
LANSIA Indonesia terus bertambah dari tahun ke tahun, baik jumlah maupun persentasinya, sehingga agar tidak terkesan “habis manis sepah dibuang” layanan bagi mereka harus terus diperbaiki.
BPS seperti dikutip Kompas (19/8) menyebutkan, jumlah lansia 24,5 juta jiwa (9,27 persen) pada 2018, bertambah menjadi 25,9 juta jiwa (9,7 persen) tahun ini, diprediksi 27,1 juta jiwa (9,99 persen) pada 2020, kemudian 42 juta (13,8 persen) pada 2030, naik lagi menjadi 48,2 juta (15,77 persen) pada 2030 dan 63,3 juta jiwa (19,8 persen) pada 2045.
DI Yogyakarta menempati urutan pertama (12,37 persen) penduduk lansia pada 2018, disusul Jawa Tengah (12,34 persen), Jawa Timur (11,66 persen), Sulawesi Utara (10,26 persen) dan Bali (6,8 persen).
Yang menjadi persoalan, saat kondisi fisik semakin renta digerus usia, tidak semua lansia beruntung, bukannya hidup santai menghabiskan sisa-sisa hidup, malah harus mulai membanting tulang.
A, mantan GM sebuah BUMN di Jakarta. Saat masih aktif hidup berkecukupan, sering melanglang buana walau atas biaya dinas, punya rumah di Perumnas, Depok dengan mencicil, juga mobil serta tidak pernah merepotkan biaya pengobatan sekeluarga dan biaya hidup.
Kini di usia 70 tahun, selain fisiknya renta digerorgoti usia, ia juga mengidap diabetes dan gangguan jantung, A terpaksa alih profesi baru jadi pengemudi ojek online (ojol), di terpa terik matahari atau guyuran hujan, memapaki jalan-jalan ibukota yang macet dan polusi udara.
Uang pensiun di bawah Rp2-juta yang diterima A setiap bulan, hanya cukup untuk membeli sembako, bayar iuran listrik dan kebutuhan sehari-hari lainnya bersama isteri dan anaknya yang masih menganggur.
A masih beruntung, ongkos Trans Jakarta digratiskan untuk lansia, juga ia bisa memanfaatkan fasilitas BPJS untuk rutin periksa dan berobat.
Banyak lansia mantan pekerja non-formal, tidak ada alasan bermanja-manja jika masih ingin hidup, bahkan harus terus membanting tulang melawan fisik yang makin rapuh dan penyakit yang tak mau kompromi.
Pemerintah perlu menyiapkan masa depan lansia , apalagi 70 persen lansia yang lahir di bawah 1975 lulusan SD hingga selain rentan terkena penyakit degeneratif, kemampuan keuangan dan produktivitas mereka rata-rata rendah dan tak memiliki tabungan dan jaminan hari tua.
Belum lagi, hal itu diperparah lagi karena berdasarkan Riset Kesehatan Dasar 2018, sekitar dua pertiga kaum laki mengosumsi tembakau.
Sebagai bangsa yang menghargai orang tua, selayaknya selain memperluas layanan kesehatan dan jaminan hari tua hingga para pekerja informal, perlu dipertimbangkan insentif lain seperti potongan atau pembebasan dari berbagai biaya.
Tingkatkan terus perhatian dan layanan bagi lansia agar mereka bisa menikmati kemerdekaan RI yang sudah mencapai tahun ke-74 dan juga di sisa-sisa hidup mereka. (Kompas, NS)




