Puasa Medsos, Bisa kah?

Ketika main medsos, semua sibuk dengan urusan masing-masing.

JAKARTA (KBK)–Selama 45 tahun menjadi wartawan membuatnya tak bisa lepas dari dunia informasi. Di era digital saat ini, informasi itu semakin intim dengan dirinya melalui media sosial, mulai dari WhatsApp, Facebook, Twitter, dan aplikasi lainnya. Namun, karena alasan kesehatan, seketika ia “dipaksa” untuk putus hubungan dengan saluran-saluran informasi itu. Itulah yang dialami wartawan senior, Parni Hadi.

“Karena faktor usia, mata saya mulai lemah. Saat terpapar cahaya akan terasa sakit,” ujarnya.

Parni harus menjalani tindakan medis untuk memulihkan matanya. Ia juga harus mengenakan kacamata khusus untuk menjaga kesehatan matanya. Akibatnya, ia harus rela meninggalkan sejumlah aktivitas yang biasa dilakoninya seperti menulis dengan komputer.

“Bayangkan, selama 45 tahun saya berkutat dengan dunia informasi, tiba-tiba saya harus ‘puasa’,” tambah pria yang pernah menjabat Pemimpin Redaksi Antara ini.

Namun, kata Parni, ada hikmah yang bisa dipetik dari apa yang dialaminya. Saat ini, medsos disesaki oleh sampah, hasutan, kebencian, dan informasi palsu. Dengan puasa medsos, kita terhindar dari berbagai hoax dan informasi liar yang beredar di dunia maya. “Berat memang, tapi kita menjadi lebih tentram dan tenang,” katanya.

Meski demikian, Parni mengakui, dia tidak putus 100 persen dengan medsos. Ia memiliki trik agar ia tetap terhubung dengan rekan dan kerabat via media daring. Mantan Direktur Utama RRI ini mengatakan, dirinya memiliki Asjawa, Ashawa, Asjamil, dan Ashamil. Semua itu adalah singkatan dari asisten penjawab WA, asisten penghapus WA, asisten penjawab e-mail, dan asisten penghapus e-mail. “Biasanya supir dan istri saya yang memerankannya,” jelasnya sambil terkekeh.

Fenomena media sosial di Indonesia memang luar biasa. Dari sisi jumlah, per Januari 2017 lalu, data yang dirilis Hootsuite, salah satu situs layaan manajemen konten, menyebutkan, ada 132 juta pengguna internet di Indonesia. Angka ini setara dengan 51 % penduduk Indonesia. Dari jumlah itu, 106 juta memiliki akun media sosial. Selain itu, jika dihitung rata-sata, orang menghabiskan waktunya 4 jam sehari untuk mengakses medsos.

Dari sisi dampak, tak sedikit kegaduhan yang ditimbulkan dari media sosial. Kasus mantan gubernur DKI, Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok adalah yang paling terasa dampaknya. Gara-gara unggahan video pernyataanya yang menyinggung umat Islam, ia harus lengser dari jabatannya dan mendekam di penjara. Lebih dari itu, suasana ibu kota juga menjadi sangat heboh.

Tak ayal, Menkopolhukam, Wiranto, mengungkapkan kegusarannya. “Saya kadang-kadang berpikir, kalau kita liburkan dulu media sosial, seminggu, aman negeri ini. Itu dalam pikiran saya. Itu coba dulu,” katanya dalam sebuah diskusi bulan Mei lalu.

Mampu kah kita puasa medsos? Tak perlu sebulan seperti puasa Ramadhan, cukup sehari saja. Jujur diakui, pasti SULIT.

 

Advertisement