
JASAD 53 awak kapal selam KRI Nanggala 402 terbaring di kedalamam 838 meter di haribaan Ibu Pertiwi di dasar laut utara P Bali, sedangkan arwah mereka, semoga kini sudah tenang dan damai di sisiNya.
Para netizen dalam cuitannya menyebutkan, para pelaut itu bukannya tenggelam atau sirna, tetapi sedang melanjutkan pengabdiannya sebagai punggawa bangsa dan negara, “on eternal patrol” atau melakukan ronda abadi di kedalaman laut.
Presiden Jokowi menyebutkan, tidak hanya keluarga korps Hiu Kencana dan TNI-AL, musibah yang menimpa KRI Nanggala bersama seluruh awaknya menimbulkan kesedihan bagi bangsa seluruh Indonesia yang kehilangan putra-putra, patriot terbaik penjaga kedulatan NKRI.
KRI Nanggala, kapal selam disesel listrik type U209/1300n buatan Jerman tahun 1979, dioperasikan TNI-AL sejak 1981 diduga “nyusruk” ke dasar palung laut utara Bali sejak hilang kontak begitu meminta clearance atau izin menyelam, Rabu pukul 03.00 dinihari (21/4) WIB.
Dari temuan barang-barang kapal seperti jaket penyelamat, bagian sistem torpedo, pelumas periskop, pembungkus pipa pendingin dan sajjadah, serta dari hasil pencitraan visual dari KRI Rigel dan MV Swift, Singapura, badan kapal terbelah tiga.
Kapal nahas itu diperkirakan tak terkendali setelah terjadi blackout atau pemadaman total sistem kelistrikannya, termasuk tidak berfungsinya pompa-pompa untuk mengeluarkan air agar kapal bisa mengapung.
Jika manusia hanya bisa bertahan pada kedalaman sampai 30 meter di bawah permukaan laut atau dengan tekanan maksimal tiga bar, bisa dibayangkan, pada kedalaman 800 meter lebih atau dengan tekanan 80 bar, mustahil awak KRI Nanggala bertahan hidup.
Mengenai apakah, jasad para awak kapal dan bangkai kapal akan dievakuasi, tentu banyak pertimbangannya, menyangkut kerumitannya secara teknologi dan juga biaya yang harus dikeluarkan.
Kapal selam nuklir Rusia “Kursk” yang tenggelam bersama 118 awaknya di Laut Barentz, 12 Agustus 2020 pada kedalaman 200 meter, berhasil diapungkan lebih setahun kemudian (Okt. 2001) oleh perusahaan Belanda Smit In’l dan Mammout.
Diperlukan biaya 65 juta dolar AS (sekarang hampir Rp1 triliun) untuk mengangkat potongan badan Kursk dengan 26 kabel baja, kran-kran dan juga ponton raksasa untuk membawanya ke pangkalan AL Rusia di Murmansk.
Kembali ke KRI Nanggala, para awak kapal sesuai motto korps Hiu Kencana “Wira Ananta Rudhiro” atau “Tabah Sampai Akhir” tentu sudah ikhlas mewakafkan jiwa raga mereka demi NKRI.
Pengorbanan Tidak Sia-sia
Renungan atau kontemplasi perlu dilakukan oleh segenap pemangku kepentingan, instansi mau pun para penentu kebijakan terkait kapal selam dan alutsista matra darat dan udara.
Menyangkut KRI Nanggala sendiri, kabarnya pernah mengalami kerusakan kemudi, sehingga pertanyaannya, sejauh mana kerusakan itu sudah diperbaiki?
Juga program overhaul (perbaikan total) kapal yang sebelumnya pernah dilakukan di Korsel (2009 – 2012), namun program kedua kabarnya ditangguhkan dengan alasan keterbatasan anggaran.
Mengingat, TNI-AL berencana membeli sekitar 10 kapal selam lagi untuk mewujudkan kekuatan minimal pokok (Minimum Essestial Force – MEF), apakah sudah dipertimbangkan untuk membeli kapal penyelamat kapal selam seperti milik Malaysia (MV Mega Bhakti) dan Singapura (MV Swift)?
Menurut catatan, hal itu belum pernah disinggung dalam rapat-rapat kerja di Komisi I DPR atau pernyataan-pernyataan pimpinan TNI.
Seperti yang disampaikan pengamat pertahanan Connie Rahakundini, audit komprehensif perlu dilakukan mulai dari pengadaan dan program “Maintenance, Repair and Overhaul –MRO” setiap alutsista, baik dari pihak internal mau pun pengawasan eksternal (BPK) dan KPK.
Musibah tidak bisa dihindari, tetapi pernyataaan petinggi militer setiap terjadi kecelakaan atau musibah alutsista yang menyebutkan “kapal atau pesawat dalam kondisi baik, awaknya terampil, semua baik”, tentu harus dibarengi pengawasan rutin dan intens dan juga audit.
Pengawasan dan audit yang transparan mutlak diperlukan untuk menghindari penyimpangan atau kelalaian, baik yang disengaja atau tidak, apalagi jika hal itu sampai berujung pada nyawa para prajurit.
Selamat bertugas di keabadian “on eternal patrol” seluruh awak KRI Nanggala, semoga pengorbanan kalian tidak sia-sia.




