
TANDA-tanda Perang Rusia vs Ukraina akan berakhir makin menjauh mengacu pada pernyataan Presiden Rusia Vladimir Putin yang bersumpah tidak akan mundur dari Ukraina, sementara Presiden AS Joe Biden melakukan kunjungan sangat rahasia ke Kyiv.
“Rusia akan tetap mempertahankan eksistensinya dan melawan negara-negara Barat yang justeru hendak mengubah konflik lokal di Ukraina menjadi konfrontasi global, “ seru Presiden Putin di hadapan parlemen (Duma), pejabat tinggi militer dan sipil di Moskwa (22/2).
Putin juga yakin, negaranya tidak mungkin terkalahkan dan bertekad untuk tidak akan menyerah pada upaya Barat memecah belah rakyat Rusia yang mendukung perang di Ukraina.
“Barat yang memulai perang, dan kami yang akan mengakhirinya, “ ujarnya.
Berbarengan dengan tekadnya untuk meneruskan perang dengan Ukraina, Presiden Putin juga menarik diri dari perjanjian pengendalian senjata nuklir dengan AS (START) yang ditandatangani Presiden AS Barack Obama dan Presiden Rusia Dmitri Medvedev pada 2010 dan diperbarui 2021, berlaku sampai 2026.
Dalam perjanjian tersebut diatur, masing-masing pihak (AS dan Rusia) membatasi kepemilikan 1.500 hulu ledak nuklir strategis offensif atau sepertiga dari batasan sebelumnya yang disepakati pada 2002.
Menurut catatan, Rusia dengan kekuatan militer raksasa yang dimilikinya menginvasi Ukraina, 24 Februari tahun lalu menjelang rencana negara bekas sempalan Uni Soviet itu bergabung ke dalam NATO.
Rusia agaknya berhitung, masuknya Ukraina ke dalam NAT0, bakal mengancamnya, sehingga mengambil inisiatif menyerang dengan harapan NATO tidak akan melibatkan diri karena berdasar statutanya, NATO hanya turun tangan, jika negara anggotanya diserang.
Namun kalkulasi Rusia keliru, walau tidak terjun langsung, NATO dipimpin AS terus menggelontorkan persenjataan canggih ke Ukraina sehingga mampu bertahan dari gempuran Rusia.
Baru-baru ini, NATO menyepakati pengiriman lebih 300 unit tank tempur utama (MBT) seperti M1 Abrams (AS), Leopard (Jerman), Chalenger 2 (Iggeris) dan Leclerc (Perancis) yang bakal jadi momok tank-tank T-72 atau T-90 Rusia.
AS saja sejauh ini sudah menggelontorkan bantuan persenjataan bernilai 9,1 miliar dollar AS (sekitar Rp134 triliun) pada Ukraina berupa heli tempur, artileri berat, drone dan roket anti tank atau setara anggaran militer RI (2022).
Peluncur roket (MLRS) HIMARS, rudal anti tank Javelin, rudal panggul anti pesawat Stinger dan dron Scan Eagle (semua buatan AS) cukup ampuh mengubah keseimbangan militer di palagan Ukraina yang semula menguntungkan Rusia.
Belum lagi, artileri medan M777 buatan Inggeris, MLRS Perancis M270 dan artileri swagwerak Caesar (Perancis) yang dioperasikan pasukan Ukraina sehingga Rusia cukup kewalahan dan gagal memenangi perang secepatnya.
Kerusakan Ekonomi
Selain mengalirnya bantuan Barat bagi Ukraina, sanksi yang dikenakan AS seperti cekal pada 90 lembaga keuangan dan puluhan elite Rusia, pemblokiran bank-bank Rusia dari sistem transaksi global (SWIFT) diperkirakan bakal menyulitkan perekonomian Rusia.
Uni Eropa juga mengenakan se jumlah sanksi a.l.cekal bagi 1. 386 orang dan 171 lembaga, larangan impor migas bagi negara anggota dan sanksi di berbagai bidang lain, bakal merepotkan Rusia.
Kunjungan mendadak dan sangat rahasia yang dilakukan Presiden AS Joe Biden ke Kyiv, Minggu (19/2) juga menunjukkan, AS dan sekutu-sekutunya tentu, tidak akan membiarkan Ukraina bertempur sendirian.
Tak mau kalah, Rusia pun bereaksi terhadap sanksi pihak Barat a.l menerbitkan dekrit aksi ekonomi khusus pada AS, menyetop ekspor gas ke Polandia dan Bulgaria, menghentikan aliran gas melalui Nord Stream ke UE dan sanksi larangan ekspor minyak mentah ke negara-negara yang mengenakan sanksi serupa pada Rusia.
Di palagan tempur sendiri, situasi tidak menentu, yang jelas korban terus berjatuhan, diperkirakan kedua belah pihak sudah kehilangan masing-masing sekitar 100-ribu personilnya, ratusan tank, pesawat tempur dan helikopter hancur, jutaan penduduk Ukraina mengungsi.
Tidak ternilai juga kehilangan nyawa dan korban luka-luka di antara puluhan ribu warga sipil Ukraina, kerusakan bangunan hunian, prasarana dan sarana umum.
Yang lebih merisaukan, jika salah satu pihak nekat menggunakan kekuatan nuklirnya. Jika ini terjadi, baru nanti bisa dipahami, apa manfaat perang, kecuali kesengsaraan dan malapetaka bagi umat manusia.




