SETELAH Prabu Sumali udzur memasuki MPP, Resi Wisra-wa diminta menggantikan kedudukannya sebagai raja Ngalengkadiraja. Sayang, menantu Prabu Sumali tersebut tidak merasa sreg dengan jabatan itu, meskipun ada fasilitas rumah dan mobil luks. Dia kemudian malah membaiat putranya sendiri, Danapati, yang menjadi manager di Lokapala untuk memimpin Ngalengkadiraja.
Manajer seharga Rp 50 miliar itu pun pindah ke Ngalengkadiraja. Baru beberapa waktu Danapati melaksanakan program-programnya, Dasamuka mencemburui. Sebab sete-lah dewasa, dia merasa yakin bahwa dirinya yang berhak menjadi raja Ngalengka ketimbang Danapati. Walhasil konglomerat dari Lokapala itu digugat, agar menyerahkan tahta. Berkat pengacara BW (Bayu Wasesa) yang cerdik dari LBH, setelah berulangkali gugatan perdata itu disidangkan, akhirnya perkara dimenangkan oleh Dasamuka. Eksekusi dilaksanakan, Danapati didepak dari Ngalengka dan kembali ke Lokapala kerajaannya semula.
Sebagai raja baru, Dasamuka ternyata menganut nepotisme. Posisi-posisi empuk nan basah diserahkan kepada famili-familinya sendiri. Misalnya, Prahasto yang adik dari ibunya itu diangkat sebagai patih. Apalagi sang paman ini wayangnya nrimo tak banyak cingcong. Dasamuka semakin yakin akan pilihannya. Sebab misalkan raja baru Ngalengka itu banyak melakukan penyelewengan, Prahasto pasti akan dieeeem saja!
“Wah, gue dijadikan patih to ini? Asyik, nggak perlu ngagen gas melon lagi…!” teriak Prahasio lantang sesaat sebelum pelantikan.
‘Tapi gue nggak bisa pidato dan gunting pita, lho!” kata patih baru itu lagi, jujur dan polos.
“Nggak usah kuatir Paman, kan ada ike…!” jawab Dasamuka.
Ngalengkadiraja dalam pemerintahan Dasamuka betul-betul amburadul. Korupsi merajalela di mana-mana. Maling-maling yang dipelihara, hampir ada di setiap lembaga pemerintah. Ekonomi berantakan. Harga bulgur sebagai makanan pokok wayang, melonjak tajam. Akibatnya iakyat semakin miskin. Wayang-wayung yang sudah de-mikian gepeng, menjadi semakin gepeng iagi karena tak inampu makan dua kali sehari. Berbagai komisi di DPR Ngalengka sudah minta berulangkali kepada raja, agar nkonomi diperbaiki. Tapi Dasamuka tetap berlagak pilon. Anggaran untuk pembarigunan ekonomi dikesampingkan, |ustru anggaran pertahanan ditingkatkan. Rahwana me-mang ambisi sekali berperang dan ngelar (memperluas) jajahan!
“Jangankan wayang dalam kotak, dewa-dewa pun harus tunduk ama gue,” tantangnya pongah nan congkak.
Sekali waktu ketika Dasamuka berburu ke Wukir Kelasa, dia melihat villa mewah yang dibangun oleh Betara Sangkara. Soal punya 1MB atau tidak, raja Ngalengka ini tak mau tahu. Dia cuma tertarik sekali dengan bangunan yang berbentuk panggung itu. Dengan mengajak ajudannya, Kala Marico, dia bermaksud naik dan masuk ke dalamnya.
“Hai Dasamuka, tanpa surat pas kenapa Anda masuk?” tegur Batara Nandiswara yang rupanya ngobyek jadi Satpam di tempat ini.
“Memangnya nggak boleh, elo siapa…?” jawab Dasamuka tak kalah ketusnya.
Namun demikian Dasamuka tetap digeledah. Surat pas itu memang tidak ada. Di kantongnya cuma ada foto-foto cewek cakep, struk kertas ATM dan KTP yang sudah mati. Dengan hormat Nundiswara minta agar Dasamuka pulang, karena Batara Sangkara tak mau diganggu. Maklum saja, beliau siang itu sedang santai minum-minum, ditemani para bidadari cantik kelas hotel berbintang sampai tingkat losmen.
“Udahlah, ini ada ratusan merah selembar, buat Anda…!” bujuk Dasamuka.
“Sorry aja, dewa nggak boleh kena suap. Nanti diprotes publik lagi…!” jawab Nandiswara.
Dasamuka memperhatikan Satpam Batara Sangkara yang berwajah mirip simpanse di Ragunan itu. Tanpa tertahan lagi dia tertawa ngakak, kok ada wayang demikian jujur-nya.
“Lihat Kala Marico, sini lihat. Ada simpanse tidak doyan duit…!” teriak Dasamuka panggil ajudannya. Tangannya dengan lincah segera memasukkan uang itu ke dalam kantong, karena mau direbut sang ajudan.
“Maklum, dia belum pernah duduk di DPR.” Jawab Kala Marico sambil tersenyum.
Dicerca dan dicemooh sedemikian rupa. Batara Nandiswara jadi tersinggung sekali. Dia segera mengeluarkan sot (kutukan) kepada raja Ngalengkadiraja itu bahwa kelak negara Ngalengka akan hancur diserang pasukan kera dari Pancawati. Tapi Dasamuka hanya menjawab “Preeeeek….!” sambil meninggalkan Nandiswara untuk mbludus (masuk tanpa izin) ke istana Batara Sangkara.
Apa yang dikatakan Batara Nandiswara memang benar, di lantai 3 villanya Batara Sangkara sedang ajojing dengan sejumlah relasinya sambil mabuk-mabukan. Dasamuka ingin masuk, tapi dikunci dari dalam. Sifat jahil dan iseng raja Ngalengka segera muncul. Dia lari ke luar, dan melalui kesaktiannya rumah panggung itu diangkat sehingga bergoyang-goyang.
“Gile lu Dasamuka, ada dewa santai digangguin,” makl Batara Sangkara.
Dasamuka tetap tidak peduli, sambil tertawa ngakak digoyang- goyang terus villa itu. Batara Sangkara jadi habis kesabarannya. Dia pamer kekuatan, sehingga villa itu menjadi semakin berat dan Dasamuka tak mampu lagi mengangkatnya. Malah tangan kanannya kejepit.
“Atooo, atoooo, tolongin gue, Nyaaak!” teriak Dasamuka tanpa malu-malu, panggil-panggil Dewi Sukesi ibunya.
“Makanaya, jadi wayang jangan jahil. Rasakan akibatnya.” Ledek Betara Sangkara.
Batara Sangkara akhirnya iba juga. Setelah puas memberi pelajaran pada raja kurang ajar itu, tangan Dasamuka dilepaskan dari jepitan villanya. Sambil pulang ke Ngalengka, sepanjang jalan dia ndamoni (meniup) jari tangannya yang membiru tergencet. Baru setelah diberi obat merah, penderitaan Dasamuka agak berkurang.
Setibanya di Ngalengkadiraja, para menteri-menteri termasuk Patih Prahasto membujuk Dasamuka yang juga disebut Rahwana itu untuk unjuk rasa ke Yamaloka ka-hyangan Batara Yamadipati si pencabut nyawa dan dewa penjaga neraka Kawah Candradimuka. Wayang-wayang Ngalengka yang banyak dosa itu ingin agar siksaan buat dirinya kelak diperingan, dan Yamadipati diminta jangan terlalu cepat mencabut nyawanya.
“Berat tuh, mana gue bisa ngelawan Yamadipati. Salah-salah kontrak umur saya malah dipercepat….!” kata Dasamuka.
“Sampeyan sih enak, dapat dispensasi dewa, terluput dari kematian.” Kata pejabat Ngalengka yang lain.
“Oh, iya ya. Nama gue sekarang kan Dasamuka AP, Aji Pancasona….!”
Berkat dorongan Prahasto dan para hulubalangnya, Dasamuka kemudian kerig gegaman (mempersiapkan senjata) dan spanduk-spanduk untuk unjuk rasa di Kahyangan Yamaloka. Dengan truk sampah PD. Pasar Jaya mereka berangkat. Begitu tiba di Yamaloka, Dasamuka Dkk bikin onar dan teror. Wayang-wayang yang dipanggang api karena sewaktu di dunia jadi koruptor kelas kakap, dibebaskannya. Bintang-bintang film yang terlibat skandal seks dengan pejabat saat di dunia, diangkat dari septiteng tempatnya dihukum sekarang. Walhasil spanduk yang telah dipersiapkan Dasamuka menjadi semakin meriah. Selain lulisan “Perpanjang Usia Wayang”, “Perdingin api neraka Candradimuka”, masih ada tambahan spanduk: Rahwana Pelindung Koruptor, Viva Rahwana, dan Ikatan Koruptor Ngalengka.
Anak buah Yamadipati tentu saja marah dengan unjuk rasa Dasamuka Dkk. – itu. Perkelahian terjadi. Rupanya dewa-dewa cuma menang nama doang, melawan Dasamuka dan prajuritnya, letoy! Maka prajurit Dasamuka jadi semakin nekad, rumah-rumah di Yamaloka dilempari. Bahkan kereta api yang lewat pun jadi sasaran. Mendengar hura-hura sedemikian rupa. Batara Yamadipati terpaksa lurun ke lapangan menemui Dasamuka.
“Jangan ngamuk di Kahyangan, dong. Kalian cuma butuh nasi bungkus aja, kan?” tanya Jamadipati.
“Itu nomer dua. Tapi tuntutan sebagaimana dalam spanduk- spanduk itu harus sampeyan perhatikan. DPR Kahyangan pernah saya lapori, tapi nggak ada tanggapan….!” jawab Dasamuka.
Sama-sama ngotot, akhirnya perkelahian terjadi. Melawan Yamadipati ternyata bagi Dasamuka soal keciiil. Dewa pencabut nyawa dan penguasa Kawah Candradimuka itu terpaksa mengeluarkan granat merk Kaladanda. Tapi sebelum dilemparkan, segera dicegah oleh Batara Brama.
“Jangan keburu nafsu, Yamadipati. Wayang-wayang Kahyangan yang tak diasuransikan bisa sengsara karenanya, kalau granat itu meledak. Kamu kasih saja nasi bungkus, bereeeees Cak!” saran Batara Brama.
Batara Yamadipati segera menyimpan kembali granat nya. Ribuan nasi bungkus dan teh botol diobral, dan wayang-wayang Ngalengka berebut mendapatkannya. Benar juga, setelah perut mereka kenyang, dengan mudah dihalau kembali ke Ngalengka. Di atas truk sampah yang dicarternya. Dasamuka pulang sambil tidur mendengkur. Nggrgh nggigh. nggrhg. (Ki Guna Watoncarita)



