier Wang dimulai di Biro Publikasi Pemerintah Kota Shanghai (1977–1978). Setelah itu, ia kembali ke dunia kampus dan berkarier sebagai dosen hingga akhirnya menjadi dekan di Universitas Fudan (1981–1995).

Tahun 1984 ia resmi bergabung dengan Partai Komunis Tiongkok (PKT). Sejak itu, jalur kariernya melesat.

Pada 1995, ia ditarik ke Beijing untuk bekerja di Kantor Penelitian Kebijakan Pusat (CPRO)—lembaga yang merumuskan strategi inti PKT. Posisinya terus naik. Mulai dari Wakil Direktur CPRO pada 1998–2002, Direktur CPRO pada 2002–2020 dan Sekretaris Jenderal dan Direktur Kantor Umum Kelompok Pemimpin Sentral untuk Penguatan Reformasi pada 2012–2018.

Ia juga terpilih sebagai anggota penuh Komite Pusat PKT pada Kongres ke-16 tahun 2002.

Sejak 10 Maret 2023, Wang menjabat sebagai Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat China, lembaga politik penting yang berperan besar dalam konsultasi dan pengambilan kebijakan strategis.

Pejabat Langka Kesayangan Tiga Pemimpin

Salah satu hal yang membuat Wang begitu menonjol yakni kemampuannya mempertahankan pengaruh politik di tiga era kepemimpinan China. Mulai dari Jiang Zemin, Hu Jintao, dan Xi Jinping.

Tak banyak pejabat yang berhasil mendapatkan kepercayaan dari tiga generasi pemimpin sekaligus. Pada masa Jiang dan Hu, ia bahkan dikenal sebagai penyampai informasi strategis antara keduanya.

Di era 1980-an, Wang juga menjadi protégé dari Jiang Zemin dan Zeng Qinghong, dua tokoh kuat di Shanghai.

Keberlanjutan perannya menegaskan kekuatan Wang bukan pada popularitas, tetapi pada ketajaman analisis dan kemampuannya merancang arah kebijakan negara.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here