Rupiah Terus Tertekan

Nilai tukar rupiah terhadap dollar AS terus melorot, melliwati titik terendah saat krismon 1998 dan menuju kesimbangan baru di kisaran Rp17.000 per dollar AS. (ilustrasi: dok)

NILAI rupiah terhadap dollar AS yang terdepresiasi sejak akhir 2025 terus melorot, bahkan sudah melampaui titik terendah dibandingkan pada puncak krisis moneter, 17 Juni 1998 yakni Rp16.800 per dollar AS.

Bahkan kurs BRI (jual), pada sesi pembukaan Senin pagi (19/1) tercatat Rp16.950 per dollar AS atau sedang menuju keseimbangan nilai tukar baru di atas Rp17.000 per dollar AS.

Harian Kompas melaporkan (19/1), nilai tukar rupiah sebagai salah satu asumsi dasar APBN 2025 dipatok Rp16.000 per dollar AS, sementara berdasarkan data Kementerian Keuangan, realisasinya sepanjang tahun rata-rata Rp16.475/dollar AS.

Nilai tukar rupiah menjelang penutup tahun 2025 bahkan terpuruk ke Rp16.700 per dollar AS, lalu pada pekan I – II Januari ’26 kian tertekan pada rentang antara Rp16.785 hingga Rp16.880, sedangkan target pemerintah dalam asumsi dasar APBN 2026 adalah Rp16.500 per dollar.

Sementara Guru Besar Universitas Erlangga Rahma Gafni memperkirakan, penurunan nilai rupiah terhadap dollar AS hingga pekan II triwulan I, 2026 bakal mencapai Rp16.800  per dollar AS akibat tekanan eksternal.

Ia memperkirakan nilai rupiah bakal terus terdepresiasi dalam jangka pendek mau pun jangka panjang terutama akibat faktor eksternal yakni fenomena “China shock” di kancah ekonomi global sepanjang 30 tahun ini yang berdampak pada sentimen investor terhadap pasar negara berkembang.

Namun menurut dia, kondisi domestik yakni defisit transaksi berjalan yang terus melebar akibat tingginya impor bahan baku dan barang modal ikut menekan nilai tukar upiah.

Terus melemah

Sementara mengutip data dari Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR), perdagangan terakhir pekan lalu (15/1), ditutup pada level Rp16.800 atau melemah 0,92 persen dibandingkan posisi awal tahun yang ditutup di level Rp16.725 per dollar AS.

Sejumlah ekonom termasuk Managing Director, Chief India Ekonomist and Macro Strategist, ASEAN Economy HSBC Pranjul Bandhari memperkirakan, nilai tukar rupiah beroperasi di kisaran Rp17.000 per dollar AS sampai akhir 2026.

Hal senada disampaikan Ekonom Bright Institute Yanuar Rizky yang memperkirakan, ke depannya, rupiah bakal kembali tertekan pada periode Februari – Maret, Mei – Juni dan November – Desember 2026.

Rahma pada bagian lain menyebutkan, lonjakan harga akibat inflasi barang impor pada gilirannya akan menekan daya beli masyarakat terutama kelas menengah ke bawahyang daya belinya memang sudah tergerus.

Hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) oleh BPS menunjukkan, jumlah klas menegah turun sebanyak 9,48 juta orang dari 57,33 juta pada 2019 menjadi 47,85 juta orang pada 2024.

Laju penurunan ini lebih tinggi ketimbang periode 2018 – 2023 sebanyak 2,5 sampai 3,5 persen.

Menurunnya jumlah kelas menengah yang diharapkan jadi pembaharu dan penggerak pembangunan tentu bukan masalah sepele.  (Kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here