Hari Ulang Tahun Saka Bakti Husada (SBH) menjadi momentum penting untuk menegaskan kembali peran generasi muda dalam membangun masyarakat yang sehat, aman, dan bebas dari kekerasan. SBH lahir dari semangat Gerakan Pramuka untuk mendukung pembangunan kesehatan di Indonesia.
Sejak dibentuk oleh Kementerian Kesehatan bersama Gerakan Pramuka pada 1985, SBH dirancang sebagai wadah pendidikan dan pengabdian bagi Pramuka Penegak dan Pandega yang memiliki minat di bidang kesehatan. Tujuannya sederhana namun visioner, yakni mencetak kader muda yang menjadi pelopor perilaku hidup sehat sekaligus agen perubahan di tengah masyarakat.
Hingga kini, SBH memiliki sekitar 57.514 anggota yang tersebar di 2.147 pangkalan pada Puskesmas dan Unit Pelaksana Teknis (UPT) Kementerian Kesehatan di 30 provinsi. SBH juga menjadi satu-satunya Satuan Karya (Saka) Pramuka yang secara khusus berfokus pada bidang kesehatan. Posisi ini menjadikan kader-kader SBH sebagai ujung tombak dalam meningkatkan literasi kesehatan, mendorong pencegahan penyakit, serta memperkuat perlindungan kesehatan masyarakat.
Sejak awal, SBH tidak hanya menaruh perhatian pada kesehatan fisik, tetapi juga kesehatan jiwa dan sosial. Semangat “Bangunlah Jiwanya, Bangunlah Badannya” tetap relevan di tengah tantangan zaman. Di era digital, anak dan remaja menghadapi berbagai risiko baru, mulai dari adiksi gawai, tekanan media sosial, perundungan siber, hingga meningkatnya kasus kekerasan berbasis gender. Data menunjukkan hampir 35 persen remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental dalam 12 bulan terakhir, sementara sekitar 28 persen pengguna internet aktif bermain gim daring setiap hari. Kondisi tersebut menegaskan bahwa kesehatan jiwa remaja merupakan isu mendesak yang memerlukan perhatian bersama.
Dalam konteks tersebut, SBH memiliki peran yang semakin strategis. Dengan jaringan kader muda yang tersebar di berbagai daerah, SBH dapat menjadi sahabat sebaya yang mengedukasi tentang penggunaan internet secara sehat, mencegah perundungan siber, mendampingi teman-teman yang mengalami tekanan psikologis, serta menggerakkan kampanye komunitas untuk membangun budaya saling menghormati dan menciptakan lingkungan yang aman bagi perempuan dan anak. Pengalaman panjang SBH sebagai bagian dari Gerakan Pramuka memberikan modal sosial yang kuat untuk hadir langsung di tengah kehidupan anak dan remaja.
Momentum peringatan HUT SBH tahun ini juga semakin relevan dengan berbagai upaya kolaborasi lintas sektor yang dikembangkan pemerintah, seperti aplikasi DARA (Digital Addiction Response Assistant) dari Kementerian Komunikasi dan Digital serta layanan SATUSEHAT Mobile dari Kementerian Kesehatan. SBH dapat menjadi mitra strategis dalam menjembatani remaja dengan layanan-layanan tersebut, sekaligus memperkuat literasi digital dan kesehatan jiwa di tingkat komunitas. Dengan semangat pengabdian khas Pramuka, SBH menegaskan bahwa perlindungan perempuan dan anak serta kesehatan jiwa remaja merupakan tanggung jawab bersama.
Pada akhirnya, Hari Ulang Tahun Saka Bakti Husada bukan sekadar perayaan bertambahnya usia organisasi. Lebih dari itu, peringatan ini merupakan penegasan atas komitmen untuk menolak segala bentuk kekerasan, mendampingi remaja agar terhindar dari adiksi digital, serta menanamkan nilai-nilai kesehatan, empati, dan keadilan sosial dalam kehidupan bermasyarakat. Semangat kebangsaan yang melahirkan SBH lebih dari empat dekade lalu kini menemukan relevansi baru: menjadi gerakan moral yang memastikan setiap perempuan, anak, dan remaja Indonesia dapat tumbuh dalam lingkungan yang sehat, aman, suportif, dan penuh kasih.




