SCO: Prakarsa China Hadang AS

China menggelar KTT Shanghai di Samarkand, Uzbezkistan, 15 dan 16 Sept. lalu untuk menggalang negara-negara di kawasan Asia Tengah, Arab dan bersama Rusia menghadang dominasi dan hegemoni AS.

CHINA  menggelar KTT Organisasi Kerjasama Shanghai (SCO) dihadiri 15 kepala negara dan 10 kepala organisasi int’l di Samarkand, Uzbekistan, 15-16 Sept. dalam upaya menahan hegemoni dan dominasi Amerika Serikat dan Barat.

Iran dipimpin Presiden Ebrahim Raisi langsung menjadi negara ke-9 anggota penuh pada 2017 setelah sebelumnya China sendiri, Rusia, Kazakhstan, Kirgistan, Tajikistan dan Uzbekistan dulu bergabung.

SCO dimotori oleh negara adhidaya China dan Rusia yang berada di epicentrum negara-negara dengan prakarsa ekonomi berskala besar,  nantinya menjadi blok transregional terbesar dunia dan entitas penting bagi masa depan Euroasia.

Negara-negara SCO secra kolektif memiliki pasar amat bear, kaya sumberdaya mineral serta menjadi kluster manufaktur yang kuat, dengan wilayah yang membentang dari  Arktik di belahan utara hingga Samudera Hindia d selatan atau dari Lianyungang, China Timur hingga Kaliningrad, Rusia.

Kawasan tersebut meliputi 60 persen luas Eurasia Raya yang dihuni sekitar  42 persen atau hampir separuh populasi dunia, sementara wilayah cakupan SCO menyumbang sekitar 20 sampai 25 persen produk domestic bruto global.

Semula, SCO yang diinisiasi oleh Rusia dan China lahir dari kerjasama lima negara: China, Rusia, Kazakhstan, Kirgistan dan Tajikistan yang dijuluki “Shanghai Five”  pada 16 April 1996, diawali sebagai wadah perundingan terkait perbatasan pasca runtuhnya Uni Soviet, lalu berkembang ke soal keamanan dan perdagangan.

“Incar” Asia Tenggara

Nama resmi SCO dimulai pada 2001, dalam KTT ke-22 di Samarkand, selain melakukan pengayaan dan pengembangan konsep kerjasama, juga perluasannya, mulai dari Asia Selatan, Asia Tengah, Eropa Timur, Arab, bahkan sudah disebut-sebut Asia Tenggara.

KTT Samarkand dilaporkan juga telah mengadopsi 40 dokumen kerjasama di berbagai bidang a.l. ekonomi digital, perdagangan, keuangan, energi, iptek, sosbud, kontak antarindividu dan perubahan iklim.

Selain dianggap sebagai sukses diplomasi China dan manfaatnya bagi keamanan dan stabilitas di kawasan Eurasia Raya, pengamat juga melihat sisi kerentanan SCO.

Rusia langsung menuai manfaat di komunitas SCO, misalnya di tengah sanksi embargo yang dikenakan AS dan Barat setelah invasinya ke Ukraina 24 Feb. lalu, masih bisa melakukan ekspor-impor dengan negara-negara forum SCO terutama China dan India.

Begitu pula, China dan India, bisa mengimpor energi (BBM) Rusia sebanyak-banyaknya dengan diskon besar pula, saat negara itu membatasi ekspornya ke negara-negara Uni Eropa yang mendukung Ukraina.

Sebaliknya, dengan negara-negara di Asia Tengah eks-Uni Soviet, kini China da Rusia saling berebut pengaruh, dan China yang maju pesat perekonomiannya, untuk sementara di atas angin. Berbagai kerjasama perdagangan dan investasi dijalin China dengan negara-negara tersebut.

Begitu pula dua kekuatan di Asia Selatan yakni China dan India, dimana keduanya pernah terlibat konflik militer terkait sengketa perbatasan.

Untuk menghadang hegemoni AS saat ini, kehadiran SCO agaknya cukup memadai, tetapi tidak dalam jangka panjang, dimana tiap  negara juga memiliki persoalan nasional sendiri-sendiri. (AP/AFp/Reuters/ns)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement