
“BAGAIMANA ceritanya dimas Harjuna, kok kamu bisa ketemu Supala dan ditelikung sampai tak bisa bergerak. Untung ada saya……” kata Harjuna niru-niru pelawak Gepeng almarhum dari Srimulat.
“Auah gelap! Perlu kangmas Prabu ketahui, sebetulnya saya mau ngeprank Supala, pura-pura kalah dulu, eh…kok sampeyan tolong. Kan jadi kacau! Gara-gara kangmas Prabu adol gendhung (pamer kesaktian), Harjuna jadi gagal bikin kejutan.” Jawab Harjuna dengan wajah cemberut.
Tentu saja Prabu Kresna terkaget-kaget. Orang ditolong kok bukannya berterima kasih, tapi malah memarahi yang berusaha menolongnya. Padahal jika melihat realitas di lapangan, terlambat beberapa detik saja Prabu Kresna bertindak, Harjuna tinggal nama. Tapi karena tahu akan karakter asli adik iparnya ini, Prabu Kresna pada akhirnya minta maaf, karena salah memberi pertolongan pada pihak yang tidak membutuhkan bantuannya.
Padahal lainnya Prabu Kresna pasti marah, ketika adik iparnya mau kawin lagi, apapun alasannya. Tapi dianya malah membantu misi adik iparnya ini, yang ujung-ujungnya bisa bikin sakit hati Wara Sembadra adik kandungnya. Tapi ketika tahu karakter kedua sosok ini tentulah jadi maklum. Soalnya Kresna-Harjuna ini punya kegemaran yang sama, yakni KB alias kolektor bini meski bukan kader dari PKS.
Sementara Harjuna mendiamkan Prabu Kresna, sayembara revitalisasi Taman Maerakaca pun nyaris usai. Sebab tak ada peserta lain kecuali Harjuna tunggal. Sebetulnya bisa saja Prabu Drupada menyerahkan Srikandi pada Harjuna tanpa embel-embel sayembara segala, karena dia sudah cocok pada pandangan pertama. Tetapi mana mau Harjuna diperlakukan seperti itu, karene ksatria Madukara ini sosok yang gengsinya tinggi.
“Anakmas Harjuna, bagaimana kalau Srikandi putriku kuserahkan padamu tanpa pakai sayembara segala? Nanti revitalisasi Taman Maerakaca biarlah dicover pakai dana APBN saja.” Kata Prabu Drupada masih juga menjajagi pribadi Harjuna.
“Terima kasih rama Prabu Drupada. Ksatria Madukara pantang makan barang gratisan. Dulu waktu tetak (sunat) bukan lewat sunatan masal, menikahi Sembadra juga bukan karena kawin Hansip. Jadi bagaimana pun juga saya harus menyelesaikan dulu revitalisasi Taman Maerakaca ini.” Jawab Haruna santun.
Tuh kan! Jawab Harjuna tak jauh beda dengan prediksi Prabu Drupada. Maka raja Pancala ini hanya acungkan jempol dan kemudian menyalami Harjuna untuk selanjutnya selamat bekerja dan berjuang. Prabu Drupada lalu meninggalkan Harjuna, karena siang ini ada jadwal sidang istana Pancala untuk cek persiapkan angkutan Lebaran beserta arus baliknya.
Sepeninggal balon (bakal calon) mertua, Harjuna bergegas ke areal proyek Taman Maerakaca, lengkap dengan topi proyeknya. Jika rambutnya sudah memutih, pasti Harjuna dikira Menteri PUPR Basuki Hadimulyono, menteri kesayangan Presiden Jokowi. Tapi alangkah kagetnya, Taman Maerakaca yang selama ini berantakan, kok tiba-tiba sudah rapi dan indah sesuai bestek proyek. Siapa ini yang lancang menyerobot proyek yang menjadi tanggungjawabnya?
“Nah, silakan bengong sampai tua! Bandung Bondowoso dan Sangkuriangmu nggak laku di kahyangan…..” tiba-tiba terdengar suara misterius tanpa wujud. Suaranya bergaung sepertinya pakai eho.
“Maaf, apakah ini suara pukulun Bethara Kamajaya?” Harjuna menebak-nebak.
“Iya betul. Bandung Bondowoso-Sangkuriang membutuhkan waktu semalam, di RRT sehari semalam baru kelar. Proyek kahyangan bisa beberapa jam saja.” Suara misterius itu menjelaskan lebih rinci.
Aduh, Harjuna malu sekali. Kemarin memang sudah ketemu dengan dewa paling tampan se Jonggring Salaka tersebut, eh kok sekarang benar-benar terwujud. Lagi-lagi Harjuna hanya bisa mengucapkan terima kasih. Mau menolak jelas tidak mungkin. Cuma ada nasihat yang agak nyakitin. Apa itu? Harjuna jangan kemudian bikin PT dan selanjutnya memborong proyek-proyek pemerintah tanpa modal. Ini namanya serakah, memperalat dan memanfaatkan dewa. Ini bakal dimusuhi kontraktor lain dan dewa. Bisa dikutuk jadi monyet nanti.
Demikianlah, sayembara revitalisasi Taman Maerakaca telah dimenangkan oleh Harjuna. Sesuai dengan kesepakatan, Harjuna-Wara Srikandi dinikahkan secara bedholan (panggil penghulu ke rumah). Harjuna pun segera memboyong istri barunya ke Madukara. Resepsi akan diselenggarakan habis Lebaran. Adapun acara “mbelah duren”-nya bisa kapan saja, karena sudah halalan tayiban wa asyikan. (Ki Guna Watoncarita)


