BETAPAPUN enak menjadi ratu sabrangan, masih enakan menjadi raja di Tanah Jawa. Selain PAD (Pendapatan Asli Daerah) lebih besar, infrastruktur (prasarana wilayah) lebih komplit. Di negeri Tanah Jawa seperti: Pandhawa, Kurawa, Mandura, Mandaraka, Wiratha, Dwarawati, sudah ada KA, listrik, telpon, PAM, mal lan departemen store. Sedangkan di tanah sabrang seperti Girikedasar kerajaan Prabu Dirgapracona, telpon masih diontel, HP pun masih Nokia 3310, listrik 110 volt, angkutan umum berupa bemo dan andong. Belum ada KA, karena belum ada jaringan rel KA. Jikalaupun ada hanyalah roti ganjel ril yang berbahan gaplek, itupun impor dari Gunung Kidul ataupun Trenggalek.
Prabu Dirgapracona pengin mengubah nasib. Jika anak keturunannya menjadi raja, jadilah raja di Tanah Jawa yang surplus. Kebetulan sekali sang prabu menerima wisik dari dewa, jika berkeinginan memiliki keturunan raja yang menguasai seluruh Tanah Jawa, harus menikahi bini Harjuna, yakni Wara Sembadra. Dialah istri Madukara yang termasuk bibit unggul. Andaikan kambing, pasti jenis Etawa dari Kaligesing, Purworejo. Paling tidak, bisa diambil powan atau susunya!
“Gog, Sembadra mau gue colong. Tapi ciri-cirinya seperti apa, ya? Kamu kan lebih tahu.” pertanyaan Prabu Dirgapracona terhadap Togog si abdi kinasih.
“Orangnya hitam manis, rambut panjang, dan tak bisa berbahasa krama inggil. Saat sekolah dulu, pelajaran Bahasa Jawanya hanya dapat nilai lima….,” ujar Togog menceritakan data pisik Sembadra.
Prabu Dirgapracona lalu menugaskan patih Jayacitraksa, agar segera mencuri putri berasal dari kampung Widarakandang, daerah Mandura tersebut. Demi mengejar waktu, patih Girikedhasar segera terbang kleperrrr…. kleperrrr! Dalam tempo sesingkat-singkatnya telah tiba di Madukara. Sengaja memilih waktu tengah malam, karena dipastikan Harjuna tengah tidur nyenyak. Begitu pulesnya Harjuna, dua istri yang biasanya dikeloni serentak, malam itu terlantar. Sembadra mepet ke tembok, sementara Srikandi merapat ke waton ranjang.
Patih Jayacitraksa sama sekali tidak mengetahui bahwa Harjuna punya dua bini. Maklum, di negerinya belum ada internet dan tak langganan koran lagi. Karenanya sekarang menjadi bingung, yang mana Sembadra? Yang tidur mlungker mepet tembok, atau yang sekedar pakai kulot di bibir ranjang? Ketimbang mengambil yang jauh-jauh malah ketahuan, comot saja yang tidur ngepleh-epleh (telentang) di bibir ranjang. Apa lagi sosok perempuan ini juga berkulit hitam manis, pasti dia pulalah yang bernama Sembadra.
“He Arjuna, jangan kaget, istrimu si Sembadra gua curi!” ujar patih Jayacitraksa sambil mondhong (menggendong) perempuan yang diyakini sebagai Sembadra.
“Sst! Gamelan jangan ditabuh, bisa ketahuan gua, nih….!” protes Patih Jayacitraksa pelan, menegur para niyaga. Begitu tiba di halaman keputren, Patih Jayacitraksa langsung melesat ke udara, menembus pekatnya malam.
Tiba di Girikedhasar sudah pukul 08.00 pagi, saat para petani wisan gawe (pulang dari sawah). Para petani yang sedang matun sudah naik ke darat. Prabu Dirgapracona sungguh bergembira karena Patih Jayacitraksa berhasil mengemban misinya dengan baik. Layak dinaikkan TKD (Tunjangan Kerja Dinamis)-nya. Gile, Wara Sembadra memang cantik sekali. Rambut panjang menggapai pantat, betis mbunting padi seperti milik para peragawati.\
“Gembili gung wohing tawang (jebubug), gedebugan awak mami….! Diajeng Sembadra wahai istri hamba…..” Prabu Dirgapracona gandrung dadakan. Andaikan tak ingat itu dalam forum resmi, pastilah bini Harjuna itu langsung “dihajar”-nya.
“Mata lo buta?. Aku bukan Sembadra, tapi Srikandi. Ngawur saja kamu!”
Prabu Dirgapracona mendadak ngedrop, seperti HP lupa dicas. Bagaimana mungkin keliru? Tapi setelah digeledah KTP-nya, memang betul dianya Srikandhi, bukan Wara Sembadra. Sang prabu jengkel dan malu, tentu saja. Kebangetan si Jayacitraksa. Bagaimana mungkin, sekali ditugaskan jadi maling perempuan, kok salah ambil? Luapan amarahnya mau ditimpakan ke mana, wong Patih Jayacitraksa kadung pulang ke kepatihan. Mendengkur sepuas-puasanya. Maklum, semalam suntuk belum sempat tidur, karena menjalankan misi negara.
Lain hari Srikandi hendak dipulangkan, maksud Prabu Dirgapracona untuk ditukar dengan Sembadra lagi. Tapi patih Jayacitraksa tidak sanggup, karena pasti penjagaan di Madukara sekarang semakin diperkuat. Ya sudahlah, tak ada rotan akar pun berguna. Dengan semangat mana yang ada, Srikandi dirayu. Prabu Dirgapracona rupanya mau meniru Dewi Sinta, tapi lebih bonek (banda nekad) ketimbang Dasamuka. Jika raja Ngalengka hingga tewas gagal mempersunting Sinta, Wara Srikandi malam itu berhasik diperkosa. Meski bukan Sembadra tetap lumayan juga, karena sama-sama bini Harjuna.
“Tenangkan hatimu, diajeng dijamin hidup bahagia di Girikedasar, ha ha ha…”
“Auah gelap…..!” Wara Srikandi marah, tapi score terlanjur 2-0.
Tiga bulan telah lewat, putri Cempala tersebut telah dikeloni Prabu Dirgapracona, tapi tak berhasil hamil juga. Maklum, Srikandi dulu pada Prabu Jungkungmardeya di Parang Gelung sekedar belajar memanah, bukan belajar manak (beranak)! Lagi pula, Prabu Dirgapracona sama sekali tidak tahu bahwa Wara Srikandi memiliki ajian Lembu Sekilan, sehingga –maaf– Harjuna selama ini selalu gagal memberi nafkah batin istrinya. Masalahnya, interaksi positif antara suami terhadap istrinya itu selalu gagal akibat masih ada jarak sekilan (sejengkal).
Akhirnya, melalui koneksi punakawan Togog, Prabu Durgapracona berhasil sowan Betara Cakra di kahyangan. Tapi tetap saja sial. Meski sudah “ditetesi” air kesuburan dadi Jonggring Salaka berulang kali, Srikandi tetep gagal hamil juga.
“Wah, kamu ini pasti kebanyakan ngebor seperti penyanyi Inul dulu. Sorry, ulun gak bisa bantu lagi,” Betara Cakra Sekneg-nya kahyangan tersebut angkat tangan.\
“Maaf, saya sekedar membantu ketemu lho ya…,” ujar Togog tak mau terseret-seret lebih jauh.
Lantaran Betara Cakra menyebut-nyebut nama Inul, Prabu Dirgapracona segera berangkat menuju Pasuruan, memburu si Ratu Ngebor untuk konsultasi bayi tabung. Ternyata gagal ketemu karena sudah pindah ke Pondok Indah, Jakarta. Lantaran putus asa, akhirnya perut Wara Srikandi hanya dipasangi tabung dari bambu oleh dukun beranak lokal. Sayangnya, meski sudah nyekengkeng (kaku) tak bisa rukuk lan ngeluk boyok, Srikandi tetap tak bisa hamil.
Menyadari bahwa putri colongan tersebut majir (mandul), Prabu Dirgapracona berusaha jalan sendiri, hendak mencuri Wara Sembadra bini Harjuna yang satu lagi. Apapun caranya, yang penting harus memiliki keturunan raja Tanah Jawa!
Agaknya segala peringatan patih Jayacitraksa tak digubris lagi. Betapapun kehadiran Dirgapracona ke Madukara bagaikan kutuk marani sunduk (menempuh bahaya), akan dijalaninya. Tapi justru sudah seperti janjian saja, belum juga Sang Prabu berangkat, justru Harjuna yang datang sendiri menyusul ke Girikedhasar! Posisi pencuri Srikandi terlacak berkat GPS sekelas Kaca Paesan. Maklum pusaka Prabu Kresna berminggu-minggu eror gara-gara belum bayar pajak.
“Kamu suami Srikandi, ya? Kebetulan, aku minta ditukar Sembadra. Ternyata Srikandhi mandul….”
“Belum pernah dikaplok Jepang, kamu ya? Jadi raja kok mblubut (tak tahu malu) sekali. Nyolong saja sebetulnya nggak boleh, kok malah mau nambah.” Ujar Harjuna marah sekali.
Sudah berbulan-bulan Harjuna mencari Srikandi tapi belum ketemu juga. Tiba-tiba si maling datang dan mengaku sendiri. Kontan Prabu Dirgapracona dihajar habis, bahkan kemudian ditusuknya pakai keris Pulanggeni hingga tewas di tempat. Sepeninggal Prabu Dirgapracona, Harjuna segera mencari Srikandi di taman keputren. Wah, sungguh mengharukan, bikin iba. Kondisi istri kedua ini rusak sekali, gelung rusak wor lan kisma. Tapi apakah harus dibakar juga seperti Dewi Sinta? Wah, Harjuna tidak memiliki anggaran ngaben seperti orang Bali.
“Kangmas Harjuna, maaf kondisiku sekarang begini tak suci lagi.” Srikandi menangis.
“Nggak papa diajeng, nanti setibanya di Madukara langsung dirinso….!” (Ki Guna Watoncarita)



