Sepak Bola: Penantian Masih Panjang

Kekalahan skuat Indonesia 0 -2 dari Jepang (28/10) menghentikan langkah Garuda Muda tampil di Piala U-20 di Polandia 2019.

MIMPI pecandu sepak bola Indonesia untuk menyaksikan skuad Garuda Muda tampil di arena dunia kembali harus terkubur akibat kekalahan 0 -2 dari kesebelasan Samurai Biru, Jepang di babak delapan besar Piala Asia U-19 di Stadion Utama Gelora Bung Karno, Jakarta (28/10).

Dukungan dengan teriakan riuh-rendah dan yel-yel sekitar 70.000 suporter kesebelasan Indonesia di tengah peringatan 90 tahun Soempah Pemoeda ternyata belum mampu mengantar timnas yang telah berjuang habis-habissan membela sang saka merah putih meraih kemenangan.

Kalah kelas, di level Asia Indonesia di peringkat 33, sedang Jepang bertengger di posisi ke-3, dan di tingkat dunia pada posisi 164 berbanding 55, punggawa Garuda di babak pertama berusaha mengimbangi lawannya yang memiliki skill dan bodi lebih tinggi dengan main bertahan, walau masih kecolongan tendangan jarak jauh Higashi Shunki di menit ke-40.

Pada babak kedua, kesebelasan Indonesia yang mulai bermain terbuka untuk mengejar ketertinggalan, malah menuai malapetaka, kembali kebobolan akibat tendangan jarak dekat yang dilepaskan Taisei Miyashiro pada menit ke-70.

Kekalahan yang dialami dari skuad Jepang sekaligus juga menghentikan langkah skuad U-19 Garuda Muda untuk tampil dalam Piala Dunia U-20 yang akan digelar di Polandia 2019, walau telah mampu mengukir sejarah baru sejak 40 tahun lalu saat lolos perempat final Piala Yunior Asia pada 1978.

Pada saat itu, walau gagal tampil sampai semi final, kesebelasan Indonesia masih memperoleh tiket ke Piala Dunia U-20 karena sejumlah tim mengundurkan diri untuk memboikot salah satu sponsor dari AS. Skuat Indonesia saat itu yang berada di grup neraka, dibantai 0-5 oleh Argentina, 0- 6 oleh Polandia dan 0-5 oleh Yugoslavia.

Persepakbolaan Indonesia kini walau harus diakui jauh lebih maju, namun tetap belum bisa bersuara di kancah dunia, karena negara-negara lain juga berlomba-lomba untuk berjaya di cabang olahraga rakyat tersebut.

Jepang dan Korea Selatan misalnya, walau sepak bola dulu bukan olah raga favorit mereka, didukung industri dan budaya disiplin rakyatnya, kini mampu tampil sebagai raksasa sepak bola di kawasan Asia, begitu pula China yang terus bangkit.

Sebaliknya, walau digemari bahkan digandrungi mayoritas dari sekitar 250 juta penduduk, agaknya perjalanan masih jauh bagi Indonesia untuk mampu membentuk kesebelasan yang mampu berkiprah di panggung dunia.

Perjalanan masih jauh, pembinaan jangka panjang dan berjenjang, masih harus telaten terus dilakukan, karena berbagai terobosan instan yang kerap dilakukan agaknya berbuah kesia-siaan.

Advertisement