
JAKARTA – Apakah Anda termasuk orang yang sulit membuang barang-barang lama yang sudah tidak terpakai dan lebih suka menyimpannya walau membuat rumah jadi sempit?
Bisa jadi Anda sedang mengalami hoarding disorder yakni salah satu gangguan kesehatan mental yang membuat penderita gemar mengumpulkan atau menimbun barang-barang, bahkan yang tidak berguna sekalipun.
Perilaku tersebut dilakukan karena karena menganggap barang itu akan berguna di kemudian hari, mengingatkan pada suatu peristiwa, atau merasa aman ketika dikelilingi benda-benda tersebut. Kesulitan untuk membuang atau menjauhkan benda-benda yang dimiliki karena adanya keinginan yang kuat untuk menyimpannya.
Penderita kemudian akan merasa stres ketika harus membuang barang-barang tersebut. Akibatnya, barang-barang terus menumpuk lebih banyak, padahal sebagian di antaranya cenderung tidak bernilai atau sudah rusak.
Dikutip dari laman Kemenkes, hoarding disorder terkadang bisa sulit diobati karena banyak penderitanya tidak menyadari bahwa perilaku ini bermasalah. Kondisi ini kerap dialami oleh para penderita gangguan kepribadian obsesif kompulsif.
Adapun penyebab hoarding disorder belum diketahui secara pasti. Namun, ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami kondisi ini, yaitu mengalami gangguan mental, seperti depresi, skizofrenia, dan gangguan obsesif kompulsif (OCD).
Atau dibesarkan dalam keluarga yang tidak mengajari cara memilah barang, memiliki keluarga yang juga menderita hoarding disorder, pernah mengalami kesulitan ekonomi dan kehilangan harta benda akibat kebakaran atau bencana alam.
Penderita hoarding disorder umumnya jarang memeriksakan diri ke dokter karena merasa tidak ada yang salah atau janggal dengan perilakunya. Jika keluarga atau orang terdekat Anda menunjukkan gejala kondisi ini, ajaklah mereka untuk berkonsultasi ke dokter.
Untuk mendiagnosis hoarding disorder, dokter akan bertanya seputar riwayat kesehatan pasien dan kebiasaannya memperoleh atau menyimpan barang. Dokter juga dapat menanyakan kondisi pasien dan keadaan rumahnya kepada orang terdekat pasien.
Selanjutnya, dokter akan menggunakan kriteria Diagnostic and Statictical Manual of Mental Disorders (DSM-5) untuk mendiagnosis hoarding disorder.




