GAZA – Angkatan Darat Israel dalam pernyataan resminya di platform X, Kamis (17/10/2024) mengonfirmasi bahwa Yahya Sinwar, pemimpin Hamas, gugur dalam operasi militer di Jalur Gaza.
Pernyataan ini juga diperkuat oleh Menteri Luar Negeri Israel, Israel Katz, yang mengonfirmasi bahwa Yahya Sinwar (61), syahid dalam peristiwa tersebut. Militer Israel menyatakan bahwa tidak ada tanda-tanda keberadaan sandera di lokasi di mana Sinwar terbunuh.
Sinwar sendiri baru saja terpilih sebagai kepala politik Hamas pada Agustus 2024, menggantikan Ismail Haniyeh, yang dibunuh Israel di Teheran setelah menghadiri pelantikan presiden baru Iran pada 31 Juli 2024.
Pemilihan Sinwar sebagai pemimpin tertinggi Hamas mencerminkan perjalanannya yang panjang dalam kelompok ini. Sebelumnya, ia telah memimpin Hamas di Gaza selama dua periode berturut-turut, yaitu pada 2017 dan 2021.
Latar Belakang Yahya Sinwar
Yahya Ibrahim Hassan Sinwar lahir pada tahun 1962 di kamp pengungsi Khan Younis, Gaza Selatan. Keluarganya berasal dari kota al-Majdal, yang kini menjadi bagian dari Ashkelon di Israel selatan setelah mereka diusir pada tahun 1948.
Sejak muda, Sinwar bergabung dengan Ikhwanul Muslimin dan menempuh pendidikan di Universitas Islam Gaza, di mana ia meraih gelar sarjana dalam bidang Bahasa Arab. Selama kuliahnya, ia memimpin Blok Islam, sayap mahasiswa Ikhwanul Muslimin.
Pada 1985, Sinwar mendirikan badan keamanan Ikhwanul Muslimin yang dikenal sebagai “Al-Majd,” yang fokus pada perlawanan terhadap penjajahan Israel di Gaza dan penindasan terhadap kolaborator Palestina.
Pengalaman ini memberinya bekal untuk memegang peran kepemimpinan di Hamas setelah organisasi ini didirikan pada tahun 1987.
Penangkapan dan Pembebasan
Pada 1982, Sinwar pertama kali ditangkap oleh tentara Israel dan dibebaskan beberapa hari kemudian. Namun, di tahun yang sama ia kembali dipenjara selama enam bulan atas tuduhan terlibat dalam aktivitas keamanan melawan Israel.
Pada 20 Januari 1988, Israel kembali menangkap Sinwar dan menjatuhkan hukuman empat kali penjara seumur hidup ditambah 30 tahun atas tuduhan mendirikan badan keamanan Al-Majd serta berpartisipasi dalam pendirian sayap militer Hamas, Mujahidin Palestina.
Setelah menghabiskan 23 tahun di penjara Israel, Sinwar dibebaskan pada 2011 sebagai bagian dari pertukaran tahanan antara Hamas dan Israel, yang dikenal dengan “Kesepakatan Shalit.”
Israel saat itu membebaskan 1.027 tahanan Palestina sebagai imbalan atas pembebasan tentara Israel Gilad Shalit oleh Hamas.
Kepemimpinan Hamas
Setelah dibebaskan, Sinwar ikut dalam pemilihan internal Hamas pada tahun 2012 dan berhasil mendapatkan kursi di biro politik, di mana ia bertanggung jawab atas pengawasan sayap militer Hamas, Brigade Qassam.
Pada 2015, Amerika Serikat memasukkannya ke dalam daftar “teroris internasional,” dan Israel menjadikannya salah satu target utama untuk dihabisi di Gaza.
Yahya Sinwar akhirnya gugur sebagai syahid saat Israel melancarkan operasi militer yang disebut-sebut sebagai aksi genosida di Gaza, yang dimulai setelah serangan lintas batas oleh Hamas pada 7 Oktober 2023.
Meskipun ada seruan dari Dewan Keamanan PBB untuk gencatan senjata segera, Israel terus melancarkan serangan yang mengakibatkan lebih dari 42.400 warga Palestina tewas, termasuk wanita dan anak-anak, serta lebih dari 99.200 lainnya terluka.
Penduduk Gaza juga terpaksa mengungsi di tengah blokade yang terus memperburuk krisis kemanusiaan di wilayah tersebut, termasuk kekurangan pangan, air bersih, dan obat-obatan. Israel kini menghadapi gugatan kasus genosida di Mahkamah Internasional terkait tindakannya di Gaza.





