Rupiah Melemah Tipis di Tengah Aksi Jual Aset AS akibat Isu Greenland

Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah tipis pada awal perdagangan Rabu (21/1/2026). (Foto: istockphoto)

Jakarta, KBKNews.id- Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) bergerak melemah tipis pada awal perdagangan Rabu (21/1/2026). Pelemahan rupiah terjadi di tengah tekanan global terhadap dolar AS, menyusul meningkatnya kekhawatiran pasar atas arah kebijakan geopolitik Washington terkait Greenland.

Berdasarkan data Bloomberg, pada pukul 09.04 WIB di pasar spot, rupiah berada di level Rp16.957 per dolar AS, melemah 1 poin atau sekitar 0,01 persen dibandingkan posisi sebelumnya. Pada penutupan perdagangan Selasa (20/1/2026), rupiah juga tercatat ditutup melemah tipis di level Rp16.956 per dolar AS.

Sementara itu, indeks dolar AS justru menunjukkan tren pelemahan. Indeks yang mengukur kekuatan dolar terhadap sejumlah mata uang utama dunia tersebut turun 0,04 persen ke level 98,52.

Sentimen Global Tekan Pergerakan Mata Uang

Pelemahan dolar AS tidak terlepas dari aksi jual besar-besaran terhadap aset Amerika Serikat. Reuters melaporkan, dolar bertahan di dekat level terendah tiga pekan terhadap euro dan franc Swiss, setelah pernyataan Gedung Putih mengenai Greenland memicu kekhawatiran investor global.

Aksi jual ini meluas, tidak hanya pada pasar mata uang, tetapi juga saham Wall Street dan obligasi pemerintah AS. Strategi yang dikenal sebagai “Sell America” kembali mengemuka, seiring meningkatnya ketidakpastian kebijakan luar negeri AS.

“Investor melepas aset dolar karena kekhawatiran akan ketidakpastian yang berkepanjangan, hubungan aliansi yang menegang, serta berkurangnya kepercayaan terhadap kepemimpinan Amerika Serikat,” ujar analis pasar IG di Sydney, Tony Sycamore.

Ia menambahkan, meski pasar masih berharap pemerintah AS akan melunakkan ancaman tarif seperti sebelumnya, ambisi mengamankan Greenland dinilai tetap menjadi agenda strategis utama Washington.

Pergerakan Mata Uang Dunia

Tekanan terhadap dolar AS tercermin dari pergerakannya terhadap mata uang utama lainnya. Dolar sempat anjlok lebih dari 1 persen terhadap euro, menyentuh level terendah sejak akhir Desember di kisaran 1,1770 USD per euro.

Terhadap franc Swiss, dolar turun hampir 1,2 persen ke level terendah tiga pekan sebelum sedikit pulih. Yen Jepang juga berada di bawah tekanan, seiring lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah Jepang (JGB) akibat kekhawatiran kebijakan fiskal yang semakin longgar.

Kenaikan imbal hasil JGB tenor panjang terjadi setelah Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, menyerukan pemilu cepat dan mengisyaratkan pelonggaran fiskal. Imbal hasil obligasi Jepang tenor 40 tahun bahkan melonjak ke level tertinggi sepanjang sejarah sebelum kembali turun terbatas.

Pasar Keuangan AS Bergejolak

Di sisi lain, pasar saham AS turut tertekan. Indeks S&P 500 dan Nasdaq Composite jatuh ke posisi terendah dalam sebulan pada perdagangan Selasa. Hal ini bersamaan dengan kembalinya investor dari libur panjang. Imbal hasil obligasi pemerintah AS juga melonjak ke level tertinggi dalam beberapa bulan terakhir, mencerminkan tekanan jual yang kuat.

Proyeksi Rupiah Hari Ini

Rupiah sendiri sempat dibuka di level Rp16.958 per dolar AS pada pagi hari, relatif stabil dibandingkan penutupan sebelumnya. Namun, tekanan eksternal masih membayangi pergerakannya sepanjang hari.

Kepala Ekonom Bank Mandiri, Andry Asmoro, menilai pasar masih mencermati ancaman tarif baru Presiden AS Donald Trump terhadap sejumlah negara Eropa yang menentang rencana pengambilalihan Greenland.

“Presiden Trump mengancam akan mengenakan tarif baru, mulai dari 10 persen pada Februari dan meningkat hingga 25 persen pada Juni, apabila tidak tercapai kesepakatan,” ujar Andry, Rabu (21/1/2026).

Ia juga menyoroti ancaman tarif tambahan terhadap produk Prancis, yang semakin memperbesar kekhawatiran pasar akan memburuknya hubungan AS dan Eropa. Kondisi tersebut dinilai berpotensi menekan pertumbuhan ekonomi global dan permintaan energi.

Berdasarkan berbagai sentimen tersebut, Andry memperkirakan pergerakan rupiah hari ini masih akan berada dalam rentang terbatas.

“Pandangan kami, rupiah akan bergerak di kisaran Rp16.915 hingga Rp17.010 per dolar AS,” pungkasnya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here