
CHINA kembali meradang dengan merespons lawatan Presiden Taiwan Tsai Ing Wen ke Amerika Serikat dengan menggelar latihan militer besar-besaran di perairan Selat Taiwan mulai Sabtu sampai Senin (8 – 10 April).
Sementara di tengah protes China, Tsai dalam lawatan ke dua negara di Amerika Tengah yang menjalin hubungan diplomatik yakni Belize dan Guatemala, menyempatkan diri menemui Ketua DPR AS, Kevin McCarthy di Simi Calley, California, AS (6/4) lalu.
Komando Palagan Timur Tentara Pembebasan Rakyat (PLA) seperti dikutip AFP dan Reuters (8/4), latgab bersandi “Pedang Pemersatu” (Joint Swords) digelar di utara, selatan dan timur Taiwan difokuskan untuk operasi lintas laut dan udara.
Dilaporkan, salah satu dari dua kapal induk China, Shandong sudah ada diperairan tersebut sejak Rabu lalu bersama sejumlah kapal perang lain dalam armada gugus tempur lautnya.
Pengamat militer China Zhang Xuefeng seperti dikutip harian The Glonal Times, China menyebutkan, lokasi latihan merupakan wilayah strategis untuk memblokade Taiwan dari akses keluar masuk ke Jepang.
Selain menggelar latihan militer, kegusaran China atas lawatan Tsai ke AS juga dilampiaskan dengan pernyataan-pernyataan keras di media sejak Rabu lalu.
AS sendiri sejak 1979, sesuai dengan kebijakan “Satu China” yang diberlakukan sejak 1979 tidak menjalin hubungan diplomatik dengan Taiwan, walau faktanya, hubungan ekonomi keduanya terus tumbuh, bahkan AS juga berjanji akan melindungi Taiwan jika sewaktu-waktu diserang China.
Militer Taiwan vs China
Taiwan dengan anggaran militer hanya 13,72 miliar dollar AS (Rp212,7 triliun) pada 2023 dibandingkan China 224 miliar dollar AS (Rp.3,472 triliun) atau ranking ke-2 setelah AS tentu bagai bumi dan langit.
China memiliki dua juta lebih tentara, didukung 5.400 tank, 13.000 panser, 9.834 pucuk artileri, peluncur roket dan rudal, didukung 600 kapal perang termasuk tiga kapal induk dan 70 kapal selam serta 1.600 pesawat termasuk 400 pesawat tempur.
Selain itu, China juga merupakan salah satu kekuatan nuklir dengan berbagai rudal seri Dong Feng berhulu ledak nuklir yang siap sedia sebagai kekuatan penggentar selain kekuatan senjata konvensionalnya.
Sebaliknya, total tentara Taiwan 169.000 orang, didukung 1.100 tank dan 3.700-an panser, 2.093 artileri dan 115 peluncur roket, 30-an kapal perang, 300-an pesawat tempur.
Namun Taiwan juga tidak bisa dianggap remeh, walau kecil dalam jumlah, tentaranya sangat terlatih dan menggunakan persenjataan canggih terutama yang dipasok AS dan negara-negara Barat lain.
Lagi pula, jika China nekat menyerbu Taiwan, tentu AS dan konco-konconya terutama seluruhnya 31 negara yang bernaung di bawah NATO akan berpangku tangan
Sejauh ini, konflik Taiwan dan China hanya sebatas retorika terutama ancaman China untuk merebut Taiwan yang dianggap bagian wilayahnya, melakukan latihan perang di Selat Taiwan atau menyusupkan pesawat-pesawatnya ke Zona Identifikasi Pertahanan Taiwan – ADIZ).
Taiwan berusaha membebaskan diri dari China daratan sejak kekalahan kubu Partai Kuomintang pimpinan Chiang Kai Shek dari pasukan komunis China pimpinan Mao Zedong pada 1949.
Dalam Kongres Partai Komunis China, bulan lalu, Presiden Xi Jin Ping agak melunak dengan menyatakan akan menyatukan kembali Taiwan dengan cara damai.
Taiwan sendiri baru diakui oleh 13 negara-negara kecil di Amerika Selatan dan Pasifik walau hubungan ekonominya dengan berbagai negara di dunia terus berkembang pesat.
Semoga, gertakan-gertakan China untuk menginvasi Taiwan hanya sebatas retorika, tidak berlanjut pada aksi sebenarnya, cukup untuk meramaikan situasi agar tidak terlalu sepi.




