Sandera Israel-Amerika Serukan Bantuan Trump, Kritik Kebijakan Biden dan Netanyahu

Puing Bangunan Hancur di Serang Rudal Israel di Jalur Gaza

GAZA – Sayap militer Hamas, Brigadir Al-Qassam, merilis video yang memperlihatkan seorang sandera Israel yang juga berkewarganegaraan Amerika Serikat menyampaikan pesan kepada Presiden terpilih AS, Donald Trump, Sabtu (30/11/2024).

Dalam video tersebut, sandera bernama Eden Alexander berkata, “Kepada Presiden Trump, saya adalah seorang warga negara Amerika-Israel yang saat ini ditahan di Jalur Gaza. Sebagai seorang Amerika, saya selalu percaya pada kekuatan Amerika Serikat dan sekarang saya mengirimkan pesan saya.”

Ia meminta Trump untuk menggunakan pengaruhnya serta kekuatan penuh AS untuk bernegosiasi demi pembebasannya.

“Setiap hari di sini terasa seperti keabadian, dan rasa sakit dalam diri kami semakin bertambah. Tolong jangan ulangi kesalahan yang sama seperti yang dilakukan Joe Biden,” tambah Alexander.

Alexander juga mengkritik kebijakan pemerintahan Biden yang mengirim senjata, karena menurutnya senjata tersebut kini justru membunuh para sandera, sementara pengepungan yang tidak sah menyebabkan kelaparan. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak ingin kehilangan nyawa.

Dalam pesannya kepada Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, Alexander menyebutkan bahwa dirinya mendengar Netanyahu menawarkan 5 juta dolar AS (Rp79,2 miliar) untuk siapa saja yang berhasil membawa sandera kembali dengan selamat.

“Seorang perdana menteri seharusnya melindungi warganya dan tentaranya, tetapi Anda telah mengabaikan kami,” ucapnya.

Saat ini, Tel Aviv dilaporkan menahan lebih dari 10.000 warga Palestina di penjara-penjaranya. Di sisi lain, terdapat sekitar 101 sandera Israel yang masih berada di Gaza. Hamas menyatakan bahwa puluhan sandera telah tewas akibat serangan udara yang dilancarkan Israel secara sembarangan.

Oposisi di Israel dan keluarga para sandera menuduh Netanyahu menolak menghentikan perang serta menarik diri dari Gaza karena khawatir pemerintah koalisinya akan runtuh. Hal ini diperparah oleh ancaman dari menteri-menteri ekstremis untuk meninggalkan koalisi jika perang berakhir.

Hamas menegaskan bahwa konflik ini hanya akan berhenti jika Israel menghentikan kampanye militernya di Gaza, yang telah menewaskan hampir 44.400 orang sejak Oktober 2023.

Kecaman internasional terhadap genosida di Gaza semakin meningkat, dengan banyak pejabat dan lembaga menyebut serangan serta pemblokiran bantuan sebagai upaya sistematis untuk memusnahkan populasi.

Pada 21 November, Mahkamah Pidana Internasional (ICC) mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Kepala Otoritas Israel Benjamin Netanyahu dan mantan Kepala Pertahanan Yoav Gallant atas tuduhan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan di Gaza.

Israel juga menghadapi gugatan genosida di Pengadilan Internasional terkait perang yang telah menimbulkan banyak korban jiwa di Gaza.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here