JAKARTA, KBKNews.id – Direktur Pemberdayaan Zakat dan Wakaf Kementerian Agama (Kemenag), Waryono Abdul Ghafur, mengimbau seluruh Lembaga Amil Zakat (LAZ) di Indonesia untuk bersinergi dengan pemerintah dalam upaya memajukan bangsa melalui pemanfaatan Zakat, Infak, dan Sedekah (ZIS).
Dalam diskusi yang digelar di Jakarta, Selasa (1/7/2025), Waryono mencontohkan peran strategis organisasi keagamaan seperti Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, yang tidak hanya aktif di bidang keagamaan tetapi juga berkontribusi besar di bidang pendidikan.
“Ini adalah kontribusi masyarakat yang diakui oleh negara, karena negara tidak sepenuhnya mampu memenuhi kebutuhan masyarakat,” ujarnya.
Menurutnya, LAZ juga dapat mengambil bagian dalam memajukan bangsa melalui berbagai program pemberdayaan masyarakat, seperti pemberian modal usaha, bantuan beasiswa, serta program-program sosial lainnya.
“Kita perlu berbagi tugas sehingga tidak overlapping (saling mendahului), di mana negara hadir dan di mana kita (LAZ) hadir,” tuturnya.
Ia juga mendorong agar antar-LAZ dapat menjalin kerja sama yang saling melengkapi, memanfaatkan kekuatan masing-masing untuk mewujudkan visi bersama.
Sejalan dengan itu, Ketua Badan Amil Zakat Nasional (Baznas) RI, Noor Achmad, menegaskan bahwa ZIS memiliki posisi strategis dalam mendukung agenda besar Presiden, khususnya dalam penanggulangan kemiskinan ekstrem.
“Maka dari itu, tidak ada salahnya kalau kita bersama-sama seluruh kekuatan LAZ yang ada di Indonesia merumuskan jalan membebaskan para fakir miskin, khususnya kemiskinan ekstrem ini,” ucapnya.
Noor menyampaikan bahwa masing-masing LAZ sebenarnya telah memiliki jalur kontribusinya masing-masing, tinggal memperkuat aspek-aspek tertentu, seperti melalui pemberian beasiswa, bantuan ekonomi, bantuan permodalan usaha, atau bentuk dukungan lainnya yang dapat dilakukan secara bersama-sama.
Sementara itu, Ketua Pengurus Yayasan Dompet Dhuafa, Ahmad Juwaini, yang mewakili LAZ, juga menyerukan pentingnya kolaborasi antarlembaga dalam mengelola dan menyalurkan ZIS untuk pemberdayaan masyarakat.
Ia menggarisbawahi pentingnya pendekatan yang berkelanjutan, bukan hanya bantuan yang sifatnya sementara.
“Sudah saatnya kita berperan yang sifatnya bukan sekadar karitatif, yang sekadar memberi saja, karena pemerintah sudah berperan luar biasa di bidang urusan yang memberi saja ini,” ujar Ahmad Juwaini.





