Kisah Haru Gempa NTT, Lima Bayi Baru Lahir Bertahan di Bawah Terpal karena Tenda Belum Tiba

JAKARTA, KBKNEWS.id – Lima bayi yang baru lahir terpaksa dirawat di bawah terpal di area belakang Puskesmas Watubaing, Kecamatan Talibura, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT), setelah gempa bumi mengguncang wilayah tersebut.

Kondisi itu terjadi pada Senin (17/8/2026) malam. Para pasien dan tenaga kesehatan harus dievakuasi ke luar gedung puskesmas karena khawatir terhadap gempa susulan.

Tenda darurat yang sebelumnya telah dimohonkan oleh pihak puskesmas sejak Senin siang belum tiba hingga malam hari. Dalam kondisi terbatas, para tenaga kesehatan akhirnya membuat tempat perawatan sementara secara swadaya.

Area terbuka di belakang puskesmas disulap menjadi ruang perawatan. Tempat tidur pasien ditutup menggunakan kain dan sarung, sedangkan bagian atasnya dilindungi dengan terpal yang dibeli oleh para tenaga kesehatan.

Dokter Puskesmas Watubaing, Servasius, mengatakan langkah tersebut dilakukan untuk menjaga kondisi bayi, terutama agar mereka tetap terlindungi dari udara dingin pada malam hari.

“Kami menunggu bantuan tenda yang sudah dikoordinasikan dari pagi tapi tak kunjung datang. Akhirnya kami pakai tenda swadaya seadanya untuk menjaga bayi-bayi ini tetap hangat,” ujar Servasius, Senin malam.

Dari lima bayi yang dirawat, tiga di antaranya lahir dengan berat badan normal, sedangkan dua lainnya memiliki riwayat berat badan lahir rendah (BBLR).

Selain kelima bayi tersebut, terdapat lima ibu nifas dan seorang ibu dengan kondisi ancaman abortus yang turut menjalani perawatan di area luar gedung. Secara keseluruhan, enam pasien lainnya juga harus mendapat pelayanan medis di luar ruangan akibat keterbatasan fasilitas.

Situasi di Puskesmas Watubaing semakin dramatis ketika dua ibu hamil melahirkan saat gempa susulan terjadi di Kecamatan Talibura.

Ibu pertama melahirkan di dalam gedung puskesmas. Namun, setelah proses persalinan selesai, gempa susulan kembali mengguncang sehingga ibu dan bayinya harus segera dievakuasi ke luar bangunan.

Sementara itu, ibu hamil lainnya terpaksa melahirkan di ruang terbuka, tepatnya di bawah pohon kersen di belakang puskesmas, ketika proses evakuasi berlangsung.

Karena tenda bantuan belum tiba, tenaga kesehatan menggunakan kain dan sarung milik mereka untuk menutup area tempat tidur kedua ibu tersebut demi menjaga privasi pasien.

“Kami pelayanan di luar. Satu orang ibu melahirkan di luar ruangan,” kata Kepala Puskesmas Watubaing, Maria Magdalena.

Beruntung, kedua ibu dan bayi mereka dilaporkan dalam kondisi selamat dan sehat. Salah satu ibu bersama bayinya kemudian dirujuk ke RSUD TC Hillers Maumere untuk mendapatkan perawatan medis lebih lanjut.

Kondisi tersebut menggambarkan keterbatasan fasilitas kesehatan di wilayah terdampak gempa NTT, ketika tenaga medis tetap berupaya memberikan pelayanan kepada pasien meski harus bekerja dalam situasi darurat dan sarana yang terbatas.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here