Rusia Tolak Usulan Prancis Adakan Penyelidikan Serangan Kimia di Suriah

Ilustrasi sidang DK PBB/ foto: Anadolu Agency

MOSKOW – Rusia telah menolak usulan Prancis pada pertemuan Dewan Keamanan PBB (UNSC) yang menyerukan diadakannya penyelidikan independen atas dugaan serangan kimia yang melanda bekas kota pemberontak Douma di Ghouta Timur Suriah.

Penolakan datang pada pertemuan darurat keenam DK PBB di Suriah sejak serangan kimia yang diduga merenggut nyawa sedikitnya 85 orang pada 7 April.

Serangan kimia tersebut telah dibalas dengan “serangan tiga kali” oleh AS, Prancis, dan Inggris, melalui serangan terkoordinasi terhadap tiga fasilitas kimia yang diduga dijalankan pemerintah.

Vassily Nebenzia, duta besar Rusia untuk PBB, mengatakan ide pembentukan mekanisme untuk menentukan tanggung jawab untuk penggunaan senjata kimia adalah sia-sia karena Washington dan sekutu-sekutunya sudah mengidentifikasi siapa “biang keladi” itu, merujuk serangan pimpinan AS pada Syria.

Rusia telah meminta pertemuan UNSC terbaru untuk membahas situasi kemanusiaan di Raqqa, yang telah berada di bawah kendali Pasukan Demokrat Suriah sejak mereka mereklamasinya dari Negara Islam Irak dan Levant (ISIL, juga dikenal sebagai ISIS) tahun lalu.

Nebenzia menyalahkan Amerika Serikat dan anggota koalisinya yang memerangi ISIS di wilayah itu untuk penghancuran Raqqa.

Namun di tengah meningkatnya ketegangan, Kelley Currie, wakil duta besar AS untuk urusan ekonomi dan sosial, menggambarkan seruan Rusia sebagai upaya untuk menjauhkan fokus dari “kekejaman” yang dilakukan oleh pemerintah Suriah.

Baik Rusia dan sekutunya, pemerintah Presiden Bashar al-Assad, telah membantah menggunakan senjata kimia dalam perang mereka melawan kelompok oposisi bersenjata di Suriah.

Advertisement