RAKHINE—Dalam sepekan terakhir, sedikitnya 22 ribu pendatang dilaporkan menyeberangi perbatasan Myanmar-Bangladesh. Namun, jika dihitung sejak kerusuhan yang meletus Oktober lalu, sudah ada 65 ribu yang melarikan diri dari Myanmar.
Dilansir Al Jazeera, Selasa (19/1/2017), Kantor PBB untuk Koordinasi Bantuan Kemanusiaan (UNOCHA) melaporkan, per 5 Januari lalu, ada 65 ribu orang yang tinggal di kamp-kamp dan pemukiman darurat di Cox Bazaar, Bangladesh. Informasi ini dirilis bersamaan dengan kunjungan Yanghee Lee, utusan Dewan HAM PBB untuk Myanmar, selama 12 hari untuk menyelidiki kekerasan di perbatasan negara itu.
Eksodus warga Rohingya dari Rakhine Utara dimulai setelah tentara Myanmar melancarkan operasi pembersihan untuk mencari kelompok bersenjata yang enyerang pos polisi di perbatasan. Kelompok HAM menilai apa yang dilakukan militer merupakan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Pelarian Rohingya di Bangladesh melaporkan mereka telah medapatkan ancaman, pemerkosaan massal, pembunuhan, dan pembakaran.





