JAKARTA, KBKNEWS.id – Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8) menyebabkan ribuan bangunan mengalami kerusakan.
Kabupaten Ngada menjadi wilayah dengan jumlah rumah terdampak paling banyak berdasarkan pendataan sementara BNPB.
Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Berton SP Panjaitan mengatakan pendataan kerusakan masih dilakukan oleh BPBD di sejumlah daerah terdampak.
Di Kabupaten Nagekeo, tercatat 116 rumah rusak berat, enam rusak sedang, dan 42 rusak ringan. Sementara di Kabupaten Ende terdapat 108 rumah rusak berat, 85 rusak sedang, dan 268 rusak ringan.
Kerusakan cukup besar juga terjadi di Kabupaten Manggarai dengan 761 rumah rusak berat, 76 rusak sedang, dan 147 rusak ringan. Di Manggarai Timur tercatat 23 rumah rusak berat, 15 rusak sedang, serta 11 rusak ringan.
Adapun di Kabupaten Manggarai Barat, sebanyak 481 rumah mengalami rusak berat, 202 rusak sedang, dan 231 rusak ringan.
Kabupaten Ngada menjadi wilayah dengan jumlah kerusakan rumah terbanyak. BNPB mencatat sementara terdapat 1.796 rumah terdampak di wilayah tersebut. Data itu masih dalam proses verifikasi untuk memastikan tingkat kerusakannya.
Di Kabupaten Sikka, kerusakan meliputi 145 rumah rusak berat, 16 rusak sedang, dan 12 rusak ringan.
Tak hanya permukiman warga, gempa juga berdampak pada sejumlah fasilitas umum, seperti tempat ibadah, fasilitas kesehatan, sekolah, perkantoran, serta akses jalan.
BNPB menyebut tim SAR gabungan masih disiagakan di wilayah terdampak. Sebanyak 63 personel Basarnas dan 1.799 potensi SAR dikerahkan, terutama untuk mendukung penanganan di Kabupaten Manggarai dan Manggarai Timur.
Sementara itu, pelayanan medis darurat terus dilakukan. Pos komando juga disiapkan untuk mengoperasikan rumah sakit lapangan guna memberikan pelayanan kesehatan kepada masyarakat terdampak.
Aktivitas kegempaan masih berlangsung. BNPB mencatat terdapat 1.576 gempa susulan dengan magnitudo terbesar mencapai 6,2. Dari jumlah tersebut, BMKG mencatat 54 gempa susulan dirasakan oleh warga.
BMKG menyebut aktivitas gempa masih fluktuatif dan pola peluruhannya belum terlihat jelas. Kondisi diperkirakan mulai lebih stabil dalam dua hingga tiga pekan mendatang.
Hingga Senin (17/8), BNPB mencatat korban meninggal dunia akibat gempa NTT mencapai 68 orang, sedangkan 213 orang lainnya mengalami luka-luka.
Pemerintah Provinsi NTT telah menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 14 hari, terhitung sejak 15 hingga 28 Agustus 2026.




