Sri Lanka: Protes Kenaikan Harga

Sri Lanka diwarnai aksi-aksi unjukrasa sejakKamis lalu )31/3) akibat kenaikan harga BBM, sembako dam pemadaman listrik.

SRI Lanka, negeri pulau dijuluki “Mutiara Samudera Hindia” dilanda protes massa dipicu kenaikan harga BBM dan sembako sehingga pemerintah memberlakukan jam malam sejak Sabtu (2/4).

Massa merencanakan aksi besar-besaran , Minggu waktu setempat (3/4), sementara Presiden Gotabaya Rajapakse, Jumat malam (1/4) memberlakukan keadaan darurat setelah sehari sebelumnya massa menuntut pengunduran dirinya.

Sri Lanka yang relatif stabil pasca perang saudara selama dua dekade sampai 2008 antara pemerintah melawan kelompok separatis Tamil Eelan, kini agaknya mulai memasuki masa krisis lagi.

Dalam aksi unjuk rasa, Kamis lalu, massa membakar dua kendaraan militer dan satu kendaraan polisi serta melempari aparat keamanan dengan batu-batu.

Jam malam kemungkinan akan diberlakukan di seluruh negeri mengingat masuknya laporan tentang serangan sporadis yang dilancarkan kelompok tertentu terhadap rumah-rumah pejabat.

Kemarahan massa tida bisa dibendung akibat kenaikan harga BBM, bahan kebutuhan pokok dan obat-obatan serta giliran pemadaman listrik sampai 13 jam dalam sehari.

Krisis terburuk yang dialami Sri Lanka sejak merdeka dari Inggeris, 1948 terutama terjadi sebagai imbas pandemi Covid-19, sementara kenaikan bahan bakar akibat dampak Perang Rusia vs Ukraina.

Kantor Kepersidenan menyebutkan, para pengunjuk rasa ingin menciptakan Gerakan Musim Semi seperti terjadi di negara-negara Arab, 2011 untuk menggulingkan pemerintahan Presiden Rajapakse.

Sebaliknya, walau pemerintah akan mengambil tindakan keras dengan menurunkan aparat militer yang sebelumnya cuma menjadi satuan pendukung polisi, para aktivis menyatakan tak akan mundur.

“Jangan takut dengan gas air mata. Tak lama lagi mereka (polisi-red) akan kehabisan  dollar untuk membelinya, “ demikian antara lain unggahan yang dimuat di medsos.

Salah Urus Negara

Namun pihak oposisi menyebutkan, krisis ekonomi yang terjadi di Sri Lanka lebih banyak akibat salah kelola negara yang dilakukan dari rezim satu ke  rezim lainnya.

Kejadian di Sri Lanka, ada baiknya dijadikan pembelajaran bagi Indonesia yang saat ini mengalami masa-masa sulit.

Di tengah himpitan ekonomi akibat pandemi Covid-19 sejak lebih dua tahun, kini rakyat dihadapkan pada kesulitan akibat kelangkaan dan kenaikan harga minyak goreng, BBM, sembako dan kelangkaan solar.

Kenaikan harga tiap komoditi tersebut terjadi akibat alasan berbeda-beda, misalnya BBM karena kenaikan harga minyak mentah global sebagai dampak Perang Rusia-Ukraina.

Krisis minyak goreng, bisa jadi akibat salah urus, mengingat RI adalah negara produsen terbesar kelapa sawit dunia yang menjadi bahan mentahnya, praktek kartel industri dan juga ulah spekulan.

Sementara, melonjaknya permintaan menjelang Ramadhan dan Idul Fitri juga ikut berkontribusi memicu kenaikan harga-harga kebutuhan bahan pokok seperti terjadi setiap tahun.

Mengritisi atau memprotes pemerintah selain tidak dilarang, adalah hak warga negara, asal dilakukan dengan terukur dan tepat sasaran, tidak hantam kromo, apalagi sampai ditunggangi kelompok tertentu. (AP/AFP/Reuters)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Advertisement