spot_img

Sastrajendra Hayuningrat

PRABU Danaraja di negara Lokapala terkenal tajir, rekening gendutnya tercatat hampir di setiap bank, bahkan namanya juga masuk dalam “Panama Papers”. Kendaraan pribadinya serba luks dari Alphard hingga Bantley. Garasi pada istananya, mirip show room. Begitu juga koleksi rumahnya hampir ada di setiap real estate. Maka jika dia tampil hedonis dalam keseharian, itu sah-sah saja. Sebab harta yang diperolehnya secara halal, bukan karena main banggar atau mengawal proyek kementrian.

Namun sayang, meski kekayan Prabu Danaraja layak menjadi sasaran TA (Tax Amnesty), dia masih hidup menjomblo. Sebagai WP (Wajib Pajak), memang telah melaksanakan: ungkap, tebus, lega! Tapi sebagai lelaki dia belum pernah: singkap, tembus, lega! Maka  bila pikiran sedang “posing”, cukup booking artis buat teman dugem. Karenanya  patih Banendra berulangkali mengingatkan, agar sang prabu jangan larut dalam hobi dunia malam. Agar tenang hidupnya, seyogyanya segera menikah saja dengan wanita baik-baik. Bila mana perlu, mengawini bidadari kahyangan juga bukan hil yang mustahal.

“Atau Dewi Sukesi putri Prabu Sumali di Ngalengka, juga cantik, Sinuwun. Bodi seksi, betis mbunting padi, kulit putih, kayak Firsa Husin. Pokoknya, enak digauli dan perlu….,” Patih Banendra promosi.

“Apa iya? Tapi ngerokok nggak? Aku paling benci perempuan ngerokok. Yang bener aja, dicium kan bau tembako…..” ujar Prabu Danaraja memberikan alasan.

Begitulah, penguasa Lokapala tersebut minta Wantimja (Dewan Pertimbangan Raja) membentuk pansel  tentang Dewi Sukesi. Segala plus minus tentang putri Prabu Sumali itu ditelaaah, memenuhi aspek yuridis formil dan legal standing atau tidak. Terus terang Prabu Danaraja takut, hal ini memancing “hak angket” di DPR-nya Lokapala. Maklum DPR di negerinya itu kurang kerjaan, sedikit-sedikit angket, sedikit-sedikit angket. Kenapa angket cuma sedikit?

Berita Pansel Sukesi segera tersebar, dari majalah gosip, hingga jejaring sosial dunia maya. Begawan Wisrawa  ayah Prabu Danaraja, mendengar juga kabar sas-sus tersebut. Kebetulan dia kenal baik dengan Prabu Sumali. Jaman sama-sama kuliah di UGM Yogyakarta dulu, tinggal satu kos-kosan. Senang-susah dinikmati hersama, termasuk makan balok (singkong goreng) dan bacem tempe gembus.

“Anak sekarang memang suka ujas-ujus, jalan sendiri. Mau cari istri kok tidak minta restu orangtua. Tidak etis itu.” Ujar Begawan Wisrawa di depan para cantrik.

“Mungkin takut dipolitisasi, Begawan.” Jawab seorang cantrik.

Wisrawa sebagai tokoh sepuh yang sangat ditunggu fatwanya, meyakini bahwa lewat koneksi Prabu Sumali, tentu lamaran berjalan mulus. Maka selepas memberi tausiah pagi pada para cantrik, Begawan Wisrawa segera menelepon Danaraja bahwa siap melamarkan dewi Sukesi untuknya. Dijamin bakal diterima. Ibarat  sepeda motor, nantinya ratu Lokapala tersebut tinggal nyemplak, STNK-BPKB menyusul.

“Kamu jangan menafikan peran orangtua, dong. Ibarat pepatah anak polah bapak kepradhah, akulah nanti yang meminta Dewi Sukesi kepada Prabu Sumali sohibku….,” Begawan Wisrawa menggaransi.

“Bener nih rama? Nanti nikahnya di Balai Pustaka, eh Balai Kartini, ya.” kata Prabu Danaraja merenda sejuta mimpi.

Resi Wisrawa telah berusia 70 tahun. Tapi karena hobi olahraga jalan pagi tubuhnya masih nampak perkasa macam Mbah Maridjan. Jika di luar dinas kapanditan, ke mana-mana pakai celana jins komplit dengan  “ilmu hitam”–nya, yakni pakai semir  rambut Pikok. Makanya, meski sudah berusia Pepabri, penampilannya masih Akabri.

Begawan Wisrawa hari itu telah tiba di Ngalengkadiraja, ketemu langsung Prabu Sumali. Namanya ketemu teman lama, keduanya asyik bernostalgia. Ingat ketika dulu jajan bareng di warung dengan politik “darmaji” alias dhahar lima ngaku siji (makan lima ngaku satu). Setelah itu baru ke topik masalah, yakni untuk melamar Dewi Sukesi, yang cantik, putih, berjilbab tapi tidak pakai gordin di wajahnya itu.

“Aku sih kayak DPR Orde Baru sajalah, langsung setuju. Tapi Mas, semua kan terpulang pada pada pelaksana. Semoga saja gendhuk Sukesi tidak berkeberatan…..,” sahut Prabu Sumali penuh basa-basi politik.

“Tubuh Danaraja memang berat, tapi berapa kilo pastinya kan baru diketahui Sukesi setelah jadi istrinya.” Jawab Begawan Wisrawa, agaknya salah paham.

Dewi Sukesi lalu dipanggil, ternyata dia memiliki syarat khusus. Bukan sekedar LHKPN dan surat keterangan tidak terlibat G.30.S/PKI,  tapi calon suami harus mampu kupas-tuntas ilmu kebatinan bertajuk Sastrajendra Hayuningrat Pangruwating Diyu. Kata  Prabu Sumali, sudah banyak raja muda yang gagal naik pelaminan, karena mereka gagas membahas ilmu kuno tersebut.

Begawan Wisrawa tersenyum. Ilmu Sastrajendra Hayuningrat baginya sudah kelewat ngelotok. Kalau cuma ini sih, keciiiiil….! Karenanya Dewi Sukesi diminta masuk kamar khusus. Dari jubah Begawan Wisrawa pun lalu dikeluarkan buku tua tebal nan kusam, terbitan Balai Poestaka tahun 1917, Batavia Centrum.

Namun sungguh di luar skenario. Dewi Sukesi masuk kamar khusus tersebut justru dengan pakaian seksi. Bayangkan, meski atas pakai jilbab, tapi bawahannya pakai jins seksi, sehingga “boncengan”-nya demikian menggamit rasa merangsang pandang. Hal ini tentu saja bikin Begawan Wisrawa kedep tesmak (melotot). Untung saja dia begawan, sehingga masih bisa bertahan. Prinsipnya: gairah boleh naik, tapi iman tak boleh turun!

“Kali pertama baca kata pengantar penerbit dulu ya ndhuk…..!” kata sang begawan, sambil membuka halaman pakai ludah.

“Kenapa nggak  langsung bab III saja Eyang Begawan!” usul Dewi Sukesi.

“Lho, kok malah kamu yang nafsu duluan ta ndhuk?”

Belum juga ilmu Sastrajendra Hayuningrat dikupas, tiba-tiba kahyangan Jonggring Salaka geger, suhu udara meningkat 5 drajat. Para dewa kegerahan, banyak pula yang panas dalam, sehingga minum jamu Kaki Lima. Tak lama kemudian SBG (Sanghyang Betara Guru) ngetwit, bercuit tentang kemarahannya. Misalnya: kok begini bangsaku, rahasia dewa kok jadi konsumsi publik.

Bila isi buku tersebut dibedah habis, memang sama saja menelanjangi skandal  para dewa selama ini. Di situ bakal terbongkar berapa saja dan siapa saja dewa yang menerima aliran dana PT Freeport.  Lihat saja Sanghyang Tremboko, meski hanya dewa golongan III-a, mobilnya 19 dan rumahnya di ngarcapada puluhan. Maka banyak wayang heran, dia ini dewa apa developer BTN?

Kahyangan segera menyabot pembahasan ilmu Sastrajendra Hayuningrat itu. Bethara Guru merasuk ke dalam tubuh Begawan Wisrawa, sedangkan Dewi Uma masuk ke tubuh seksi Dewi Sukesi. Keduanya pun mendadak konak, lupa akan status masing-masing. Tadinya buka-buka buku antik, kini malah buka-bukaan mencari barang antik!

“Kretek Kewek di kota Yogya, biar tuwek masih doyan juga….” rayu Begawan Wisrawa.

“Kicak jenang jahe, krasa penak meneng wae.” kata Sukesi mengimbangi gairah Begawan Wisrawa.

Dewi Sukesi yang sudah kemasukan Dewi Uma, melayani saja segala nafsu birahi Sang Begawan. Hanya dalam tempo dua jam, skore sudah menjadi 3-0. Keluar dari kamar khusus Dewi Sukesi dalam kondisi acak-acakan dan termehek-mehek.

“Saya pilih jadi istri Begawan Wisrawa saja, rama….!” ujar Dewi Sukesi.

“Celaka! Kok melenceng dari skenario ini gimana?” Prabu Sumali bingung.

Sudah terlanjur mau apa lagi? Prabu Danaraja di Lokapala  demi mendengar Dewi Sukesi malah dikangkangi ayah sendiri, segera mengirim pasukan ke Ngalengka, hendak membunuh ayah kandungnya. Untung saja segera dipisah oleh Bethara Narada, bahkan dibisiki pula bahwa perkawinan Sukesi – Begawan Wisrawa termasuk grand design para pejabat kahyangan. Wayang ngarcapada macam Prabu Danaraja, tahunya mateng dibagehi, atau jika sudah meteng (hamil) dikabari!

“Gimana? Mau gugat? Prabu Danaraja bisa ditahan kayak wayang terkena OTT….!” Betara Narada sengaja menakut-nakuti. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

           

           

spot_img

Related Articles

spot_img

Latest Articles