Seru! Dompet Dhuafa Ajak Donatur Panen Perdana Melon Hidroponik

Dompet Dhuafa mengajak para donatur dan mitra kolaborasi kebaikan ikut serta dalam Panen Raya Melon Hidroponik bertajuk Fruit O’Clock di Greenhouse Pesantren Tahfizh Green Lido (PTGL), Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (12/11/2023). (Foto: Dompet Dhuafa)

SUKABUMI – Memfasilitasi berkah kebaikan para donatur, Dompet Dhuafa menghadirkan greenhouse di kawasan lahan wakaf Pesantren Tahfiz Green Lido (PTGL), Sukabumi. Langkah tersebut dilakukan sebagai wujud pengelolaan wakaf produktif yang mengalir melalui Dompet Dhuafa.

Dengan core utama sebagai pesantren tahfiz, greenhouse melengkapi PTGL sebagai upaya pendukung operasional yang harapannya juga terus bertumbuh.

Dompet Dhuafa mengajak para donatur dan mitra kolaborasi kebaikan untuk ikut serta dalam Panen Raya Melon Hidroponik bertajuk Fruit O’Clock di Greenhouse PTGL yang hadir dari surplus wakaf produktif.

Lebih dari 80 donatur dan mitra korporasi hadir dalam momen panen tersebut, di Pesantren Tahfizh Green Lido, Sukabumi, Jawa Barat, Minggu (12/11/2023).

Dijelaskan Manajer Pengembangan Wakaf Dompet Dhuafa, Muhammad Syafi’ie al-Bantani, panen ini merupakan yang pertama karena baru mulai diaktivasi pada September lalu.

“Ini sudah panen di usia 70 hari setelah tanam. Kalau untuk skala budi daya yang lebih besar baru di greenhouse dengan teknologi yang baru dikembangkan di PTGL,” ucapnya.

Lahan seluas 2,4 hektare dalam langkah pembuatannya sudah di set plan kan di awal, termasuk ada 800 meter persegi untuk greenhouse, sedangkan ke depannya akan dibuat kuota 3 unit greenhouse lagi.

Artinya, jika sudah terpenuhi, sudah tidak bisa di-setup lagi untuk greenhouse karena untuk pesantren dan sebagainya, sesuai set plan awal.

“Panen perdana ini merupakan jenis melon premium talen, di mana kami memilih melon ini karena meiliki nilai jual yang tinggi. Sehingga, bisa menghasilkan revenue stream bagi pesantren yang bisa memberikan kontribusi kemandirian pesantren,” katanya.

Dengan bibit melon impor dari Jepang, secara umum di Indonesia mulai banyak dikembangkan lewat teknologi greenhouse. Dompet Dhuafa melakukan strategi pengembangan dengan plasma, yaitu mengajak petani lokal yang punya lahan untuk join, karena dibanding bertani konvensional ada kemungkinan rentan gagal, nilai jual yang tidak efektif. Selain itu, dalam pengelolaannya juga akan menggandeng santri.

“Jadi, budi daya melon itu ada beberapa fase. Ada fase penyemaian, fase pindah tanaman, fase polinasi, fase pengawinan silang, fase pemangkasan, dan fase panen. Di setiap fase itu kita melibatkan para santri agar tahu dan menambah skill. Namun, tentu didampingi dulu oleh ahli,” terang Syafi’ie.

General Manager Wakaf Dompet Dhuafa, Bobby Manullang, menjelaskan bahwa pembangunan PTGL dibangun secara bertahap agar memiliki fundamental yang kuat. Visi Dompet Dhuafa tidak hanya membangun pendidikan yang berkualitas tapi juga dilengkapi dengan jiwa enterpreneurship.

PTGL Dompet Dhuafa memiliki visi menjadi model pesantren unggul, mandiri, dan modern berbasis wakaf produktif. Salah satu unit usaha produktif pesantren yang diinisiasi adalah greenhouse melon. Greenhouse dirancang menjadi unit revenue stream berbasis wakaf bagi PTGL sekaligus pembelajaran entrepreneurship santri serta pemberdayaan petani lokal.

“Kita semua berupaya untuk menjadi manfaat dalam kehidupan. Sebab sebaik-baiknya manusia adalah yang paling bermanfaat,” tuturnya.

Tujuan wisata petik melon bertujuan untuk menjalin silaturahmi dengan para donatur dan mitra kolaborasi kebaikan. Selain itu, acara ini juga bentuk transparansi laporan atas pengelolaan wakaf oleh Dompet Dhuafa. (*)

Advertisement