Sistem Pertahanan Udara “Kubah Besi” Israel

TIDAK ada salahnya jika Indonesia yang berada di belakang perjuangan bangsa Palestina, mengetahui kekuatan Israel yang menjadi musuh bebuyutannya dan juga seteru negara-negara Arab.

Kubah besi (Iron Dome) atau Kippat Barzel dalam bahasa Ibrani merupakan sistem pertahanan udara (hanud) andalan negara Yahudi itu guna mempertahankan diri dari roket-roket yang diluncurkan kelompok  Hamas, sayap militer Palestina.

Sistem hanud ini semula dikembangkan oleh Rafael Advanced Defence Systems, Israel untuk  menghalau dan merontokkan serangan roket jarak pendek dan sedang berjangkauan empat hingga 70 Km dan   dikembangkan menhadapi target sejauh 250 Km.

Iron Dome tidak berujud alias tak kasat mata, mengistilahkan fungsinya sebagai sistem hanud untuk memayungi wilayah Israel, terutama kota-kota berpenduduk padat dan strategis dari sisi pertahanan dan keamanan.

Sistem pertahanan udara mobil (swa gerak) Iron Dome  terdiri dari tiga komponen utama yakni pendeteksi dan radar pelacak, sistem kontrol senjata dan unit penembakan rudal dengan sensor sensitif guna mengenali dan melumpuhkan roket atau rudal lawan yang mendekat.

Cara kerjanya, radar yang dipasang di truk pengendali memantau   kawasan udara hingga radius 150 km persegi dan jika ada obyek tidak dikenal di layar radar, datanya akan diolah sehingga bisa diketahui “lawan atau kawan”.

Setelah dipastikan obyek yang mendekat adalah lawan, awak radar memerintahkan dilakukan pencegatan dengan misil atau rudal anti roket atau anti rudal.

Masalahnya, tiap peluncuran misil atau rudal penangkal menelan biaya sekitar 40-ribu dollar AS atau sekitar Rp588 juta, sehingga rudal atau roket musuh yang dideteksi bakal menyasar lahan kosong, lebih baik diabaikan saja, karena lebih mahal biaya untuk mencegatnya.

Seperti dicatat BBC, Pasukan Israel (IDF)  menyebutkan, dari 255 roket yang diluncurkan Hamas ke wilayah Israel sepanjang 2014, yang dicegat  hanya 71 buah, karena selebihnya menyasar lahan kosong, namun ada juga satu roket yang lolos dan menghantam permukiman di kawasan Ashkelon, Israel.

Sejauh ini wiliayah Israel dilindungi 10 baterai Iron Dome, tiap baterai  mencakup tiga hingga empat peluncur stasioner dengan 20 rudal Tamir yang dilengkapi sensor elektro-optik dan sirip kendali.

Menurut Raytheon, perusaan AS mitra Israel dalam pengoperasian sistem Iron Dome, tiap baterai rudal mampu memayungi area hingga hampir 60 mil persegi.

Ratusan Serangan Roket

Selama konflik dengan Hamas pada November 2012, para pejabat Israel mengklaim bahwa Iron Dome mencegat 85 persen dari 400 roket yang ditembakkan dari Jalur Gaza yang diproyeksikan mengenai wilayah permukiman.

Ribuan roket dan rudal darat ke darat diluncurkan oleh milisi Hisbollah, dari Lebanon selatan dan milisi Hamas dari Gaza, Palestina ke wilayah Israel sejak 2006.

Israel kemungkinan juga sudah memiliki sistem hanud ufuk tinggi ( Terminal High Altitude Area Defence -THAAD) buatan AS untuk menghadapi rudal balistik dari potensi lawan bebuyutannya, Iran.

Berbeda dengan Iron Dome yang mengandalkan rudal anti rudal jarak pendek, THAAD memiliki jangkauan pantauan radar yang jauh  dan rudal-rudal yang melengkapinya mampu menjatuhkan rudal musuh dari jarak 200 Km dan ketinggian 150 Km.

China pernah memprotes AS yang menempatkan sistem THAAD di Korea Selatan guna menangkal kemungkinan ancaman rudal balistik nuklir dari Korea Utara, karena jangkauan radarnya bisa mengendus gerakan pesawat-pesawat tempur China.

Uniknya, proyektil THAAD yang diluncurkan untuk mengejar rudal lawan tanpa hulu ledak, melainkan menggunakan tenaga kinetik guna menghindari risiko ledakan  rudal lawan yang membawa hulu ledak nuklir.

Pada Perang Teluk I tahun 1990, Israel juga sukses menangkal rudal-rudal Scud eks-Uni Soviet yang diluncurkan  Irak ke wilayahnya dengan sistem hanud rudal anti rudal Patriot buatan AS. Dari 50-an rudal Scud yang diluncurkan, tidak satu pun yang mengakibatkan kerusakan berarti.

Perang di era kini menggunakan teknologi yang litbangnya saja memerlukan dana miliaran dollar AS, belum waktu dan tenaga yang dibutuhkan.

Padahal, jika dunia ini damai, uang sebanyak itu bisa dimanfaatkan untuk mengentaskan kemiskinan atau meneliti vaksin misalnya untuk mencegah Covid-19 yang saat ini sudah merambah 118 negara.

(Berbagai sumber/Wikipedia/NS)

 

 

Advertisement