
SRI LANKA, negara berpenduduk 5,3 juta jiwa di kawasan Samudra Hindia nyaris bangkrut akibat krisis ekonomi berkepanjangan ditandai dengan inflasi yang melangit serta kelangkaan BBM sejak April Lalu.
Merdeka dan menjadi negara berbentuk republic sejak 1972, negara pulau di utara Samudra Hindia ini terperangkap dalam perang saudara sekitar 27 tahun (1983 – 2009) melawan kelompok separatis Gerakan Macan Tamil Eelam (LTTE).
Kantor Berita Australia ABC baru-baru ini melaporkan upaya masuknya 300 pengungsi Sri Lanka melalui laut dalam beberapa tahun terakhir ini untuk menghindari krisis ekonomi di negeri mereka dan mencari kehidupan lebih baik di benua Kanguru itu.
Selain kekurangan obat-obatan dan layanan kesehatan, penduduk Sri Lanka juga terancam kelaparan jika pemerintah tidak menemukan solusi pengadaan pangan, sementara barang kebutuhan pokok selain harganya melangit, juga menghilang di pasaran.
Dalam laporannya Times of India menyebutkan, hutang LN, sebagian besar dari China (sekitar delapan miliar dollar AS) antara lain untuk pembangunan pelabuhan Hambantola menggerus habis cadangan devisanya yang pada April lalu hanya tersisa1,94 miliar dollar, padahal kebutuhan impor empat miliar dollar.
Kondisi tersebut diperparah akibat kekurangan anggaran dan devisit transaksi berjalan yang sudah berlangsung sejak lama di Sri Lanka.
Defisit Ganda
Bank Pembangunan Asia (ADB) menilai Sri Lanka sebagai negara yang mengalami defisit ganda ditandai nilai pengeluaran nasional lebih tinggi dari devisa yang dihasilkan barang dan jasa. Sejauh ini Bank Dunia (WB) sudah mengucurkan dana bantuan sekitar 600 juta dollar AS.
Para pengungsi memilih Australia sebagai tujuan kehidupan baru mereka selain mengikuti jejak rekan-rekan mereka terdahulu yang sudah berada di sana, juga mendengar kabar, pemerintahan baru Australia di bawah PM Anthoni Albanese mengijinkan mereka.
Presiden Sri Lanka Gotabaya Rajapaksa sendiri sampai hari ini bergeming walau aksi-aksi demo masa yang berlangsung setiap saat di kota-kota besar negeri itu untuk memintanya mundur.
Para pengungsi semula adalah warga miskin dari etnis minoritas yang cemas dengan masa depan mereka selain untuk bertahan hidup dari kelaparan, juga menghadapi kemungkinan persekusi oleh kelompok mayoritas jika situasi bertambah parah.
Namun, mereka yang berada di perahu belakangan ini juga berasal dari berbagai latar belakang etnis dan ekonomi termasuk sejumlah pegawai negeri sipil.
“Kami mendapatkan beberapa di antara mereka membayar ribuan dolar untuk perjalanan ini, jadi ini pelarian ekonomi,” ungkap perwira angkatan laut AL Sri Lanka Kapten Indika De Silva.
Dalam empat bulan ke depan keadaan di Sri Lanka diperkirakan bakal terus memburuk, ditandai pasokan BBM dan makanan akan menipis, sementara kalangan miskin menjadi pihak yang bakal paling menderita. S.O.S. Sri Lanka!




