Saudi Akan Tambah Lagi Kedai Minuman Beralkohol  

Pemerintah Arab Saudi, menurut Reuters, akan membuka kedai minuman alkohol (miras) d Dhahran dan Jeddah, menambah satu yang sudah ada di Riyadh). Hanya warga asing non-muslim asing yang diizinkan masuk. (ilustrasi: Rahman Haryanto)

ARAB Saudi dilaporkan akan menambah dua kedai minuman alkohol lagi sebagai bagian dari pelonggaran pembatasan yang terus berlangsung di kerajaan Islam tersebut.

Reuters (24/11), menyebutkan,  masing-masing kedai akan dibuka di Dhahran dan di Jeddah. menambah  kedai minuman beralkohol pertama yang dibuka di Riyadh pada 2024.  Toko hanya diperuntukkan bagi bagi non-Muslim.

Walau pemerintah belum mengeluarkan pernyataan resmi, beberapa sumber menyebut,  pembukaannya diperkirakan berlaaangsung pada 2026.

Kedai minuman beralkohol untuk non-Muslim yang akan dibuka di Dhahran, menurut salah satu dari tiga sumber yang berbicara kepada Reuters, akan dibangun di dalam kompleks milik raksasa minyak Saudi,  Aramco.

Sumber tersebut menambahkan bahwa toko itu “akan dibuka untuk non-Muslim yang bekerja untuk Aramco” dan pihak berwenang telah menyampaikan rencana tersebut kepada mereka.

Dua sumber lainnya mengatakan bahwa kedai ketiga juga sedang disiapkan untuk diplomat non-Muslim di kota Jeddah, yang menjadi lokasi banyak konsulat asing.

Meski pembukaan kedua kedai diperkirakan pada 2026, hingga kini belum ada jadwal resmi yang diumumkan. Kantor media pemerintah belum memberikan respons terkait rencana tersebut, sementara Aramco menolak berkomentar.

Kedai minuman keras di Riyadh

Sementara itu , kedai minuman beralkohol pertama di Riyadh dibuka tahun lalu di sebuah bangunan tak mencolok di kawasan diplomatik, dan dikenal sebagian diplomat sebagai “booze bunker”.

Tak ada perubahan regulasi yang diumumkan secara resmi setelah itu, namun menurut dua sumber, pelanggan kedai kini diperluas untuk mencakup pemegang kartu Saudi Premium Residency non-Muslim — gelar yang diberikan kepada pengusaha, investor besar, dan individu bertalenta khusus.

Sebelum adanya toko di Riyadh, minuman beralkohol pada umumnya hanya bisa diperoleh melalui kiriman diplomatik, pasar gelap, atau peracikan rumahan.

Dibandingkan negara Teluk lainnya, peredaran minuman beralkohol masih tergolong ketat di Arab Saudi, sementara negara seperti Uni Emirat Arab dan Bahrain memperbolehkannya dengan pembatasan, dan Kuwait tetap melarang secara penuh.

Menurut catatan, Putra Mahkota Saudi Mohammed bin Salman (MBS) melakukan sejumlah pelonggaran di Arab Saudi untuk menggenjot pendapatan dari pariwisata.

Reformasi sosial di bawah MBS

Meski minuman beralkohol tetap dilarang bagi sebagian besar penduduk Saudi, reformasi sosial di bawah kepemimpinan Pangeran MBS telah membuka berbagai aktivitas baru.

Kini, baik warga Saudi maupun warga asing dapat menikmati kegiatan yang dulu dianggap mustahil, mulai dari menari dalam pesta musik di gurun hingga menonton film di bioskop.

Reformasi lainnya termasuk pemberian izin mengemudi bagi perempuan pada 2017, pelonggaran aturan pemisahan gender, serta pengurangan kewenangan polisi agama.

Transformasi ini dimaksudkan untuk menarik wisatawan dan investor global sebagai upaya besar diversifikasi ekonomi.

Pada Mei lalu, laporan media yang tersebar di kalangan internasional menyebut bahwa pemerintah Saudi bermaksud mengizinkan penjualan alkohol di kawasan wisata menjelang Piala Dunia 2034.

Namun laporan itu dibantah oleh pejabat Saudi dan tidak mencantumkan sumber informasi yang jelas. Berita tersebut sempat memicu perdebatan sengit di medsos, terutama mengingat status Raja Saudi sebagai Penjaga Dua Masjid Suci di Makkah dan Madinah.

Pengembangan pariwisata

Pariwisata terus berkembang di mana Saudi kini memperluas destinasi wisata melalui mega proyek Red Sea Global dengan menargetkan pembukaan 17 hotel baru pada Mei 2026.

Meski menyasar turis premium, resor ultra-luxury ini tetap tidak menyediakan minuman beralkohol.

Dalam wawancara dengan Reuters awal bulan ini, Menteri Pariwisata Saudi Ahmed Al-Khateeb menyatakan, “Kami memahami, sebagian wisatawan asing ingin menikmati minuman beralkohol ketika mereka mengunjungi destinasi di Arab Saudi, tetapi sejauh ini belum ada perubahan”.

” Saat ditanya kembali apakah kata “belum” berarti ada kemungkinan perubahan dalam waktu dekat, ia menjawab, “Saya serahkan kepada Anda bagaimana menafsirkannya.”

Bir tanpa alkohol, kudapan kacang, dan layar lebar bertema olahraga kini menjadi pemandangan yang tidak lagi asing di Riyadh, Arab Saudi.

Suasana ala pub (tempat minum) itu hadir di tengah ibu kota Arab Saudi, ketika sejumlah kafe menawarkan pengalaman “minum bir” tanpa risiko mabuk bagi pelanggan berjubah putih maupun perempuan bercadar.

“Idenya adalah menawarkan pengalaman orisinal kepada pelanggan yang dapat mereka bagikan di medsos,” ujar Abdallah Islam, manajer kafe A12 di Riyadh, kepada AFP.

Di kafe tersebut, sejumlah perempuan Saudi tampak sesekali mengangkat cadar untuk menyesap bir dingin yang disajikan. “Apakah ada alkohol di sini?” tanya seorang pelanggan sambil menatap gelasnya dengan ragu.

Suasana ganjil dengan para perempuan bercadar yang saling bersahutan dan para lelaki bersorban merekam diri mereka, menjadi gambaran perubahan perlahan di kerajaan konservatif itu, tempat berbagai norma sosial mulai disentuh seiring bergulirnya reformasi.

Kini CEO Perusahaan Bernilai Rp 83.000T Kafe A12 berada di salah satu jalan tersibuk di Riyadh dan menampilkan gambar bir berbusa berukuran besar di jendelanya.

Selalu hampir penuh

Sejak mulai menawarkan bir draft Warsteiner Jerman berkadar alkohol 0,0 persen pada April lalu, kafe tersebut hampir selalu penuh.

Bir dituangkan dari keran, disajikan dalam gelas besar, dan ditemani kacang layaknya di pub. Pelanggan muda mengenakan gamis putih mengabadikan pengalaman itu, sementara pelayan menarik bir di balik meja bar hitam mengilap.

Di sudut ruangan, layar televisi menayangkan pertandingan sepak bola. Sejak Putra Mahkota Arab Saudi MBS  menggalang rangkaian reformasi sosial, bioskop kembali hadir, perempuan diizinkan mengemudi, dan turis asing mulai berdatangan. Meski demikian, batasan soal alkohol tetap dipertahankan.

Arab Saudi melarang minuman keras sejak 1952, setelah putra Raja Abdulaziz saat itu mabuk dan menembak mati seorang diplomat Inggris.

Larangan itu bertahan hingga kini, menjadikan Arab Saudi dan Kuwait sebagai dua negara Teluk yang masih menutup pintu bagi peredaran minuman beralkohol.

Selama bertahun-tahun, sebagian warga memilih membuat anggur ilegal secara sembunyi-sembunyi, sementara lainnya mengandalkan pasar gelap di mana sebotol wiski bisa dihargai ratusan dollar.

Kedai minuman keras pertama

Pada Januari 2024, kerajaan membuka kedai minuman keras khusus diplomat non-Muslim di Riyadh. Namun alkohol dipastikan tidak akan disajikan selama Piala Dunia 2034.

“Kerajaan harus berhati-hati dengan potensi legalisasi alkohol, karena hal itu akan bertentangan dengan citranya sebagai pemimpin dunia Islam yang kredibel,” kata Sebastian Sons dari lembaga riset Jerman CARPO.

Di tengah perdebatan itu, kafe A12 justru menarik perhatian warga muda Saudi yang penasaran dengan bir 0,0 persen tersebut. “Tampilannya menakutkan, seperti alkohol,” kata Sheikha (18), yang meminta hanya disebut nama depannya. “Kata ‘bir’ saja sudah menakutkan. Tapi saya berhasil mengatasi rasa takut saya, dan sejujurnya, rasanya menyegarkan,” ujarnya sambil tertawa.

Ia datang setelah melihat video viral tentang kafe itu di TikTok. Bagi manajer kafe, A12 berupaya memberi pengalaman baru tanpa melanggar norma yang ada.

Hal itu menjadi tantangan di negara dengan mayoritas populasi usia muda yang ingin mencoba hal-hal baru, tetapi masih berada dalam batasan nilai sosial dan agama.

“Di negara kami, tidak ada minuman beralkohol,” kata Ahmed Mohammed (18) sambil menunjukkan gelas kosongnya.“Dan kami tidak ingin ada minuman beralkohol,” tegas dia.

Semoga ciri-ciri Kerajaan Arab Saudi sebagai Penjaga dua Kota Suci tetap terjaga. (ns/AFP/Reuters/Kompas.com/ns)

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here