JAKARTA, KBKNEWS.id – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa merespons laporan Bank Dunia (World Bank) yang memperingatkan potensi melebarnya defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Indonesia hingga 2027.
Purbaya menilai prediksi lembaga keuangan internasional tersebut tidak selalu akurat dan meminta publik tidak terlalu mengkhawatirkannya.
Pernyataan itu disampaikan Purbaya dalam konferensi pers APBN KiTa di Jakarta Pusat, Kamis (18/12). Ia menyebut prediksi ekonomi merupakan hal yang wajar, namun Bank Dunia dinilai kerap meleset dalam memperkirakan kondisi ekonomi Indonesia.
Menurut Purbaya, besaran defisit APBN sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dalam mengendalikan belanja serta meningkatkan pendapatan negara. Ia optimistis perbaikan yang terus dilakukan di Direktorat Jenderal Pajak (DJP) serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) akan berdampak positif terhadap penerimaan negara.
Ia mencontohkan penerapan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI) di lingkungan Bea Cukai. Langkah tersebut diyakini dapat menekan kebocoran dan meningkatkan penerimaan negara. Dari penerapan AI saja, potensi tambahan penerimaan diperkirakan mencapai minimal Rp1 triliun dan masih berpeluang bertambah seiring perbaikan lanjutan.
Purbaya menilai proyeksi defisit APBN yang melebar dapat terjadi apabila tidak ada pembenahan. Namun, dengan pengendalian belanja dan peningkatan penerimaan yang terus dilakukan, pemerintah yakin defisit dapat dijaga pada level yang berkesinambungan.
Sebelumnya, dalam laporan Indonesia Economic Prospects (IEP) edisi Desember 2025, Bank Dunia memproyeksikan defisit APBN Indonesia berada di kisaran 2,8% pada 2025 dan 2026, serta melebar menjadi 2,9% pada 2027. Meski demikian, angka tersebut masih berada di bawah batas defisit maksimal 3% sesuai Undang-Undang Keuangan Negara.





