MESKIPUN sudah jompo dan mulai dilirak-lirik SanghyangYamadipati, Resi Wisrawa masih tokcer juga. Beberapa bulan hidup sebagai suami-istri di Kompleks BTN Pondok Pucung Provinsi Ngalengkadiraja, Ny. Sukesi langsung hamil. Ke mana-mana pakai daster. Wisrawa asyik pula mencari nama cakep untuk anak perdananya kelak. Sebagai bahan acuan dicarinyalah nama-nama keren melalui koran lama yang berisi pengumuman seleksi UMPTN (Ujian Masuk Perguruan Tinggi Negeri).
Firasat-firasat aneh bermunculan sebelum Ny. Sukesi menghadapi persalinan. Perut mules-mules seperti mau ke belakang, itu sudah jelas. Tetapi lebih dari itu, cuaca di Ngalengka menjadi demikian buruk sehingga ramalan Badan Klimatologi, Meteorologi & Geofisika kacau balau. Matahari berhari-hari tidak muncul, meteor berjatuhan disertai hujan angin. Karenanya Resi Wisrawa tak berani ke luar panggil bidan yang pakai online-online atau membawa istrinya ke RSB “Mitra Keluarga Kaya”.
“Aduuuh, gimana Mas? Gue udah nggak tahan, nih!” rintih Sukesi.
“Tahan dulu deh barang dua hari, tunggu cuaca bagus. Atau pakai operasi Yulius Caesar saja?” jawab Resi Wisrawa sok modern tapi keliru.
Jabang bayi yang buru-buru ingin lihat dunia yang hiruk-pikuk itu akhirnya lahir juga dengan selamat. Karena Sukesi bukan selebritis, proses persalinan dari pembukaan 1 hingga 100 tak diliput TV swasta. Itu malah menguntungkan, karena bayi yang lahir laki-laki itu amburadul bentuknya. Kulitnya biru macam penderita penyakit jantung, matanya merah seperti wayang belekan. Yang mengerikan, bayi itu bertaring dan kepalanya 10 sementara tangannya 20. Berapa gigi dan jarinya, silakan ambil kalkulator!
Resi Wisrawa malu sekali punya putra dengan cacat demikian banyak. Padahal seumur-umur belum pernah “jajan” di Alexis ataupun boking artis VA. Kalau tidak takut kepada polisi dan dicegah oleh Prabu Sumali yang kini menjadi mertuanya, jabang bayi macam mercon bantingan itu dilempar ke kali Ciliwung.
“Bagaimana Papi, kok bayiku jelek sekali. Dosa apa yang telah kuperbuat?” ratap Dewi Sukesi kepada Prabu Sumali.
“Sudahlah, ini kehendak Dewata. Bagus atau buruk bayi itu harus kita sayangi sepenuh hati, siapa tahu kelak dia menjadi konglomerat penguasa lahan 5 juta Ha di Ngalengka sini,” hibur sang ayah, yang kala itu membawa kado pakaian bayi yang dibeli di kaki lima Pasar Tanah Abang.
Bayi ajaib yang tak sempat tercium wartawan itu akhirnya diberi nama Dasamuka (berwajah sepuluh) alias Rahwana dan segera didaftarkan ke Catatan Sipil. Nama cakep yang sudah disiapkan seperti Fahri Hamzah, Faldo Maldini dan Andre Rosiade, tidak jadi dipakai karena si bayi tak seindah nama itu. Bersamaan dengan pemberian nama di hari ke-36 (selapanan) itu, diedarkanlah sejumlah besek selamat-an ke rumah-rumah tetangga.
Rupanya Resi Wisrawa belum punya kesadaran ber-KB, ditambah lagi hobinya buka situs porno di internet. Baru setahun usia Dasamuka, Ny. Sukesi sudah mengan-dung 5 bulan. Akhirnya Rahwana pun sundhulen (punya adik terlalu dini). Ketika dia jalan saja masih sempoyongan, sudah punya adik lagi, lelaki. Bayi itu juga berwujud raksasa, tapi berukuran jumbo. Karena ukuran telinganya sebesar kumba (kuali), oleh Resi Wisrawa putra keduanya itu diberi nama Kumbakarno.
Cobaan Dewata belum juga berakhir. Ketika Dewi Sukesi melahirkan putranya yang ketiga, masih juga bertampang simpang siur. Begitu lahir bayi itu sudah nyengenges memamerkan gigi-giginya yang tajam dan besar seperti gergaji. Ketika dilaporkan ke Catatan Sipil untuk diminta-kan akte kelahiran, petugas juga bingung mengisi kolom jenis kelamin bayi yang diberi nama Sarpakenoko itu. Soalnya, wujud perempuan tapi kelaminnya laki-laki dan ukurannya mini, mungkin untuk sekedar variasi!
“Hati-hati Mbah, itu anak nantinya pasti suka kelayaban di Taman Lawang…!” nasehat petugas Catatan Sipil.
“Taman Lawang mbahmu! Sok tahu kamu, saya laporkan ke polisi dan dicabut gelar sarjanamu nanti,” potong Resi Wisrawa tersinggung katengkasnya. Maklum, namanya orangtua, biar anak jelek tetap dianggap: kencana katon wingka.
Resi Wisrawa makin sedih dan prihatin saja. Dia kemudian protes dan maneges (minta penjelasan) kepada dewa di Kahyangan, kenapa diberi keturunan yang serba buruk rupa. Surat yang dikirim lewat WA itu dapat tanggapan. Komisi VIII di Jonggring Salaka mengadakan peninjauan lapangan dan hasil wawancara dengan keluarga Wisrawa itu dilaporkan kepada Sanghyang Batara Guru (SBG).
“Iya deh, nanti anak Wisrawa yang ke empat akan cakep seperti artis sinetron sejuta episode,” jawab penguasa Kahyangan itu kepada Resi Wisrawa melalui WA pula.
“Tuh, usulanmu diterima karena perjuangan gue!” kata Topik Kurniadi, anggota Komisi VIII dengan maksud minta “komisi” pada Begawan Wisrawa.
Kuatir Resi Wisrawa ngetwit macem-macem di medsos bila usulan tak segera dipenuhi, Batara Guru mempercepat proses kehamilan Dewi Sukesi. Dan ketika orok itu lahir ke dunia, memang tampan luar biasa. Wisrawa senang sekali, begitu pula Ny. Sukesi dan Sumali. Bayi yang kelak diharapkan menjadi bintang film, peragawan dan model iklan sabun itu kemudian diberi nama Gunawan Wibisono.
“Udah ya Mas, anak kita 4 saja. Sudah lama saya nggak pernah kumpul ibu-ibu PKK ikut pengajian dan arisan, nih!” mohon Ny. Sukesi.
“Iya deh. Untuk penangkalnya kamu nanti pasang matrial, eh spiral saja, ya?” jawab Wisrawa yang rupanya kuatir kedodoran membiayai anak-anaknya kelak.
Berkat ASW (Air Susu Wayang) yang dibantu makanan tambahan bubur susu, bubur ayam dan kadang-kadang mie pangsit, anak-anak Ny. Sukesi tumbuh sehat dan lincah. Tapi kelincahan Dasamuka, Kumbokarno dan Sarpokenoko boleh dikatakan over dosis. Nakalnya nggak ketulungan! Hampir setiap saat mereka bikin menangis anak-anak tetangga di kompleks.
Makin bertambah usia, kenakalan Dasamuka beserta kedua adiknya makin memprihatinkan. Putra sulung Ny. Sukesi ini selain suka mencuri buah-buahan tetangga, hobinya mengintip wayang mandi! Lain lagi dengan Kumbokarno, tindak kriminalnya menjurus ke soal makanan. Meskipun di rumah sudah makan nasi berbakul-bakul, di luaran masih suka mbedok pitik (tangkap ayam), kambing dan juga wayang-ayang dewasa untuk duntalmalang (dimakan). Apalagi Sarpakenoko, presis seperti ramalan petugas Catatan Sipil tempo hari, hampir setiap malam keluyuran di Taman Lawang. Tapi polisi tak berani panggil Resi Wisrawa, takut dituduh kriminalisasi begawan.
Yang prihatin atas kelakuan Rahwana dan kawan-kawan tidak cuma Wisrawa dan, nyonya. Bahkan Prabu Danapati di Lokapala yang dulu naksir berat pada Dewi Sukesi, juga eneg mendengar kelakuan adik- adik kandungnya tapi lain ibu itu.
“Jadi wayang yang bener dong! Kalau tetap saja urakan tanpa juntrung, kakanda tak sudi membiayai kuliahmu kelak,” ancam raja Lokapala yang pernah patah hati tersebut, lewat instagram.
Anak-anak Wisrawa ngeper juga dengan ancaman tersebut. Sebagai rasa taubat akan kenakalannya, Dasamuka, Kumbakarno, Sarpakenoko bertapa di Gunung Gohkarno. Langkah ini kemudian juga ditiru Gunawan Wibisono yang memang hobi nyepi dan kungkum (berendam) di kali.
Dari keempat pertapa muda terebut, cuma Sarpakenoko yang suka mlincur (mangkir). Baru beberapa hari di tempat sepi tanpa makan dan disko, dia sudah kabur kembali ke pangkalan, bergabung dengan LGBT se-Jabotabek.
“Aiiih, amit-amit deh. Gue kagak tahan nyiksa diri macam begituuuuu…!” ujar Sarpakenoko yang tak peduli masa depan itu.
“Mending kita santai saja, Broo.” jawab anggota LGBT yang lain.
Sepuluh tahun mereka bertapa, dewa-dewa di Kahyang-an timbul rasa ibanya. Batara Brahma turun ke bumi untuk memberikan “bonus” atas jerih payah putra-putra Wisrawa tersebut. Pokoknya apa yang diminta langsung di-ACC tanpa dipingpong dulu.
“Saya minta terbebas dari kematian oleh manusia dan dewa. Dan semua makhluk di bumi harus menjadi kekuasaan saya,” usul Dasamuka dalam permohonannya itu.
“Hamba minta diberi sifat pemaaf, tulus ikhlas dan mencintai kebenaran,” usul Gunawan Wibisono yang punya sambilan jadi penceramah tapi belum masuk TV itu.
Bagi Batara Brama, usulan Dasamuka dan Wibisono keliwat kecil, sehingga langsung dipenuhi. Cuma yang agak membuat was-was terhadap usulan Kumbokarno yang rakus itu. Maka agar dewa-dewa tidak sampai tekor dan getol datangkan beras impor, Brama mengisyaratkan Batara Saraswati untuk masuk ke lidah Kumbokarno agar salah ucap.
“Ho, ho, ho, gue sih simpel saja, berilah kenikmatan tidur seribu tahun…!” ucap Kumbokarno yang sebenarnya salah ucap itu.
“Nggak ikut coblosan Pilpres, dong ente.” Sindir dewa.
Usul Kumbokarno yang mirip-mirip puisinya Chairul Anwar itupun disetujui, sehingga dia punya hobi tidur. Saat di bumi heboh kampanye dan main berita hoax Kumbokarno sama sekali tak tahu, karena terlena dibuat mimpi di Pangleburgangsa rumahnya.(Ki Guna Watoncarita)



