LAGI-lagi sistem pertahanan raksasa militer Rusia berhasil ditembus oleh pesawat-pesawat nirawak (drone) Ukraina sehingga merusak dua bangunan di pusat kota Moskow (24 Juli) lalu.
Salah satu bangunan yang rusak, seperti dilaporkan AFP, adalah gedung Komsomolsky Prospek yang berada tidak jauh dari kantor Kemenhan Rusia yang juga hanya berjarak 2,7 Km dari Istana Kremlin.
Drone lainnya menghantam bangunan kantor di Jl. Lkacheva, tidak jauh dari lokasi gedung pertama di kawasan jalan utama di Moskwa, dan pada hari yang sama juga terjadi ledakan di Gudang amunisi Rusia di Krimea yang diokupasinya pada 2014.
Militer Ukraina dibandingkan Rusia yang menempati ututan kedua global setelah AS sebenarnya bagai David lawan Goliath, walau faktanya, setelah perang berlangsung sampai 17 bulan sejak invasi Rusia, 24 Feb. 2022, Rusia belum mampu menaklukkan lawannya.
Bahkan, tentara perlawanan Ukraina yang semula hanya bisa betahan dari gempuran artileri, rudal dan tank-tank Rusia, kini sudah berani melancarkan offensive, bahkan mencuri-curi kemenangan.
Serangan kedua terhadap jembatan Kerch, satu-satunya akses jalur darat antara wilayah Rusia dan Krimea, Senin dini hari (17/7) merupakan kerugian besar bagi Rusia, sebaliknya mendongkrak moril pasukan Ukraina.
Terjadi dua kali ledakan di jembatan penghubung antara Semenanjung Taman, Rusia dan Semenanjung Kerch, Krimea, diduga akibat serangan drone-drone laut Ukraina sehingga sebagian dari dua lajur jembatan ditutup sementara.
Jembatan Kerch dengan bentang 18,1 Km atau terpanjang di Rusia, terdiri dari enam lajur (empat untuk kendaraan darat dan dua lajur KA) dibangun Rusia pada 2015 dan dibuka pada 2018.
Pejabat Rusia menuding Ukraina bertanggung jawab atas serangan tersebut, sebaliknya pihak Ukraina belum resmi mengakui keterlibatan pihak mereka.
“Detil jalannya kejadian hanya bisa diungkap jika kami memenangi perang, “ ujar Jubir Badan Keamanan Ukraina (SBU) Artem Dektyarenko pada Reuters.
Presiden Rusia Vladimir Putin menyebut serangan yang menewaskan dua orang dan menyebabkan sebagian lajur ditutup sementara sebagai aksi teroris dan kriminal ulah Rezim Kyiv.
Sabotase sebelumnya menggunakan truk bermuatan bahan peledak, diduga ulah agen-agen rahasia Ukraina, terjadi pada 8 Okt. 2022, menewaskan 31 orang dan sebagian lajur ditutup.
Di sisi lain, keberhasilan serangan tersebut dinilai para pengamat mencerminkan kegagalan Rusia yang memiliki mesin perang raksasa melindungi prasarana transportasi vital dari serangan lawan.
Curi Kemenangan
Ukraina ternyata masih mampu mencuri-curi kemenangan cukup spektakuler, seperti dua kali serangan atas jembatan Kerch dan merebut kembali P. Ular di pintu L. Hitam. (Juni, 2022).
Bak senjata makan tuan, dengan menggunakan rudal anti kapal Neptune hasil pengembangan rudal Kh-15 Svezda (Bintang) disain eks-Soviet, Ukraina berhasil menenggelamkan kapal penjelajah berat RTS Moskva pada 15 April 2022.
Kapal naas itu karam setelah terkena dua rudal Neptune. Tidak diketahui nasib 500 awaknya
Sukar mereka-reka kapan perang di Ukraina yang telah merenggut sekitar 100.000 nyawa pasukan kedua belah pihak, belum lagi korban sipil dan menciptakan jutaan pengungsi, bakal berakhir.
Perang sudah berlangsung sekitar 17 bulan dan sampai hari ini terus bereskalasi, bahkan pasukan Ukraina yang semula hanya dalam posisi bertahan, mulai melancarkan ofensif.
Para petinggi Kremlin semula mungkin mengira, pasukan Ukraina yang dianggap lemah, bakal mudah dilumat dengan cepat, tapi faktanya, mampu memberikan perlawanan sengit berkat aliran persenjataan dari AS dan negara-negara Barat lainnya.
Yang dicemaskan, jika Rusia terpojok, dikeroyok AS dan 30 negara anggota NATO lainnya walau tidak terjun langsung, hanya diwakili persenjataannya yang mengalir ke Ukraina, nekad menggunakan kekuatan nuklir. (berbagai sumber/ns)
Â





