Saat Dapur Umum Dompet Dhuafa jadi Ruang Hidup dan Bercerita Para Penyintas

JAKARTA, KBKNEWS.id – Di tengah lumpur dan sisa banjir bandang yang melanda Kampung Menang Gini, Kecamatan Karang Baru, dapur umum Dompet Dhuafa menjelma lebih dari sekadar tempat memasak.

Ia menjadi ruang hidup, tempat warga bertahan, sekaligus ruang bercerita bagi para penyintas.

Dari panci-panci besar yang terus mengepul, sekitar 500 porsi makanan sederhana disiapkan setiap kali memasak. Sejak enam hari berdiri, dapur umum ini beroperasi dua hingga tiga kali sehari untuk memenuhi kebutuhan pangan warga yang kehilangan dapur dan bahan makanan akibat banjir.

Di belakang dapur umum, sebuah gedung difungsikan sebagai pengungsian bagi sekitar 60 warga. Sambil menunggu air surut, mereka mulai membersihkan rumah dari lumpur tebal. Dapur umum ini terbuka bagi siapa pun mulai dari penyintas, relawan, maupun warga sekitar yang ingin singgah, makan, dan beristirahat sejenak.

Bagi Zainab (55), juru masak sekaligus penyintas banjir, dapur umum menjadi tempat untuk tetap kuat. Meski rumahnya rusak parah dan dipenuhi lumpur, ia memilih menetap di pengungsian dan mengabdikan diri memasak bagi warga lain.

“Yang penting kita makan dulu, supaya tetap hidup,” ujarnya lirih.

Relawan Dompet Dhuafa memastikan pasokan bahan pangan terus tersedia meski akses menuju Kampung Menang Gini sempat terputus akibat jembatan runtuh dan jalan tertimbun material banjir. Wilayah ini menjadi salah satu titik terparah karena luapan air membawa lumpur dan gelondongan kayu besar yang merusak banyak rumah warga.

Di tengah keterbatasan itu, dapur umum Dompet Dhuafa terus mengepul. Selama makanan tersaji dan warga bisa berkumpul, dapur ini menjadi penopang kehidupan sekaligus ruang untuk saling menguatkan dan menuturkan cerita, agar harapan tetap menyala.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here