SEBANYAK 14,5 juta porsi mie instan dilahap penduduk Indonesia pada 2023, atau terbanyak kedua setelah China dan Hong Kong dengan 45 juta porsi, demikian diungkapkan World Instant Noodles Association (WINA).
Mie instan yang dikenal di negeri ini sejak dekade 1970’an dikonsumsi penduduk di perkotaan di Jawa sampai desa-desa di pedalaman Kalimantan atau Papua.
Di kota-kota metropolis termasuk Jakarta, mie inntan disantap oleh anak-anak sekolah, bahkan “menu wajib’ anak kos-kosan, ada yang mengidapnya di warung-warung sederhana atau cukup membeli di warung kelontong untuk disantap di rumah.
Warung-warung mie instan tak hanya menyedu mie instan kemasan dalam kondisi kering, tetapi juga menambahkan taburan bawang goreng, sayur (sawi atau toge),kornet, sosis dan ‘asesories’ lainnya,
Berbagai varian rasa pun diproduksi untuk menarik pembeli, baik masakan lokal seperti rasa rendang, soto mie, kare, cakalang, rawon atau rasa ‘kuliner impor’ seperti barbeque, “Korean Spicy Soup”, mie pedas Korea atau ala masakan Jepang dengan rasa Takoyaki, “Japanese shoyu ramen” atau “tori miso ramen”.
Di Asia tak hanya Indonesia, mie instan juga digemari di India yang menempati jumlah konsumsi terbesar ke-3 dunia (8,8 juta porsi), disusul Vietnam (8,1 juta porsi), lalu Filipina di posisi ke-6 (4,3 juta porsi, Thailand di posisi ke-9 (3,9 juta porsi) dan Malaysia di posisi ke-13 (1,6 juta porsi) per tahunnya.
Ditemukan orang Jepang
Warga Jepang , Mamofoku Ando tidak menyangka, santapan cepat saji karyanya bakal mendunia, bermula dari keprihatinannya menyaksikan antrian panjang warga di musim dingin dekat Stasiun Osaka hanya untuk membeli semangkuk mie ramen.
Naluri bisnis Ando pun muncul saat perusahaan lembaga keuangan tempatnya bekerja sebagai direktur bangkrut pada 1957, dan dengan asset rumah kontrakan yang tersisa, ia mulai merintis usaha pembuatan mie instan.
Teringat pemandangan antrean mi ramen, Ando mencoba membalikkan roda nasib dengan membuat ramen cepat saji disantap di rumah hanya dengan seduhan air panas.
Ando mulai mencoba membuat mie ramen di gudang di belakang rumahnya memakai alat rakitan sendiri. Ia berusaha menciptakan mi yang lezat, murah, dan mudah disiapkan dengan metode membasahi mi, lalu digoreng hingga kering agar tahan lama.
Untuk penyedap rasa, Ando membumbui mi dengan kaldu ayam yang ia yakini akan menarik minat banyak orang. Setelah melewati beberapa kali percobaan, pada 25 Agustus 1958, Ando memperkenalkan mi instan pertama di dunia bernama chicken ramen yang kala itu jual dengan harga 35 yen per porsi atau sekitar Rp 3.700.
Tak hanya di Jepang, Ando mulai memasarkan Chicken Ramen ke Eropa dan Amerika Serikat pada 1966, lalu mengembangkan produk mi instan dengan kemasan cup atau gelas pada 18 September 1971.
Sejak saat itu popularitas mie ramen instan pun semakin mendunia dan berkat kontribusinya terhadap perkembangan mie instan, Ando mendapat penghargaan bintang jasa Order of The Rising Sun dari pemerintah Jepang pada 2002.
Penghargaan ini diberikan kepada individu yang telah mencapai prestasi luar biasa dalam hubungan internasional, promosi budaya Jepang, dan pelestarian lingkungan.
Ando juga diberi gelar sebagai Bapak Mi Instan Dunia. Untuk mengabadikan sejarah mie instan, Ando pun mendirikan museum bernama Cup Noodles Museum di Osaka dan Yokohama, Jepang.
Walau belum ada bukti pasti, mie instan secara langsung bisa memicu berbagai masalah kesehatan, mengosumsi berlebihan dan tak seimbang bisa meningkatkan risiko penyakit jantung, diabetes dan obesitas.




