SRO Indonesia Gelar Pertemuan dengan MSCI, Bahas Masalah Ini

Pergerakan pasar saham domestik kembali tertekan. IHSG Bursa Efek Indonesia (BEI) menutup perdagangan Kamis (6/2/2026) di zona merah. (Foto: pixabay)

Jakarta, KBKNews.id — Self Regulatory Organization (SRO) pasar modal Indonesia dijadwalkan menggelar pertemuan dengan Morgan Stanley Capital International (MSCI) pada Senin sore (2/2/2026) pukul 16.00 WIB. Pertemuan tersebut akan berlangsung secara daring dan membahas sejumlah masukan MSCI terkait pengembangan serta penguatan pasar saham Indonesia.

Bocoran agenda pertemuan disampaikan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara yang turut hadir dalam forum tersebut sebagai investor institusional di pasar modal domestik.

Chief Investment Officer (CIO) Danantara Indonesia, Pandu Sjahrir, mengatakan diskusi dengan MSCI akan difokuskan pada evaluasi dan rekomendasi untuk meningkatkan kualitas pasar saham nasional.

“Pertemuan ini akan membicarakan masukan-masukan dari MSCI terhadap pasar saham Indonesia,” ujar Pandu saat ditemui di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Jakarta.

Diikuti BEI, OJK, dan Regulator Pasar Modal

Pandu menjelaskan, meskipun dirinya hadir mewakili Danantara, pertemuan tetap diikuti oleh otoritas dan lembaga utama pasar modal, antara lain Bursa Efek Indonesia (BEI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), serta SRO lainnya.

Ia menegaskan, pendekatan yang digunakan dalam pertemuan tersebut bersifat terbuka dan konstruktif demi perbaikan jangka panjang.

“Yang paling penting, kami akan bersikap konstruktif. Karena pada akhirnya, yang kami inginkan adalah pasar modal yang lebih baik,” kata Pandu.

Keterbukaan, Free Float, hingga Teknis Eksekusi

Sejumlah isu krusial masuk dalam agenda pembahasan dengan MSCI. Di antaranya terkait:

  • Keterbukaan informasi emiten
  • Struktur dan perlindungan pemegang saham
  • Porsi saham beredar (free float)

Selain aspek kebijakan, pertemuan juga akan menyentuh teknis implementasi dari berbagai masukan tersebut. Tujuannya agar dapat diterapkan secara bertahap dan realistis di pasar domestik.

Dorong Akses Dana Pensiun ke Pasar Saham

Isu lain yang menjadi perhatian adalah kemudahan akses dana pensiun (dapen) ke pasar saham Indonesia. Menurut Pandu, keterlibatan dana pensiun dipandang strategis untuk memperkuat likuiditas sekaligus memperbaiki valuasi pasar.

Salah satu poin yang dibahas berkaitan dengan ketentuan cut loss provision yang tercantum dalam Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (UU P2SK).

“Dengan dana pensiun masuk, valuasi akan membaik. Ke depan, porsi kepemilikan dapen yang saat ini sekitar 10–12 persen bisa meningkat menjadi minimal 15 persen atau bahkan lebih,” ujarnya.

Perlu Market Buyer dan Seller yang Seimbang

Peningkatan peran investor institusional seperti dana pensiun dinilai membutuhkan ekosistem pasar yang seimbang. Termasuk keberadaan pihak yang berfungsi sebagai market buyer dan market seller.

Seluruh mekanisme tersebut, lanjut Pandu, tidak akan diterapkan sekaligus, melainkan dikomunikasikan dan dijalankan secara bertahap sesuai kesiapan pasar.

Ia juga mengingatkan bahwa MSCI memberikan ruang waktu bagi Indonesia untuk melakukan penyesuaian.

“MSCI juga memberikan waktu sampai Mei 2026,” ungkapnya.

Advertisement

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here