
PASCA kematian Prabu Dasamuka dalam lakon “Ngalengka Brubuh” dan disusul uji kesucian Dewi Sinta dalam cerita “Sinta Obong”, Prabu Rama Wijaya kembali ke negeri Pancawati bersama istri tercinta. Kadar kecintaan raja emigrant dari Ayodya ini semakin tinggi pada Dewi Sinta, sebab selama 5 tahun dalam kekuasaan Prabu Dasamuka ternyata masih suci murni, utuh dalam buntelan plastik. Iklan pengharum bau ketek yang menyatakan Dewi Sinta kini jatuh cinta pada Dasamuka berkat deodorant, rupanya sekedar hoaks belaka.
Setelah sukses melaksanakan program “Ganyang Dasamuka” dan “Rebut kembali Dewi Sinta”, Prabu Rama bertekad menata ulang negeri Pancawati yang sempat carut marut. Maklum, kala itu semua dana dan tenaga difokuskan pada perjuangan pembebasan Dewi Sinta. Bahkan defisit anggaran dalam lakon “Rama Tombok” saat pemboyongan Dewi Sinta ke Pancawati setahun lalu, juga belum tertutupi.
“Sinuwun Prabu Rama, menuju Pancawati adil makmur, tak cukup dengan dana infrastruktur yang dimaksimal, tapi juga revolusi mental. Dan selama 5 tahun kemarin, kita boleh dikata tak bergerak.” Laporan Patih Sugriwa dalam sidang terbatas kerajaan.
“Betul itu kakang Patih Sugriwa, makanya kita koreksi kembali pemerintahan kita. Kalau perlu diadakan reshuffle seperlunya. Beruntung negeri kita tak dikuasai parpol, sehingga kita bebas mengangkat menteri siapa saja yang profesional.” Jawab Prabu Rama.
Demikianlah, sambil lesehan di tlundhakan (trap) Istana Pancawati Prabu Rama mengumumkan para pembantunya. Sebetulnya beliau ingin mengangkat Anoman jadi Menteri Pertahanan, tapi dia menolak dengan alasan mau fokus jadi begawan di Kendalisada. Akhirnya diangkatlah Kapi Anila yang belakangan nampak semakin gemuk dan pendek karena kurang olahraga. Ternyata kecebong-kampret di Pancawati semua setuju.
Kapi Jembawan yang pengalaman mengawasi pembangunan tambak (tanggul) Pancawati-Ngalengka, diangkat jadi menteri maritim dan kelautan. Biarpun dia tercatat sebagai menteri paling tua, tapi tenaganya masih rosa-rosa seperti Mbah Marijan. Lalu Kapi Anggada yang pernah cacat mbalela dan pro Dasamuka, diberi pos Menteri Luar Negri. Sebetulnya Gunawan Wibisono hendak diangkat jadi menteri senior, sayang dia mau fokus jadi raja di Ngalengka, menggantikan almarhum Dasamuka.
“Tolong kanda, Dewi Trijatha juga diberi posisi. Dia kan berjasa menjagaku selama di Taman Argasoka.” Usul sang istri, Dewi Sinta.
“Kamu kan istriku, kenapa mau intervensi pengangkatan menteri? Apa kamu siap diolok-olok rakyat sebagai Bu Sien Wijaya?”
Akhirnya Dewi Trijatha diberi posisi menteri Peranan Wanita dan Pembina PKK. Tugas dia sangat strategis sekaligus sensitive. Sebab untuk menghindari radikalisme dan khilafahisme yang mulai merebak di Pancawati, perempuan di Pancawati dilarang pakai cadar. Prabu Rama memang tak mau, muka perempuan tak ada bedanya dengan jendela rumah, pakai korden segala.
“Saya tak mau ada lelaki nyamar wanita, di balik baju gamisnya menyimpan bom. Kan celaka kita,” begitu alasan Prabu Rama.
“Tapi sebaiknya tanya ulama dulu Sinuwun, ketimbang nanti jadi polemik. Kalau didemo PA 212 bagaimana?” saran Patih Sugriwa.
Demikianlah, pemerintahan baru di Pancawati mulai berjalan. Karena para pembantu Prabu Rama tak ada yang rangkap jabatan, semua berjalan lancar. Tak ada yang mark up anggaran, bikin influenzer pariwisata honornya yang pantas-pantas saja, tak sampai Rp 5 miliar. PNS di Pancawati juga tak ada lagi yang pakai cadar dan bercelana cingkrang. Semua tundak pada aturan negara, tak ada yang kontra revolusi.
Sampai bulan 6 kemudian terjadilah peristiwa yang menggegerkan Istana Pancawati. Dikabarkan ibu negara Bu Sien Wijaya menderita stress berat. Setiap hari teriak histeris, karena merasa dikejar-kejar Sukma Nglembara penjelmaan Dasamuka yang telah menjadi arwah. Sebetulnya Prabu Rama hendak merahasiakan ini, tapi dunia medsos sudah kadung memviralkan. Bayangkan, video ibu negara stress kok bisa sampai masuk Youtube. Bagaimana kementrian Kominfo menangkalnya?
“Sinta, kamu harus ikut saya di Suwarga Bandang. Hidup nyaman semuanya tercukupi, kamu tinggal mamah karo mlumah. Yah, ha ha ha….” kata Sukma Nglembara sambil tertawa terbahak-bahak. Suaranya nyaring bergema, karena pakai EH0.
“Saya nggak mau, Dasamuka. Saya sampai matipun tetap istri Prabu Rama. Kamu jangan ganggu aku ya, mohon……!” jawab Dewi Sinta dengan wajah ketakutan. Dia sepertinya melihat sesuatu yang mengerikan.
Untuk memberi contoh tentang kesederhanaan pada rakyat, Prabu Rama Wijaya sengaja membawa istrinya ke dokter spesialis saraf tapi pakai dana BPJS-Kesehatan. Semua memang gratis, tapi wih…. ngantrinya minta ampun. Bayangkan, Ibu Negara kok di nomer antrian 85, kapan giliran diperiksanya.
Ternyata Dewi Sinta hanya diberi pil penenang anti depresi metilfenidat, dan amfetamin dosis rendah. Sayangnya hanya baik sebentar, malamnya kambuh lagi. Arwah Dasamuka kembali datang mengganggu, mengajak kawin melulu. Karena Dewi Sinta diyakini keturunan atau titisan Dewi Widowati, sampai mati pun Prabu Dasamuka masih penasaran. Dalam wujud Sukma Nglembara masih mengajak menikah juga, lalu bagaimana jimak dan eksekusinya.
“Sinta, tunggu apa lagi? Kamu jadi bini Rama dapat apa? Paling tinggal di rumah dinas, dan mobilnya Toyota Camry seken. Mending ikut gua, hiyaha ha ha….!” Kembali arwah Dasamuka berteriak seperti orang gila.
“Tolong Dasamuka, kamu jangan ganggu saya, plis deh!” lagi-lagi Dewi Sinta mohon dengan wajah ketakutan.
Prabu Rama Wijaya segera berunding dengan Patih Sugriwa dan Kapi Jembawan wayang paling senior di Pancawati. Hasil diskusi ditemukan kesimpulan, yang bisa mengobati Dewi Sinta hanya Resi Anoman di Kendalisada. Jika itu valid arwah Dasamuka, pastilah takut ketemu musuh lama di Ngalengka dulu, risang Ramandayapati, ya Anoman jagoan Prabu Rama.
Sebetulnya Resi Anoman sudah tak mau mikir duniawi. Tapi begitu yang datang ke Kendalisada paman sendiri, Patih Sugriwa, dia langsung berangkat ke keputren Istana Pancawati. Sebetulnya Resi Anoman juga heran. Seingatnya dulu arwah Dasamuka sudah dikunci di Gunung Somawana dekat Bandungan Ambarawa, kok bisa bisa lepas kembali, siapa yang membocorkan paswordnya?
“Kamu lagi, kamu lagi! Sudah mati saja masih jadi preman, kau.” Omel Anoman pada arwah Sukma Nglembara.
“Sampai kapan pun, aku masih menunggu Dewi Sinta kekasihku, hiya ha ha ha.” Ujar Sukma Nglembara sambil tertawa terbahak-bahak.
Anoman segera mbeker (teriak gaya kera). Suaranya menggelegar keras dengan kekuatan 135 desibel, memekakkan telinga. Sukma Nglembara pun kabur, lalu dikejar Anoman sampai kemudian kembali tempat tinggalnya di Gunung Sumawana. Agar tak kembali pergi, lobang arwah itu dicor pakai semen dicampur mortar ngabalin. Teorinya, arwah Sukma Nglembara takkan tembus cairan semen yang bersenyawa dengan mortar.
Tapi seminggu kemudian, arwah Sukma Nglembara telah kembali mengganggu Dewi Sinta. Kembali Anoman bertindak, dengan mengecor lobang Gunung Somawana pakai adukan beton 1-1, artinya, semen satu ember koral dan pasirnya juga satu ember. Tapi faktanya, 3 hari kemudian Sukma Nglembara telah membayang-bayangi Dewi Sinta lagi. Resi Anoman pun manengku puja (mohon petunjuk) ke dewa, apa solusinya.
“Gawat Prabu Rama. Bisa, tapi anggarannya mahal. Lobang itu baru bisa ditutup permanen tidak tembus arwah, asalkan pakai lem aibon seharga Rp 82 miliar.” Kata resi Anoman.
“Ya nggak papa, demi istri tercinta. Tapi kamu harus bikin MOU dulu, agar bila terjadi wanpretasi, aku bisa minta pertanggungjawabanmu.” Jawab Prabu Rama.
Lem aibon satu drum itu berhasil dibeli dari Pemprov DKI Jakarta, harganya tak bisa kurang, Rp 82 miliar. Itu tak seberapa, balpoin untuk penandatanganan MOU harganya lebih gila lagi, Rp 124 miliar. Tapi demi istri, semua barang bisa dibayar Prabu Rama dan diantar ke Pancawati pakai Gosend.
Setelah MOU Prabu Rama-Anoman diteken, Sukma Nglembara digiring masuk gunung Somawana lagi. Begitu berhasil masuk, lobang segera ditableg (ditutup) dengan lem aibon seharga Rp 82 miliar tersebut. Alhamdulillah wa syukurilah, Sukma Nglembara tak bisa keluar dari penjara abadinya. Dia hanya bisa ngomel, “Ih, curang lu, curang lu….!” (Ki Guna Watoncarita)


