Saham BUMI Berbalik Menguat, Aksi Divestasi Investor China Masih Membayangi

OJK menilai kebijakan membuka data kepemilikan saham hingga ambang 1% mampu tekan praktik manipulasi harga atau “goreng saham" di pasar modal. (Foto: pixabay)

Jakarta, KBKNews.id – Saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI) berhasil berbalik ke zona hijau pada penutupan perdagangan Senin, 19 Januari 2025. Sebelumnya, saham tersebut sempat tertekan sepanjang sesi. Emiten batu bara milik konsorsium Grup Bakrie dan Grup Salim itu ditutup menguat 0,49 persen ke level Rp412 per saham.

Pergerakan positif ini terjadi setelah saham BUMI nyaris sepanjang hari bergerak di area merah. Bahkan, pada titik terendah intraday, harga saham sempat merosot hampir 5 persen hingga menyentuh Rp390 per saham.

Penguatan di akhir perdagangan terjadi di tengah adanya transaksi jumbo di pasar negosiasi. Tercatat, sebanyak 182,1 juta saham BUMI berpindah tangan dengan nilai mencapai Rp6,92 triliun. Transaksi tersebut dilakukan pada harga Rp380 per saham dan berlangsung dalam 14 kali transaksi.

Tekanan Jual Masih Membayangi Pergerakan Saham

Meski ditutup menguat, secara tren jangka pendek saham BUMI masih berada dalam tekanan. Dalam sepekan terakhir, harga saham tercatat turun sekitar 5,5 persen. Bahkan, jika dihitung dari harga penutupan tertinggi ke titik terendah intraday dalam periode tersebut, koreksi saham BUMI mencapai sekitar 16 persen.

Tekanan terhadap harga saham ini sejalan dengan aksi penjualan masif yang dilakukan oleh investor asal China, Chengdong Investment Corporation. Dia merupakan investor tidak langsung atas nama China Investment Corporation.

Mengacu pada keterbukaan informasi Bursa Efek Indonesia (BEI), Chengdong tercatat melakukan divestasi bertahap atas saham BUMI sejak 23 Desember 2025 hingga 8 Januari 2026. Dalam periode tersebut, total saham yang dilepas mencapai 3,71 miliar lembar.

“Aksi penjualan dilakukan dalam rangka divestasi,” demikian tertulis dalam keterbukaan informasi BEI.

Rangkaian Divestasi sejak Akhir 2025

Penjualan saham oleh Chengdong dilakukan secara intensif melalui 17 kali transaksi. Divestasi diawali pada 23 Desember 2025, dengan pelepasan 224 juta saham di harga Rp383 per saham, disusul penjualan 300 juta saham di harga Rp386 per saham pada hari yang sama.

Aksi jual berlanjut pada 24 Desember 2025, ketika Chengdong kembali melepas 300 juta saham di harga Rp374 serta tambahan 57,41 juta saham di harga Rp366 per saham.

Pada 29 dan 30 Desember 2025, Chengdong kembali menjual ratusan juta saham BUMI di kisaran harga Rp363–Rp367 per saham. Memasuki awal tahun 2026, divestasi berlanjut pada 2 Januari 2026 dengan penjualan saham di harga Rp393 hingga Rp409 per saham.

Gelombang penjualan kembali terjadi pada 5-7 Januari 2026, dengan harga yang relatif lebih tinggi di kisaran Rp460–Rp461 per saham. Rangkaian divestasi ditutup pada 8 Januari 2026 melalui penjualan 50,85 juta saham di harga Rp453 per saham.

Akibat aksi jual tersebut, porsi kepemilikan Chengdong di BUMI menyusut dari 22,27 miliar saham atau 5,99 persen menjadi 18,56 miliar saham atau 4,99 persen. Dengan demikian, Chengdong resmi tidak lagi tercatat sebagai pemegang saham dengan kepemilikan di atas 5 persen.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here