SENAPATI BARATAYUDA

Dewi Arimbi meski bertampang Pringgodani akhirnya kalah dalam survei. Akhirnya Gatutkaca yang maju.

DALAM Kartu Keluarga (KK) Werkudara di kesatrian Jodipati, status Dewi Arimbi sesungguhnya hanya disebut: ibu rumahtangga. Namun di sisi lain, dia punya jabatan bergengsi di negeri Pringgodani, yakni sebagai Ketua Dewan Kraton. Dia punya kekuasaan lebih mutlak dari Gatutkaca ratu Pringgodani itu sendiri. Meski Gatutkaca telah memutuskan sebuah kebijakan, jika Dewi Arimbi tidak berkehendak, bisa batal itu barang! Memang, tampang Pringgodani-nya demikian nyata dia.

Sebagai ketua Dewan Kraton, kesibukan Dewi Arimbi luar biasa, dan selalu diutamakan dari yang lain. Misalnya ada undangan HUT negeri Amarta di Istana Indraprasta, dia tak penah mau hadir, karena menyibukkan diri dalam posisinya. Walhasil saat Werkudara hadir di ultah negerinya selalu  tak pernah sarimbit (berdua). Sampai Werkudara malu menghadapi pers, karena dari tahun ke tahun Arimbi selalu allergi pada Istana Indraprasta.

“Ibu tak bisa hadir lagi Boss, kabarnya malah ke Australia, ya?” tanya pers belum lama ini.

“Ya, meninjau home industri bumerang dan ikut konperensi klub penyayang kangguru.” Jawab Werkudara sekenanya dan terus menghindar.

Suami istri ini memang selalu ngrujak sentul, tak pernah seirama. Werkudara keras kepala, tapi Arimbi lebih keras kepala lagi. Namun sekeras-kerasnya kesatria Jodipati tesebut, asal bolong silite (sedang berkenan) bisa dibuat tali temali. Beda dengan Dewi Arimbi, bila sudah bilang tidak, jadi seperti sayembara isi TTS; keputusan juri tak bisa diganggu gugat!

Seperti saat menghadapi isyu Perang Baratayuda di tahun 2019, sebagai negeri di luar jalur Amarta – Ngastina, sebenarnya Arimbi tak perlu pusing ikut memikirkannya. Tapi dia tidak. Dia ingin juga menjadi senopati dalam peperangan tersebut. Ikut kubu Amarta boleh, ikut kubu Ngastina juga nggak masalah. Yang penting nantinya bisa ikut terjun dalam kancah peperangan di Tegal Kurusetra.

“Jadi senopati Perang Baratayuda tau nggak resikonya? Mati! Kamu mau mati konyol hanya demi sebuah gengsi?” nasihat Werkudara sekali waktu.

“Tapi kan jadi pahlawan. Nanti namanya diabadikan buat nama jalan, siapa tahu jadi pengganti nama Jalan Medan Merdeka.” Jawab Arimbi tetap ngeyel.

Di zaman serba canggih ini, elektabilitas calon senopati juga diukur dari survei. Ternyata perolehan angka Arimbi hanya sekitar 10 %, sementara Gatutkaca anak kandung sampai 50 %. Namun demikian orang-orang sekitar Dewi Arimbi yang demen ngathok (carimuka), selalu mendorong Ketua Dewan Kraton itu maju sendiri. Bagi mereka, soal kekalahan nomer dua, yang penting bisa menyenangkan hati Dewi Arimbi.

Dewi Arimbi ini sebetulnya wayang bodo, tapi karena bisa menjadi sumber rejeki bagi para pengikutnya, misalnya jadi anggota DPR, ya tetap dihormati dan disuyuti. Apapun kata dia, selalu dianggap benar dan didukung tanpa reserve. Herannya, rakyat Pringgodani juga sangat hormat padanya. Sebab yang dilihat bukan Arimbinya, tapi dia sebagai anak keturunan Prabu Tremboko, pendiri Pringgodani. Sayangnya, Arimbi ternyata hanya anak lahiriah Tremboko, sedang otak dan jiwanya tidak.

“Kesampingkan hasil survei, kakang embok harus maju sendiri,” kata Brajadenta yang selalu pakai wig, memberi semangat.

“Tapi percuma. Capek kalian gotong-gotong gambar Prabu Tremboko karena tak juga menaikkan elektabilitas putrinya,” kata Werkudara yang sering berseberangan dengan istri sendiri.

Sementara itu di negeri Trajutrisno, isyu senapati Perang Baratayuda 2019 juga telah merebak. Prabu Setija yang juga bukan trah Pendawa maupun Ngastina, diam-diam berminat pula. Apa modalnya? Di samping punya kesaktian tentunya, dia memiliki koneksi yang sangat tinggi, yakni Prabu Kresna sang ayah yang selama ini menjadi penasihat Ngamarta. Pikir Setija, asal raja Dwarawati itu sudah memberi memo atau disposisi, mana berani kubu Ngamarta menolak.

“Percuma aku punya ayah yang jadi konsultan Pendawa, jika tak bisa manfaatkan  koneksi ini.” Ujar Prabu Setija saat menghadap Prabu Kresna di Dwarawati.

“Tapi kamu sama saja menempatkan bapakmu di posisi yang sulit,” gerutu Prabu Kresna. Namun sebagai orangtua, tak bisa lain kecuali hanya mendorong ambisi anak.

Meski belum resmi, kabar keinginan Setija menjadi senapati Perang Baratayuda langsung menjadi sorotan pers. Apa kelebihan wayang satu ini? Di samping dia tokoh di luar jalur, juga tak mengakar di masyarakat. Kata pengamat, jika ada kelebihan Setija, hanya satu, yakni: dia itu anak Prabu Kresna. Itu saja. Soal otak sama oon-nya dengan Dewi Arimbi. Lihat saja gebrakan dia di Trajutrisna, tak ada. Bahkan Setija suka bikin kebijakan konyol.

Di Pringgodani angka-angka berbagai lembaga survei selalu menempatkan Gatutkaca pada posisi teratas, sedangkan Setija 10 %, sementara Dewi Arimbi berkutat pada 20 %.  Sedang mendapat hidayah barangkali, kali ini Arimbi menyadari akan kwalitas dirinya, sehingga dia merelakan Gatukaca yang maju.

“Tapi saya kang masih konsentrasi menjadi ratu Pringgodani, ibu. Saya sebetulnya lebih asyik ngurus PKL, kemacetan dan kampung deret.” Kata Gatutkaca saat dipanggil menghadap sang ibu di Jodipati.

“Justru kamu masih jadi ratu itu ibu pilih. Sebab menurutku, calon senopati harus dari Pringgodani dan pernah menjadi ratu. Kan begitu, papi?” kata Arimbi kepada suaminya.

Wis embuh karepmu kono…..!” jawab Werkudara sambil melengos.

Ya, Werkudara memang sudah tak begitu peduli pada sepak terjang istrinya. Mau nungsang njempalik (jungkir balik) silakan saja, sebab selama ini memang susah dibilangi. Kenapa Gatutkaca digadang-gadang jadi senopati? Itu kan domain Prabu Puntadewa dari Ngamarta dan Prabu Duryudana dari Ngastina.

Nama Gatutkaca terus melejit, begitu pula Setija. Sebab setelah diajak main golf oleh Prabu Kresna dan sambil mengayun stik dia menawarkan Setija, Prabu Puntadewa serba prekewek (tak enak). Jika ditolak bagaimana, tapi diterima juga gimana. Dan karena ada dua calon itulah, keduanya harus dikonvensi alias adu tanding. Siapa yang menang, itulah calon senopati Ngamarta di Perang Baratayuda 2019.

“Tapi jika Setija menang, harus ganti KTP Ngamarta lho ya.” Pesan Puntadewa.

“Beres, boss!”

Demikianlah, Gatutkaca dan Setija bertanding demi merebut tiket ke Perang Baratayuda 2019. Mereka menggunakan ajian masing-masing. Gatutkaca bersenjata aji Narantaka, dan raja Trajutrisna menggunakan Topeng Waja. Ternyata hasilnya, di ronde 10 Setija mengaku KO karena tak bisa merontokkan ajian Narantaka. Gatutkaca pun resmi menjadi senopati. (Ki Guna Watoncarita)

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement