BALI – Sekitar 80 jenazah hingga kini masih menumpuk di RSUP Sanglah, Bali. Bahkan, banyak jenazah yang tidak diakui oleh keluarganya.
Kepala Instalasi Kedokteran Forensik RSUP Sanglah, dr Ida Bagus Putu Alit mengungkapkan jenazah yang tersimpan di instalasinya masih membeludak. Menurutnya ada jenazah yang tersimpan tidak memiliki asal usul atau sering disebut Mr X atau Ms X.
“Masih ada jenazah yang tersimpan sejak tahun 2011, bahkan tidak ada satu pun keluarga yang mengakui jenazah tersebut,” ucapnya, dikutip dari tribunnews, Kamis (16/6/2016).
Keberadaan kedokteran forensik di Indonesia khususnya di Bali memang sudah diatur melalui aturan tersebut. Namun jenazah yang belum teridentifikasi masih saja dibawa ke RSUP Sanglah menyebabkan jenazah di instalasi forensik menjadi menumpuk.
Meskipun menumpuk, dr Alit mengaku hal tersebut dapat menjadi pelajaran bagi dokter muda forensik dalam mengidentifikasi jenazah. “Ada baiknya juga, jadi dokter muda bisa belajar mengidentifikasi jenazah,” ungkapnya.
Salah satu solusi agar tidak terjadi penumpukan jenazah adalah dengan kremasi massal. Namun, Kabag Hukum dan Humas RSUP Sanglah, Putu Wisada mengaku kesulitan dalam mengadakan kremasi itu.
“Kremasi itu sebenarnya tidak masuk dalam anggaran rumah sakit sehingga kami kesulitan melakukan hal itu,” ucapnya.
Kremasi massal juga pernah dilakukan oleh pihaknya pada pertengahan tahun 2015 lalu. Pada tahun ini pihak rumah sakit masih terbentur dengan tidak adanya anggaran sehingga kremasi massal belum dilakukan.
Wisada juga menambahkan kesulitan dalam memilih jenazah yang masuk daftar untuk dikremasi karena terbentur dengan izin dari pihak kepolisian.
“Tidak sembarang jenazah bisa kami kremasi karena belum dapat izin. Kebanyakan karena masih menjadi barang bukti penyelidikan pihak kepolisian,” ungkapnya.
RSUP Sanglah menjadi pusat kiriman jenazah tanpa identitas ataupun tidak teridentifikasi di wilayah Bali.
Sekitar 80 jenazah yang tersimpan hingga melebihi kapasitas freezer yang dimiliki yakni 26 unit saja.
Sejumlah jenazah berasal dari pasien sakit yang meninggal di rumah sakit ataupun mati tidak wajar.
Terkadang pihak forensik mengakali jenazah dengan menyuntikkan formalin jika jenazah tidak bisa dimasukkan ke freezer.





